JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) dan Iran akhirnya kembali melakukan pembicaraan langsung di New York dalam pertemuan pertama pejabat kedua negara sejak pertengahan Juni.
Melansir Axios, pertemuan berlangsung sekitar tiga jam di sela-sela Sidang Umum PBB dan membahas kemungkinan membuka kembali jalan menuju kesepakatan di tengah perang yang hampir memasuki bulan ketujuh.
Dari pihak AS, utusan Presiden Donald Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, terlibat dalam pembicaraan. Sementara Iran diwakili Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Trump mengatakan pertemuan tersebut berlangsung produktif dan melihat adanya momentum untuk mencapai kesepakatan dengan Iran.
"Steve dan Jared mengadakan pertemuan yang sangat produktif hari ini dengan para mediator Iran," kata Trump setelah pertemuan, sebelum bertemu para pemimpin negara-negara Arab.
"Saya pikir ada banyak momentum bagi mereka untuk membuat kesepakatan. Itulah yang kami dengar dari semua orang," lanjut Trump.
Pertemuan ini menjadi perkembangan penting karena komunikasi langsung antara kedua pihak sebelumnya terhenti sejak pertengahan Juni. Sidang Umum PBB di New York kini menjadi ruang baru bagi kedua negara untuk mencoba keluar dari kebuntuan yang berlangsung berbulan-bulan.
Iran Sampaikan Syarat Pembukaan Selat Hormuz
Televisi pemerintah Iran menyebut pertemuan tersebut digelar atas permintaan AS. Salah satu hal yang dibawa delegasi Iran adalah persyaratan untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Iran mensyaratkan pencabutan blokade laut, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta penghentian perang di seluruh front.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan Selat Hormuz tidak berdiri sendiri dalam pembicaraan. Bagi Iran, pembukaan kembali jalur tersebut berkaitan dengan tuntutan yang lebih luas mengenai tekanan militer dan ekonomi yang dihadapi negara tersebut.
Di sisi lain, Trump sebelumnya menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Trump mengatakan AS tetap mampu mengeluarkan puluhan kapal tanker minyak dari kawasan tersebut setiap malam.
Setelah pertemuan, Witkoff mengatakan pembicaraan dilakukan melalui mediator yang sepanjang hari berpindah antara delegasi AS dan Iran.
"Hari ini, di sela-sela Sidang Umum PBB, kami terlibat dalam pembicaraan panjang dengan delegasi Iran melalui para mediator, yang saling bertautan antara kedua belah pihak sepanjang hari. Mereka berhasil menyelesaikan putaran diskusi yang kami harap akan terbukti konstruktif dan menjanjikan. Para mediator akan melanjutkan pekerjaan mereka."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembicaraan belum berhenti pada pertemuan di New York. Mediator masih akan melanjutkan pekerjaan untuk menjaga komunikasi antara Washington dan Teheran.
Meski demikian, belum ada kesepakatan baru yang diumumkan setelah pertemuan tersebut.
Trump Masih Bicara soal Tekanan dan Kesepakatan
Pertemuan dengan delegasi Iran berlangsung pada hari yang sama ketika Trump menyampaikan pidato di hadapan Sidang Umum PBB.
Dalam pidatonya, Trump kembali mengatakan dirinya menghadapi keputusan besar terkait Iran, antara mencapai kesepakatan atau mengambil tindakan yang ia gambarkan sebagai upaya untuk "menghancurkan republik Islam."
Namun, Trump pada saat yang sama mengatakan dirinya yakin kesepakatan dengan Iran dapat dicapai.
"Kami akan menyelesaikannya dengan satu atau lain cara. Kami akan menyelesaikannya dan menyelesaikannya dengan cepat," ujar Trump.
Trump juga mengatakan Iran tidak seharusnya menunggu hasil pemilu sela AS untuk menentukan sikap dalam negosiasi.
Menurut Trump, Iran tidak memahami bahwa dirinya masih akan menjabat selama dua setengah tahun dan persoalan pemilu tidak menjadi pertimbangan dalam kebijakannya terhadap Teheran.
"Satu-satunya hal yang dilakukan adalah Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir," ujar Trump.
Negara Arab Ikut Mendorong Penurunan Ketegangan
Selain bertemu dengan delegasi Iran melalui utusannya, Trump pada Selasa juga bertemu dengan perwakilan dari sembilan negara Arab untuk membahas perang.
Dalam pertemuan tersebut, Raja Yordania Abdullah menyerukan "Pengendalian paling dalam menanggapi eskalasi regional saat ini."
Ia mengatakan Yordania akan terus berkoordinasi erat dengan AS untuk mengejar perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Pertemuan tersebut berlangsung ketika konflik AS-Iran memasuki fase yang semakin panjang. Karena itu, komunikasi kembali antara kedua pihak di New York menjadi salah satu perkembangan yang diperhatikan dalam upaya mencari jalan keluar dari kebuntuan.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Bergerak Variatif Usai Pertemuan Diplomatik AS-Iran, Sinyal Positif Jalur Ekspor
Untuk saat ini, pertemuan tiga jam tersebut belum menghasilkan kesepakatan. Namun, AS dan Iran kembali memiliki saluran komunikasi langsung setelah terputus sejak pertengahan Juni, sementara mediator menyatakan pembicaraan akan terus dilanjutkan.