JawaPos.com – Cicak dan tokek merupakan hewan yang cukup mudah ditemukan di lingkungan rumah.
Kemunculannya terkadang dianggap biasa, tetapi tidak sedikit pula orang yang merasa terganggu ketika hewan tersebut berkeliaran di dinding atau langit-langit rumah.
Dalam ajaran Islam, terdapat hadis yang membahas tentang anjuran membunuh cicak atau wazagh.
Bahkan, dalam salah satu riwayat disebutkan adanya keutamaan berupa pahala bagi orang yang membunuhnya pada pukulan pertama.
Bagi sebagian orang, ketentuan tersebut mungkin terdengar cukup keras.
Pertanyaan pun muncul: mengapa membunuh seekor hewan bisa mendapatkan pahala?
Bukankah Islam juga mengajarkan kasih sayang terhadap makhluk hidup?
Persoalan tersebut tidak cukup dijawab hanya dengan melihat satu sisi.
Ada konteks dan hikmah yang perlu dipahami, termasuk bagaimana Islam memandang keberadaan setiap makhluk yang diciptakan Allah SWT.
Dilansir dari Kaffah Channel, Rabu (2/9), berikut penjelasan lengkapnya.
Setiap Makhluk Memiliki Hikmah Penciptaan
Dalam penjelasan yang menjadi dasar pembahasan ini, setiap makhluk yang diciptakan Allah SWT tidak hadir tanpa tujuan.
Keberadaan makhluk dapat menjadi bagian dari ujian bagi manusia.
Ada hewan yang memberikan manfaat secara langsung, tetapi ada pula makhluk yang keberadaannya justru mengingatkan manusia terhadap sesuatu yang perlu dihindari atau dikendalikan.
Contohnya adalah lebah.
Lebah menghasilkan madu yang memiliki banyak manfaat bagi manusia.
Dalam hal ini, manusia dapat mengambil manfaat dari keberadaan lebah tersebut.
Bahkan, ketika seseorang memanfaatkan sesuatu dengan niat yang baik, aktivitas tersebut dapat bernilai kebaikan.
Namun, bukan berarti seluruh makhluk harus selalu memberikan manfaat secara langsung kepada manusia.
Ada pula makhluk yang keberadaannya menjadi pengingat mengenai kondisi lingkungan, kebersihan, maupun berbagai hal yang dapat memberikan mudarat apabila tidak dikendalikan.
Dalam konteks inilah keberadaan hewan seperti nyamuk, lalat, dan cicak kemudian dibahas.
Nyamuk dan Lalat Juga Disebut dalam Al-Qur'an
Al-Qur'an bahkan menyebut nyamuk dalam Surah Al-Baqarah ayat 26.
Ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah SWT tidak segan membuat perumpamaan dengan makhluk yang dianggap kecil oleh manusia.
Hal ini memberikan pelajaran bahwa ukuran dan penilaian manusia tidak selalu sama dengan hikmah penciptaan Allah SWT.
Makhluk yang tampak kecil dan sering dianggap mengganggu sekalipun tetap memiliki fungsi dalam kehidupan dan dapat menjadi sarana pembelajaran bagi manusia.
Nyamuk, misalnya, kerap dikaitkan dengan lingkungan yang kurang bersih dan juga dapat menjadi perantara penularan penyakit tertentu.
Namun, penting untuk memahami bahwa keberadaan nyamuk tidak semata-mata berarti Allah menciptakannya hanya untuk dibunuh.
Setiap makhluk memiliki ekosistem dan fungsi tersendiri dalam kehidupan.
Manusia kemudian memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan sesuatu yang membahayakan dirinya apabila memang terdapat alasan yang dibenarkan.
Hal yang sama menjadi salah satu cara untuk memahami pembahasan mengenai cicak.
Mengapa Ada Hadis tentang Membunuh Cicak?
Dalam hadis sahih, terdapat anjuran untuk membunuh wazagh, yang dalam konteks hadis tersebut umumnya diterjemahkan sebagai cicak atau tokek.
Salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Muslim menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk membunuh wazagh.
Dalam riwayat tersebut juga disebutkan keutamaan membunuhnya pada pukulan pertama.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa siapa yang membunuh wazagh dengan satu pukulan mendapatkan seratus kebaikan.
Hadis inilah yang kemudian sering menjadi bahan pertanyaan.
Mengapa ada pahala ketika seseorang membunuh seekor cicak?
Jawabannya tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa cicak adalah hewan yang buruk. Ada konteks syariat yang perlu diperhatikan.
Dalam Islam, ketika Nabi Muhammad SAW memberikan suatu petunjuk, seorang Muslim pada dasarnya diperintahkan untuk menghormati dan mengikuti petunjuk tersebut.
Dengan demikian, pembahasan mengenai pahala membunuh cicak juga berkaitan dengan kepatuhan terhadap petunjuk syariat.
Cicak Disebut sebagai Hewan yang Mengganggu
Dalam beberapa hadis, wazagh disebut sebagai bagian dari hewan yang memiliki sifat fuwaisiq, yang dapat dipahami sebagai hewan kecil yang mengganggu atau merusak.
Salah satu alasan yang disebutkan dalam hadis berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim AS.
Dalam riwayat yang masyhur, wazagh disebut meniup api yang membakar Nabi Ibrahim AS sehingga api tersebut semakin besar.
Kisah ini menjadi salah satu konteks yang disebutkan dalam pembahasan mengenai hewan tersebut.
Karena itu, anjuran membunuh wazagh tidak semata-mata berkaitan dengan penampilan atau warna tubuhnya.
Ada konteks yang berkaitan dengan petunjuk Nabi dan karakter hewan tersebut dalam hadis.
Namun, bukan berarti umat Islam diperbolehkan menyiksa hewan tersebut.
Justru sebaliknya, ketika membunuh hewan yang memang dianjurkan untuk dibunuh pun, manusia tetap tidak boleh melakukannya dengan cara yang kejam atau menyiksa.
Pahala Bukan Berarti Bebas Menyiksa
Bagian ini penting untuk dipahami.
Adanya pahala dalam membunuh cicak bukan berarti seseorang boleh menjadikan hewan tersebut sebagai objek penyiksaan.
Islam tetap mengajarkan manusia untuk berbuat baik kepada hewan.
Jika seekor hewan memang harus dibunuh berdasarkan ketentuan syariat atau karena membahayakan, maka cara yang dilakukan tetap harus menghindari penyiksaan yang tidak perlu.
Karena itu, istilah "pahala membunuh cicak" tidak seharusnya dimaknai sebagai ajakan untuk membunuh hewan dengan penuh kebencian.
Ada perbedaan antara menjalankan ketentuan agama dan melampiaskan kekerasan kepada hewan.
Prinsip tersebut juga berlaku pada hewan lain.
Ketika manusia harus membunuh hama atau hewan yang membahayakan, tindakan tersebut seharusnya dilakukan dengan alasan yang jelas dan cara yang tidak menyiksa.
Setiap Makhluk Bisa Menjadi Pelajaran
Penjelasan tersebut kemudian membawa kita kepada pemahaman yang lebih luas mengenai penciptaan makhluk.
Tidak semua hewan diciptakan untuk dimanfaatkan manusia secara langsung.
Ada makhluk yang keberadaannya menjadi ujian bagi manusia.
Ada yang memberikan manfaat, ada pula yang mengingatkan manusia mengenai bahaya yang harus dihindari.
Dalam perspektif ini, keberadaan hewan dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter manusia.
Al-Qur'an juga menggunakan berbagai jenis hewan sebagai perumpamaan.
Ada unta, lebah, semut, laba-laba, gajah, burung, hingga monyet yang disebut dalam konteks tertentu.
Setiap penyebutan tersebut memiliki pesan yang dapat dipelajari manusia.
Dengan kata lain, keberadaan hewan tidak berhenti pada persoalan apakah ia menguntungkan atau merugikan manusia.
Ada pelajaran yang lebih luas mengenai kehidupan, lingkungan, perilaku, dan bagaimana manusia menggunakan akalnya.
Islam Mengajarkan Manusia untuk Memahami Hikmah
Pada akhirnya, pembahasan tentang cicak bukan sekadar mengenai boleh atau tidaknya membunuh hewan.
Ada pelajaran mengenai bagaimana seorang Muslim memahami ajaran agama.
Ketika menemukan sebuah hadis yang tampak berbeda dengan pemahaman umum tentang kasih sayang terhadap hewan, seseorang tidak seharusnya langsung mengambil kesimpulan tanpa mempelajari konteksnya.
Islam mengajarkan kasih sayang, tetapi Islam juga memiliki aturan mengenai hewan tertentu yang boleh atau dianjurkan untuk dibunuh karena alasan tertentu.
Dua hal tersebut tidak harus dipertentangkan.
Kasih sayang terhadap hewan berarti tidak menyiksa dan memperlakukan makhluk hidup secara sewenang-wenang.
Sementara mengikuti ketentuan syariat berarti menjalankan sesuatu berdasarkan petunjuk agama.
Karena itu, hadis tentang cicak sebaiknya dipahami dalam konteks keseluruhan ajaran Islam, bukan dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan terhadap hewan.
Yang juga penting, istilah cicak dalam pembahasan sehari-hari perlu dibedakan dengan wazagh yang disebut dalam hadis.
Para ulama memiliki pembahasan tersendiri mengenai identifikasi hewan tersebut dan penerapan hukumnya.
Jangan Berhenti pada Angka Pahala
Membicarakan hadis tentang cicak sering kali membuat perhatian orang langsung tertuju pada angka pahala yang disebutkan.
Padahal, ada pelajaran yang jauh lebih penting.
Sebuah hadis tidak hanya perlu dibaca untuk mengetahui "berapa pahala" yang diperoleh, tetapi juga untuk memahami apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Kepatuhan terhadap syariat, memahami konteks, menghindari tindakan berlebihan, serta tetap menjaga adab terhadap makhluk hidup merupakan bagian penting dari pembahasan ini.
Dengan pemahaman tersebut, hadis mengenai cicak tidak perlu dilihat sebagai sesuatu yang bertentangan dengan nilai kasih sayang dalam Islam.
Sebaliknya, hadis tersebut dapat menjadi pintu untuk memahami bahwa syariat memiliki aturan tersendiri mengenai sejumlah makhluk, sementara manusia tetap dituntut untuk menjaga akhlak dalam memperlakukan hewan.
Pada akhirnya, cicak bukan sekadar hewan yang muncul di dinding rumah.
Keberadaannya juga dapat menjadi pengingat bahwa di balik setiap ciptaan Allah SWT terdapat hikmah yang tidak selalu langsung dapat dipahami manusia.
Tugas manusia adalah terus belajar, mencari penjelasan berdasarkan ilmu, dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan potongan informasi.