JawaPos.com - Pemerintah Negara Bagian Johor, Malaysia, memperpanjang penutupan institusi pendidikan selama lima hari, mulai 19 hingga 23 Oktober 2026, akibat kabut asap yang masih menyelimuti wilayah tersebut.
Keputusan ini diambil karena kualitas udara belum menunjukkan perbaikan signifikan dan paparan polusi dikhawatirkan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak.
Ketua Komite Pendidikan dan Informasi Negara Bagian Johor, Dr Muhammad Naqib Md Ghazali, mengatakan keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi penanganan kabut asap tingkat negara bagian pada Minggu (18/10).
Baca Juga: Ramalan Asmara Zodiak Capricorn Minggu, 18 Oktober 2026: Hangatkan Hubungan dengan Perhatian Kecil
Kebijakan itu juga sejalan dengan arahan Pemangku Sultan Johor, Tunku Mahkota Ismail Sultan Ibrahim, yang menempatkan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas.
“Laporan pemantauan menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada kualitas udara. Pergerakan angin ke arah utara dan prakiraan cuaca untuk tiga hingga empat hari ke depan juga telah menjadi pertimbangan,” kata Muhammad Naqib mengutip New Strait Times.
Selain kondisi udara, pemerintah Johor mempertimbangkan laporan otoritas kesehatan mengenai risiko paparan polusi dalam jangka panjang. Anak-anak dan kelompok rentan menjadi perhatian khusus karena lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang buruk.
Lebih dari 30.000 Kasus Gangguan Pernapasan Tercatat
Perpanjangan penutupan sekolah dilakukan di tengah meningkatnya kasus gangguan kesehatan yang berkaitan dengan pernapasan. Muhammad Naqib menyebut sebanyak 30.648 kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas atau *upper respiratory tract infection* (URTI) tercatat sepanjang Oktober ini.
Jumlah kasus mingguan juga meningkat 20,7 persen. Angka tersebut menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk memperpanjang penghentian kegiatan belajar secara langsung.
Pemerintah Johor belum memastikan apakah penutupan akan kembali diperpanjang setelah 23 Oktober. Keputusan selanjutnya akan bergantung pada perkembangan kualitas udara, prakiraan cuaca, serta penilaian terbaru dari otoritas kesehatan.
Dengan demikian, periode penutupan lima hari tersebut masih dapat dievaluasi apabila kondisi lingkungan berubah.
Pembelajaran Jarak Jauh Tetap Berlangsung
Selama sekolah ditutup, kegiatan belajar mengajar dari rumah tetap dilanjutkan. Pemerintah Johor juga menyiapkan pedoman pelaksanaan harian melalui Departemen Pendidikan Johor sesuai ketentuan Kementerian Pendidikan Malaysia.
Pengecualian terbatas dapat diberikan kepada siswa yang harus mengikuti ujian atau penilaian tertentu. Pelaksanaannya akan dikoordinasikan oleh Departemen Pendidikan Johor dengan menerapkan prosedur kesehatan yang ketat.
Siswa yang mengikuti ujian atau penilaian tersebut diwajibkan menggunakan masker. Kegiatan tambahan di luar kebutuhan ujian juga tidak diperbolehkan.
Departemen Pendidikan Johor turut berkoordinasi dengan Lembaga Peperiksaan Malaysia untuk menyelaraskan pelaksanaan ujian dan penilaian antara sekolah di bawah Kementerian Pendidikan Malaysia dan sekolah agama Johor.
Sementara itu, institusi pendidikan swasta dan pusat penitipan anak dapat menentukan apakah akan tetap beroperasi atau tutup. Namun, jika beroperasi, kegiatan harus berlangsung di dalam ruangan dan penggunaan masker diwajibkan.
Informasi terbaru mengenai kebijakan tersebut akan diumumkan melalui kanal resmi Departemen Pendidikan Johor agar sekolah, orang tua, dan wali murid dapat menyesuaikan aktivitas mereka.
Seperti diketahui, kondisi berkabut akibat polusi udara telah melanda sejumlah wilayah Malaysia sejak awal Agustus. Kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia disebut menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut.
Kabut asap lintas batas dapat terbawa angin dari wilayah sumber kebakaran menuju negara tetangga. Dampaknya terhadap kualitas udara bergantung pada intensitas kebakaran, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer.
Bagi masyarakat, paparan partikel polusi dapat memicu iritasi mata dan saluran pernapasan serta memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru-paru. Anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit pernapasan termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
Muhammad Naqib mengakui perpanjangan penutupan sekolah akan memengaruhi rutinitas belajar siswa dan guru, pengelolaan institusi pendidikan, hingga aktivitas harian orang tua.
Meski demikian, pemerintah menilai perlindungan kesehatan tetap harus menjadi pertimbangan utama selama kualitas udara belum membaik.
“Namun, keselamatan dan kesehatan siswa harus tetap menjadi prioritas, sembari memastikan kebutuhan pendidikan terpenuhi melalui pendekatan yang sesuai,” ujarnya.