← Beranda
Makna Idul Adha dalam Islam: Tentang Pengorbanan, Keikhlasan, dan Ketaatan kepada Allah
Abdul RahmanRabu, 27 Mei 2026 | 01.53 WIB
Ilustrasi Idul Adha

 

JawaPos.com - Idul Adha merupakan salah satu hari besar umat Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah oleh umat Islam. Hari raya ini identik dengan ibadah kurban dimana umat Islam menyembelih hewan kurban sebagai bentuk kepatuhan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Dalam ajaran Islam, Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan. Lebih dari itu, momentum ini mengandung makna yang sangat dalam tentang pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Peristiwa Idul Adha berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang mendapat perintah dari Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail. Kisah tersebut menjadi simbol ujian keimanan yang sangat luar biasa dan terus dikenang oleh umat Islam hingga saat ini.

Baca Juga: Niat Sholat Idul Adha Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya untuk Imam dan Makmum

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Nabi Ibrahim dikenal sebagai sosok Nabi yang memiliki keteguhan iman sangat kuat. Ketika Allah memerintahkannya untuk mengorbankan sang putra tercinta, Nabi Ismail, beliau tidak membantah ataupun ragu.

Karena ketaatan yang mutlak, keteguhan tauhid, dan keikhlasannya dalam menjalankan perintah Allah, termasuk saat diuji untuk mengorbankan putranya, Nani Ibrahim mendapatkan gelar tertinggi yaitu Khalilullah.

Sementara itu, Nabi Ismail juga menunjukkan ketaatan yang luar biasa dalam menjalankan perintah Allah. Ia menerima perintah untuk disembelih dengan penuh keikhlasan kendati harus mengorbankan nyawanya sendiri.

Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shaffat ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Latin: Fa lammâ balagha ma‘ahus-sa‘ya qâla yâ bunayya innî arâ fil-manâmi annî adzbaḫuka fandhur mâdzâ tarâ, qâla yâ abatif‘al mâ tu'maru satajidunî in syâ'allâhu minash-shâbirîn.

Artinya: Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Pada akhirnya, Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan sebagai bentuk rahmat dan kasih sayang-Nya. Dari peristiwa tersebut, lahir syariat tentang kurban yang dijalankan umat Islam setiap Idul Adha.

Makna Pengorbanan dalam Idul Adha

Idul Adha mengajarkan bahwa setiap manusia harus siap berkorban demi menjalankan perintah Allah SWT. Pengorbanan tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga waktu, tenaga, hingga kepentingan pribadi.

Dalam kehidupan sehari-hari, makna pengorbanan bisa diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, membantu orang yang membutuhkan, atau mendahulukan nilai-nilai kebaikan dibanding hawa nafsu pribadi.

Ibadah kurban juga menjadi simbol bahwa harta yang dimiliki sejatinya hanyalah titipan dari Allah. Dengan berbagi daging kurban kepada masyarakat, umat Islam diajarkan untuk menumbuhkan rasa empati dan solidaritas sosial.

Keikhlasan sebagai Inti Ibadah

Selain pengorbanan, Idul Adha juga menanamkan nilai tentang keikhlasan. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjalankan perintah Allah SWT tanpa mengharapkan balasan duniawi apa pun.

Keikhlasan menjadi kunci diterimanya setiap amal ibadah. Allah SWT menilai ketakwaan dan ketulusan hati seorang hamba, bukan semata-mata bentuk lahiriahnya. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.

Ayat tersebut menegaskan bahwa inti ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan membangun ketakwaan dan keikhlasan kepada Allah.

Ketaatan kepada Allah

Makna penting lain dari Idul Adha adalah ketaatan total kepada Allah. Nabi Ibrahim memberikan contoh bahwa seorang mukmin harus mendahulukan perintah Allah di atas segala hal.

Ketaatan dalam Islam bukan hanya diwujudkan melalui ibadah ritual, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari seperti menjaga kejujuran, menolong sesama, menjauhi perbuatan maksiat, dll.

Baca Juga: Niat Kurban untuk Diri Sendiri di Momen Lebaran Idul Adha 2026

EDITOR: Abdul Rahman