JawaPos.com - Pendiri Amazon Jeff Bezos memperkirakan kecerdasan buatan (AI) dapat mengubah pola kerja dan struktur pendapatan keluarga, termasuk memungkinkan sebagian orang bekerja hanya tiga hari seminggu tanpa mengurangi kemampuan mereka membiayai rumah tangga.
Menurut Bezos, produktivitas berkat AI dapat membuat perusahaan kesulitan merekrut pekerja karena orang tak lagi perlu bekerja berjam-jam untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Dalam wawancara dengan Fox News, Bezos menggambarkan masa depan ketika produktivitas ekonomi memungkinkan seseorang menopang keluarganya dengan waktu kerja lebih singkat.
"Sebagian orang akan memutuskan, 'Saya bisa menafkahi keluarga dengan bekerja tiga hari seminggu.' Itulah makna produktivitas dalam perekonomian," kata Bezos, dilansir dari Fortune, Senin (12/10/2026).
Bezos juga memperkirakan peningkatan kemakmuran dapat mengubah pola rumah tangga yang selama ini bergantung pada dua pencari nafkah. "Keluarga tidak akan lagi membutuhkan dua orang yang sama-sama berpenghasilan. Jika menginginkannya, silakan. Namun, jika tidak, salah satu dari mereka bisa berhenti bekerja," ujarnya.
Baca Juga: Tim Cook Perluas Bisnis Apple di Tiongkok saat Permintaan iPhone Baru Mulai Dipertanyakan
Menurut Bezos, kondisi itu berpotensi membuat perusahaan kesulitan mendapatkan tenaga kerja. "Akan sulit merekrut orang karena produktivitas ekonomi memungkinkan mereka tidak perlu bekerja di dua pekerjaan jika memang tidak menginginkannya."
Namun, perkiraan Bezos tersebut merupakan proyeksi mengenai kemungkinan masa depan, bukan kepastian bahwa peningkatan produktivitas akan otomatis membuat jam kerja berkurang atau kebutuhan rumah tangga terpenuhi dengan satu penghasilan.
Di sisi lain, Bezos mengakui bahwa ledakan investasi AI membawa ketidakpastian bagi investor. Ketika ditanya apakah lonjakan investasi tersebut merupakan gelembung ekonomi, dia menjawab bahwa hal itu "sulit diketahui". "Yang saya ketahui, teknologinya nyata. Saya pikir ini hal yang baik bagi masyarakat," katanya.
Meski optimistis terhadap manfaat AI, Bezos memperingatkan bahwa derasnya pendanaan membuat investor sulit membedakan perusahaan yang memiliki prospek baik dari perusahaan yang tidak akan berhasil.
"Ini situasi yang rumit bagi investor. Setiap eksperimen mendapatkan pendanaan, baik gagasan yang bagus maupun yang buruk. Dalam persaingan yang berlangsung saat ini, sulit bagi investor membedakan keduanya," ujarnya.
Optimisme itu juga tercermin dalam strategi Amazon, perusahaan yang didirikan Bezos di garasinya pada 1995. Amazon berencana mengalokasikan lebih dari USD 200 miliar atau sekitar Rp3.580 triliun, dengan kurs Rp17.900 per dolar AS, untuk belanja modal pada 2026, terutama bagi pembangunan pusat data.
Namun, perusahaan itu juga telah memangkas sekitar 30.000 posisi korporat sejak akhir 2025. Kontras ini memperlihatkan bahwa peningkatan produktivitas dan restrukturisasi perusahaan dapat berlangsung bersamaan, sementara dampaknya terhadap pekerja tetap menjadi persoalan.
Bezos turut memiliki kepentingan dalam perkembangan AI melalui Blue Origin, perusahaan eksplorasi antariksa yang dipimpinnya. Perusahaan itu memiliki ambisi membangun pusat data di luar angkasa dan memperluas aktivitas manusia ke Bulan.
Baca Juga: Amazon Amankan Listrik Nuklir 20 Tahun untuk Pacu Infrastruktur AI
Putaran pendanaan terbaru Blue Origin dilaporkan menghimpun USD 10 miliar atau sekitar Rp179 triliun, dengan valuasi perusahaan mencapai USD 140 miliar atau sekitar Rp2.506 triliun. Perkembangan itu ikut mendorong kekayaan Bezos menjadi sekitar USD 365 miliar atau Rp6.533,5 triliun, menurut laporan Fortune.
Bezos sebenarnya bukan satu-satunya pemimpin bisnis yang memperkirakan AI akan memperpendek pekan kerja. CEO Nvidia Jensen Huang memperkirakan teknologi itu kemungkinan mendorong penerapan empat hari kerja dalam seminggu.
CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon membayangkan pekerja pada masa mendatang cukup bekerja tiga setengah hari seminggu, sedangkan pendiri Microsoft Bill Gates pernah mengemukakan kemungkinan pekan kerja dua hari.
Elon Musk bahkan memproyeksikan perubahan yang lebih jauh melalui kombinasi AI dan robotika. Pendiri SpaceX itu memperkirakan masyarakat dapat memasuki era "pendapatan tinggi secara universal", ketika kelimpahan barang dan jasa membuat uang tidak lagi sepenting sekarang.
Pada akhir 2025, Musk mengatakan, "Dalam waktu kurang dari 20 tahun, bahkan mungkin hanya 10 atau 15 tahun, kemajuan AI dan robotika akan membawa kita ke titik ketika bekerja menjadi pilihan."
Berbagai proyeksi tersebut memperlihatkan bahwa para pemimpin teknologi mulai membayangkan perubahan mendasar dalam cara manusia bekerja. Namun, besarnya peningkatan produktivitas belum dengan sendirinya menjamin bahwa manfaatnya akan dinikmati pekerja dalam bentuk jam kerja lebih pendek.
Bagi Bezos, AI berpotensi mengurangi kebutuhan bekerja; tantangan berikutnya ialah bagaimana perubahan itu memengaruhi perekrutan, pendapatan keluarga, dan pembagian manfaat ekonomi.