JawaPos.com – Gorontalo sebagai daerah yang kaya dengan adat dan budaya memiliki tradisi tahunan yang meriah, yakni tradisi Walima.
Walima adalah perayaan yang biasanya dilakukan di masjid untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul Awal.
Di Gorontalo, diperkirakan tradisi Walima sudah ada sejak abad ke-17 saat masuknya agama islam ke daerah ini.
Dilansir dari berita.gorontaloprov.go.id, tradisi Walima diawali dengan Dikili atau tradisi zikir di masjid At – Takwa yang berada di desa Bongo. Setelah itu, lantutan Dikili dilakukan di masjid – masjid di seluruh pelosok Gorontalo.
Dikili
Dikili merupakan tradisi sastra di Gorontalo yang merupakan bagian dari perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Lantunan dzikir atau Dikili berisi doa dan puja puji kepada para Baginda Nabi, lantunan tersebut berisi penjelasan kisah kelahiran hingga wafatnya Nabi.
Uniknya, naskah Dikili ditulis menggunakan bahasa Arab Pegon, tanpa baris bunyi (harakat), namun berbahasa Gorontalo. Dilansir dari gorontalo.antaranews.com, dikili dilantunkan sejak malam hingga pagi menggunakan dua bahasa yakni Arab dan Gorontalo.
Bagi Sebagian masyarakat Gorontalo, naskah Dikili cukup sulit untuk ditelaah. Itulah sebabnya dikili dilantunkan oleh orang tua yang paham akan ilmu agama.
Baca Juga: 4 Destinasi Wisata Religi Gorontalo yang Sarat Nilai Spiritual, Cocok untuk Liburan Sekaligus Ziarah
Tolangga
Sementara perayaan berlangsung di Masjid, warga di rumah menyiapkan walima di tempat yang disebut Tolangga. Tolangga merupakan tempat untuk kue – kue tradisional ditata. Biasanya terbuat dari bilah kayu yang dibentuk menara, masjid, atau perahu.
Kue tradisional seperti kolombengi, sukade, dan wapili diisi dalam plastic dan disusun menyesuaikan bentuk Tolangga. Bentuk Tolangga umumnya menggambarkan pola kehidupan masyarakat di wilayahnya.
Dilansir dari berita.gorontaloprov.go.id, seiring dengan perkembangan zaman, tradisi Walima mengalami transformsi dalam hiasan Tolangga. Beberapa hiasan ditambah dengan kopi saset, makanan ringan, mie instan, dan sebagainya.
Di dalam Tolangga, terdapat toyopo. Toyopo berbentuk Loyang bulat yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Biasanya berisi nasi kuning, ikan masak, dan kue basah lainnya.
Tolangga yang sudah disiapkan kemudian diarak dari rumah warga menuju masjid, tempat prosesi dikili berlangsung. Lantunan doa dan puji – pujian dilafalkan saat pengarakan Tolangga berlangsung. Tolangga disebut sebagai bentuk Syukur atas lahirnya Nabi Muhammad SAW, 14 abad silam.
Usai perayaan selesai, makanan yang ada dalam Tolangga dibagikan kepada para pelantun dikili atau dzikir. Selain itu, biasanya akan dibagikan kepada masyarakat atau tamu yang hadir.
Desa Bongo sebagai Desa Wisata Religi
Bagi anda yang ingin melihat kemeriahan tradisi Walima, anda bisa berkunjung langsung ke desa Bongo di Kabupaten Gorontalo.
Dilansir dari berita.gorontaloprov.go.id, Desa ini terpilih sebagai salah satu dari 50 desa wisata terbaik ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Di desa tersebut ada pesantren alam sebagai tempat untuk mempelajari agama Islam.
Selain itu, di kawasan ini juga ada Masjid Walima Emas Bubohu. Desa Bongo beberapa tahun terakhir menjadi ikon dari pelaksanaan tradisi Walima dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pelaksanaan tradisi Walima di desa ini berlangsung meriah. Hal ini ditandai dengan banyaknya Tolangga yang jumlahnya hingga ratusan. Tolangga tersebut dimanfaatkan pengunjung untuk berswafoto.