JawaPos.com - Presiden Tiongkok Xi Jinping mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menentang “kemerdekaan Taiwan” dan menangani persoalan pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut dengan hati-hati. Desakan itu disampaikan Xi kepada Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan di Gedung Putih, Kamis.
Dilansir dari Kyodo, Jumat (25/9), menurut Kementerian Luar Negeri Tiongkok, seruan Xi menunjukkan meningkatnya tekanan Beijing kepada Washington terkait Taiwan. AS selama ini menyatakan tidak mendukung “kemerdekaan” Taiwan.
Tiongkok mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan berupaya mewujudkan penyatuan dengan daratan Tiongkok, termasuk tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan jika diperlukan.
Xi yang sedang menjalani kunjungan kenegaraan selama tiga hari di AS juga menyerukan kerja sama Tiongkok dan AS dalam bidang kecerdasan buatan (AI).
Menurut Xi, kedua negara harus “memanfaatkan keunggulan masing-masing, bukan saling mewaspadai” serta bekerja sama mencegah penyalahgunaan teknologi AI.
Xi menambahkan bahwa kedua negara perlu mempertahankan kendali manusia atas teknologi AI dan memastikan teknologi tersebut digunakan untuk kemajuan manusia, menurut Kementerian Luar Negeri Tiongkok.
Dorong Persaingan Sehat
Xi juga merujuk pada kesepakatan yang dicapainya bersama Trump dalam pertemuan sebelumnya di Beijing pada Mei untuk membangun “hubungan konstruktif dengan stabilitas strategis”.
Menurut Xi, dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia perlu menjalankan “persaingan yang sehat” untuk mengelola perbedaan dengan mencari lebih banyak titik temu.
Dalam pidatonya pada jamuan makan malam kenegaraan pada hari yang sama, Xi mengatakan dirinya dan Trump mencapai kesamaan pemahaman mengenai berbagai isu dalam pembicaraan mereka. Menurut Xi, hal tersebut memberikan “panduan strategis baru” bagi hubungan bilateral.
Xi juga menyoroti hubungan Tiongkok dan AS pada masa perang. Dia mengatakan kedua negara “berdiri bahu-membahu dalam perjuangan melawan agresor militer Jepang”.
“Persahabatan yang ditempa dalam darah dan api tersebut pasti akan terus hidup dari generasi ke generasi,” ujar Xi.
Sebelumnya, dalam upacara penyambutan Xi, Trump menyebut kedua negara sebagai “sekutu dalam Perang Dunia II”. Trump mengatakan pilot-pilot Amerika yang pemberani secara sukarela datang ke Tiongkok untuk berperang demi kelangsungan hidup negara tersebut.
Namun, sejarah hubungan kedua negara pada masa perang memiliki konteks yang lebih kompleks. Partai Komunis Tiongkok belum mendirikan Republik Rakyat Tiongkok ketika Perang Dunia II berlangsung.
Saat itu, Republik Tiongkok yang dipimpin pasukan Nasionalis Chiang Kai-shek menjadi pihak yang berperang bersama AS sebagai sekutu melawan Jepang.
Pada 1949, Mao Zedong mendeklarasikan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok setelah mengalahkan pasukan Nasionalis yang kemudian mundur ke Taiwan.
Perkuat Komunikasi Militer
Dalam upacara penyambutan tersebut, Xi mengatakan Beijing terbuka terhadap investasi AS dan berharap perusahaan-perusahaan Tiongkok mendapatkan perlakuan yang adil di Amerika Serikat.
Xi juga meminta militer kedua negara mempertahankan dialog secara rutin serta meningkatkan mekanisme komunikasi dan pencegahan krisis.
Untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat, Xi mengatakan kedua negara dapat meningkatkan penerbangan langsung.
Tiongkok juga akan mengundang 100.000 anak muda Amerika untuk datang ke negara tersebut guna belajar selama lima tahun ke depan.
Xi turut mengumumkan bahwa dua panda raksasa dari Tiongkok akan tiba di Zoo Atlanta dalam beberapa hari. Dia menyebut panda tersebut sebagai “utusan persahabatan”.
Dalam pertemuan tingkat tinggi tersebut, Trump dan Xi juga membahas situasi di Timur Tengah dan Semenanjung Korea.
Menurut kantor berita resmi Xinhua, Xi mendesak AS dan Iran untuk sesegera mungkin kembali ke jalur penyelesaian persoalan melalui perundingan.