← Beranda
Korsel Tolak Terlibat di Perang Iran, Fokus Lindungi Jalur Dagang
Rian AlfiantoMinggu, 20 September 2026 | 04.23 WIB
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. (Ahn Young-joon/Pool via REUTERS/File Photo)

JawaPos.com - Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan negaranya tidak akan mengerahkan militer ke Timur Tengah, jika berpotensi menyeret Seoul pada keterlibatan dalam perang melawan Iran. 

Namun, Korea Selatan masih mempertimbangkan peran terbatas untuk menjaga keamanan pelayaran dan pengiriman minyak di kawasan tersebut.

“Tidak akan ada pengerahan yang melibatkan atau memasuki perang. Saya bisa mengatakan itu dengan sangat jelas,” kata Lee dikutip via Guardian. 

“Kami tidak akan mengerahkan aset militer dalam bentuk apa pun untuk tujuan itu,” lanjutnya.

Baca Juga: Rudal Sasar Sekolah, PBB Sebut AS Lakukan Kejahatan Perang di Iran

Pernyataan tersebut menjadi penegasan posisi Seoul di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar sekutunya mendukung operasi militer AS di Iran.

Seoul Pertimbangkan Pengamanan Jalur Pelayaran

Meski menolak keterlibatan langsung dalam perang, Lee mengatakan pemerintah Korea Selatan masih mengkaji kemungkinan memperluas peran dalam menjaga keamanan navigasi di Timur Tengah.

Menurut Lee, Seoul tetap perlu mengambil langkah terbatas untuk melindungi kepentingan ekonominya.

Terutama kapal dagang, pengiriman minyak mentah, dan warga Korea Selatan yang berada di kawasan tersebut.

“Itu juga jelas bahwa kami harus melakukan hal minimum seperti negara-negara lain untuk melindungi pelayaran komersial dan pengiriman minyak mentah kami, serta keselamatan rakyat kami,” ujarnya.

Baca Juga: Korea Selatan Tegaskan Tidak Akan Terlibat dalam Perang Iran Bersama Amerika Serikat

Korea Selatan selama ini memang memiliki kehadiran angkatan laut di sekitar Somalia melalui misi antipembajakan.

Pemerintah Seoul juga tengah mengkaji kemungkinan pengerahan militer ke Selat Hormuz, jalur strategis bagi lalu lintas energi dunia.

Namun, rencana tersebut menghadapi penolakan di dalam negeri karena dikhawatirkan menyeret Korea Selatan lebih jauh ke dalam konflik Timur Tengah.

Tekanan Trump terhadap Seoul

Sikap Lee muncul setelah Trump mengkritik Korea Selatan karena dinilai memberikan dukungan yang tidak cukup terhadap perang Iran.

Hubungan pertahanan kedua negara juga sempat mendapat perhatian setelah latihan militer gabungan besar AS dan Korea Selatan dikurangi pada musim panas tahun ini.

Baca Juga: AS Beri Visa Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk Hadiri Sidang Umum PBB

Di luar isu militer, Seoul dan Washington juga masih membahas komitmen investasi Korea Selatan di Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan kedua negara.

Lee mengatakan persoalan utama dalam pembahasan tersebut adalah kelayakan komersial paket investasi yang disepakati.

Menurut dia, masih ada sejumlah bagian yang sulit diterima Seoul, tetapi kedua pihak disebut semakin mendekati kesepakatan.

Korea Selatan sebelumnya berkomitmen menginvestasikan USD 350 miliar untuk sektor manufaktur di Amerika Serikat, sebagai imbalan atas penurunan tarif impor produk Korea menjadi 15 persen.

Pemerintah Korsel kini menunda pengarahan kepada parlemen mengenai rencana investasi tersebut. Penjelasan itu diperkirakan kembali digelar pekan depan.

Baca Juga: Prediksi Rupiah Rabu Ini: Dampak Ketegangan AS-Iran dan The Fed

Dalam konferensi pers yang sama, Lee juga menyinggung kemungkinan pertemuan antara Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dalam beberapa bulan mendatang.

Lee mengatakan pertemuan tersebut masih mungkin terjadi, tetapi sejumlah kondisi harus terpenuhi.

“Yang jelas adalah Presiden Trump menginginkan pembicaraan, dan saya juga menginginkannya, dan kami terus melakukan koordinasi untuk memungkinkan dialog antara Korea Utara dan AS,” kata Lee.

Sejauh ini, media pemerintah Korea Utara relatif tidak banyak merespons seruan Trump untuk kembali bertemu Kim.

Trump sendiri disebut mendorong para pembantunya untuk mengupayakan pertemuan dengan Kim sejak musim gugur.

Baca Juga: Iran dan Oman Sepakat Tunda Dialog untuk Mencapai Konsensus Regional di Tengah Situasi Selat Hormuz

EDITOR: Bayu Putra