← Beranda
Pezeshkian Tantang Donald Trump di PBB, Delegasi AS Walk Out
Rian Alfianto• Kamis, 24 September 2026 | 16.58 WIB
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menunjukkan foto Ayatollah Ali Khamenei di mimbar sidang umum PBB. (AP Photos via Euronews).
 

 

JawaPos.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan Amerika Serikat dan Israel, tetapi tetap membuka pintu untuk dialog.

Sikap itu disampaikan dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan 'melenyapkan' Republik Islam Iran.

Pidato Pezeshkian di mimbar sidang PBB bahkan membuat delegasi AS walk out atau keluar meninggalkan acara tersebut.

Selain itu, pernyataan Pezeshkian menjadi sorotan karena untuk pertama kalinya pemimpin negara yang sedang berperang dengan Amerika Serikat berbicara di hadapan forum dunia tersebut.

Ia menyampaikan pidato dengan nada tegas, sembari menegaskan bahwa Iran masih mempertimbangkan jalur diplomasi.

"Amerika dan Israel menyerang kami, dilengkapi dengan teknologi dan sistem senjata terbaru, dan rakyat kami berdiri teguh," kata Pezeshkian mengutip NBC News.

"Ya, mereka memang memukul kami, tapi kami tidak menekuk lutut, kami tidak menundukkan kepala," tegas Pezeshkian.

Pezeshkian mengatakan Iran siap berdialog dan bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Namun, pembicaraan tersebut menurutnya harus berlangsung tanpa ancaman ataupun penggunaan kekuatan.

"Iran harus dipahami oleh Trump dan mereka yang berusaha menggertak kami bahwa kami siap untuk berdialog dan berdiplomasi serta bernegosiasi tanpa menerima bahasa kekuatan," katanya.

Sikap itu muncul setelah pejabat Amerika Serikat dan Iran melakukan pembicaraan tidak langsung dengan Qatar sebagai perantara.

Dalam pertemuan tersebut, utusan AS Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, menyampaikan pertanyaan kepada pejabat Iran melalui diplomat Qatar.

Jawaban dari pihak Iran kemudian disampaikan kembali kepada delegasi Amerika melalui jalur yang sama.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan komunikasi tersebut belum bisa disebut sebagai terobosan besar.

"Saya tidak ingin salah mengartikan ini sebagai terobosan besar, tetapi pada saat yang sama saya pikir penting bahwa setidaknya ada percakapan," kata Rubio.

Artinya, meski perang dan ancaman militer masih menjadi latar utama hubungan kedua negara, saluran komunikasi antara Washington dan Teheran belum sepenuhnya tertutup.

Selain itu, dalam pidatonya, Pezeshkian juga menegaskan Iran tidak akan membatasi program nuklirnya yang selama ini disebut digunakan untuk kepentingan sipil.

"Kami mengatakannya dengan jelas: tidak ada senjata nuklir dan tidak ada batasan untuk teknologi nuklir damai baru," katanya.

Iran selama bertahun-tahun menyatakan tidak mengejar senjata nuklir. Sementara itu, Trump berulang kali mengatakan tujuan serangan terhadap Iran adalah mencegah negara tersebut mengembangkan senjata nuklir.

Bagi Teheran, program nuklir untuk tujuan damai merupakan hak yang tetap ingin dipertahankan. Karena itu, kesediaan berunding tidak berarti Iran bersedia menerima pembatasan terhadap seluruh pengembangan teknologi nuklirnya.

Pezeshkian juga menggunakan pidatonya untuk menyoroti korban sipil akibat perang. Ia mengangkat foto anak-anak yang tewas setelah sebuah amunisi Amerika Serikat diduga menghantam sekolah dasar di Minab, Iran selatan.

Militer AS belum secara langsung mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, para ahli yang ditugaskan oleh badan hak asasi manusia tertinggi PBB menyatakan memiliki 'reasonable grounds' untuk meyakini bahwa Amerika Serikat melakukan kejahatan perang dalam serangan tersebut.

Media pemerintah Iran menyebut serangan itu menewaskan 168 orang, yang sebagian besar merupakan anak-anak.

Ketika Pezeshkian menyinggung korban sipil tersebut, seorang perwakilan AS di PBB meninggalkan ruangan. Sejumlah kursi juga terlihat kosong selama pidatonya.

Baca Juga: Presiden Iran Tegaskan Lawan Agresor hingga Mereka Menyesal

Pezeshkian kemudian menunjukkan foto Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang tewas setelah kompleksnya di Teheran menjadi sasaran serangan militer Israel pada 28 Februari.

Dalam serangan itu, anggota keluarga Khamenei dan sejumlah pejabat senior Iran juga disebut tewas.

EDITOR: Kuswandi