JawaPos.com - Rencana pajak kekayaan miliarder California mulai memperlihatkan dampak yang lebih luas daripada sekadar potensi tagihan bagi orang-orang terkaya yang yang bermukim di negara bagian tersebut. Larry Page, Sergey Brin, dan Peter Thiel telah memutus hubungan residensi dengan California sebelum batas waktu yang ditetapkan, sementara CEO NVIDIA Jensen Huang justru menyatakan siap membayar hingga USD 8 miliar atau sekitar Rp142,72 triliun dengan kurs Rp17.840 per dolar AS.
Perbedaan sikap itu terjadi ketika California bersiap menggelar pemungutan suara pada 3 November 2026 atas Initiative Number 25-0024. Jika disetujui, aturan tersebut mengenakan cukai satu kali sebesar 5 persen atas kekayaan di atas USD 1 miliar, dengan status residensi ditentukan pada 1 Januari 2026.
Nilai kekayaan para miliarder yang menjadi sasaran pajak akan ditetapkan berdasarkan kondisi pada akhir 2026, sedangkan kewajiban pembayarannya dimulai pada 2027 dan dapat dicicil selama lima tahun. Sekitar 200 hingga 250 orang dengan total kekayaan hampir USD 1 triliun diperkirakan masuk dalam cakupan aturan tersebut.
Dilansir dari 24/7 Wall St, Kamis (24/9/2026), sedikitnya enam miliarder telah meninggalkan California sebelum tanggal acuan, yakni Page, Brin, Thiel, Don Hankey, Travis Kalanick, dan Steven Spielberg. Bloomberg juga melaporkan perpindahan tersebut, meski status residensi pajak masing-masing masih dapat diperiksa otoritas karena aturan kehadiran fisik California tetap berlaku.
Page membeli dua rumah tepi laut di Coconut Grove, Miami, senilai total USD 173 juta atau sekitar Rp3,09 triliun. Dia juga mengubah badan hukum kantor keluarganya, Koop, dari California menjadi korporasi Delaware dengan alamat Florida.
Sementara itu, Brin membeli rumah tepi laut seharga 51 juta dolar AS atau sekitar Rp909,84 miliar di Allison Island, Miami, dan mencantumkan Nevada sebagai domisilinya. Dia turut mendirikan PAC Building a Better California yang menurut Fortune telah mengumpulkan lebih dari USD 100 juta atau sekitar Rp1,78 triliun pada Agustus.
Brin juga menyampaikan alasannya secara tegas kepada The New York Times: "Saya melarikan diri dari sosialisme bersama keluarga saya pada 1979 dan mengetahui betapa menghancurkan serta menindasnya masyarakat yang diciptakan sistem tersebut di Uni Soviet." Sementara itu, Thiel memindahkan operasional perusahaan investasinya dari California ke Miami pada akhir Desember 2025.
Namun sebaliknya, Huang memilih tetap berada di California. Dalam wawancara dengan CBS News, dia mengatakan, "Fakta bahwa saya mampu membayar pajak sebesar USD 8 miliar selama lima tahun adalah sebuah keistimewaan. Saya merasa itu sebuah keistimewaan. Itu adalah tanggung jawab." Dia kemudian menambahkan, "Saya tidak takut membayar pajak. Saya hanya takut menjadi miskin."
Besaran kewajiban Huang juga tidak bersifat tetap karena nilainya bergantung pada harga saham NVIDIA. Kekayaannya diperkirakan sekitar USD 184 miliar atau Rp3.282,56 triliun, sedangkan angka USD 8 miliar merupakan estimasi yang dapat berubah mengikuti pergerakan saham perusahaan. Dengan demikian, nilai tersebut belum merupakan tagihan final karena pajaknya sendiri masih berupa usulan yang harus disetujui pemilih.
Di sisi lain, perhitungan ekonomi menunjukkan konsekuensi dari perpindahan tersebut. Analisis Hoover Institution menemukan hampir 30 persen basis pajak yang ditargetkan telah meninggalkan California sebelum inisiatif masuk ke surat suara. Kekayaan yang ikut keluar diperkirakan mencapai USD 536 miliar atau sekitar Rp9.562,24 triliun, sehingga proyeksi penerimaan satu kali turun dari USD 100 miliar menjadi sekitar USD 40 miliar.
Untuk Page dan Brin saja, California diperkirakan kehilangan potensi penerimaan pajak sebesar USD 26,7 miliar atau sekitar Rp476,45 triliun. Studi Hoover Institution yang dikutip 24/7 Wall St juga memperkirakan bahwa setelah memperhitungkan potensi hilangnya penerimaan pajak penghasilan pada masa mendatang, dampak fiskal bersihnya mencapai minus USD 24,7 miliar atau sekitar Rp440,65 triliun.
Kasus lain menunjukkan besarnya potensi tagihan yang dapat muncul dari aturan tersebut. Pendiri DoorDash Tony Xu menguasai 57,6 persen hak suara perusahaan, tetapi hanya memiliki 2,6 persen ekuitas. Perhitungan yang dikutip 24/7 Wall St menghasilkan potensi kewajiban pajak USD 2,62 miliar atau sekitar Rp46,74 triliun, lebih besar daripada nilai saham yang dimilikinya.
Pendukung pajak berpendapat miliarder California saat ini membayar pajak penghasilan negara bagian yang setara sekitar 0,2 persen dari total kekayaan, sementara Gubernur Gavin Newsom menentang usulan tersebut. Untuk itu, pemungutan suara pada November nanti tidak hanya menentukan nasib pajak satu kali itu, tetapi juga menjadi ujian bagi kemampuan California mempertahankan kekayaan miliarder yang menjadi bagian penting dari ekonomi teknologinya.