JawaPos.com - Pemerintah Estonia tengah mempertimbangkan kebijakan baru tentang penerapan wajib militer (wamil). Pemerintah negara pecahan Uni Sovyet itu berencana memberlakukan aturan wamil bagi Perempuan.
Direktur Jenderal Badan Sumber Daya Pertahanan Estonia Anu Rannaveski seperti dikutip oleh lembaga penyiaran Estonia ERR dan Antara menyatakan keputusan wamil buat kaum hawa belum pasti. Pemerintah Estonia akan mempertimbangkannya dari segala aspek.
“Wamil bagi perempuan ini diambil disebabknya terus menurunnya tingkat kelahiran di negara ini,” tulis ERR. Menurut laporan yang dirilis pada Rabu (7/10), jumlah peserta wajib militer di Estonia ditargetkan mencapai 4.100 orang mulai tahun depan.
Namun, seiring dengan tren penurunan angka kelahiran, target rekrutmen wajib militer untuk periode 2035-2040 diproyeksikan akan sulit tercapai. Apalagi jika pemerintah hanya mendaftarkan para pemuda.
Untuk mengatasi persoalan itu, laporan tersebut mencatat perlunya pemberlakuan regulasi yang lebih ketat serta pengembangan sistem yang efektif untuk mewajibkan perempuan mengikuti wajib militer.
Dalam merancang kebijakan itu, Estonia berencana untuk mempelajari pengalaman dari negara-negara Eropa lainnya yang telah lebih dulu menerapkan sistem wamil perempuan. Seperti Norwegia, Swedia, dan Denmark.
Sejak 2013, rata-rata terdapat sekitar 50 perempuan yang secara sukarela mendaftarkan diri untuk mengikuti wajib militer di Estonia setiap tahunnya. Angka tersebut mewakili sekitar 1 hingga 2 persen dari total keseluruhan peserta wajib militer di negara Baltik tersebut.