JawaPos.com – Studi ilmiah terbaru menemukan bahwa krisis iklim kemungkinan turut melemahkan gletser di kawasan Himalaya yang kemudian runtuh dan memicu banjir dahsyat di Nepal dan Tibet.
Peneliti menyebut pemanasan global sebagai salah satu faktor yang memperburuk kondisi geologis di sekitar gletser sebelum bencana terjadi.
Berikut 5 faktor destabilisasi gletser yang diguga memicu banjir dahsyat Nepal dan Tibet, seperti dilansir dari laman The Guardian pada Kamis (17/9).
1. Suhu Kawasan Meningkat Akibat Perubahan Iklim
Perubahan iklim telah meningkatkan suhu di wilayah terjadinya keruntuhan gletser sekitar 2 derajat Celsius dibandingkan masa praindustri. Khusus pada Juli dan Agustus, peningkatan suhu akibat perubahan iklim diperkirakan mencapai sekitar 1,5 derajat Celsius. Kondisi tersebut membuat lingkungan pegunungan tinggi menjadi lebih rentan terhadap pencairan es dan ketidakstabilan lereng.
2. Bulan Juli dan Agustus 2026 Menjadi Periode Terpanas
Juli dan Agustus 2026 tercatat sebagai periode terpanas yang pernah terjadi di wilayah tersebut. Suhu pada sejumlah hari sebelum keruntuhan gletser mencapai sekitar 5 derajat Celsius di atas rata-rata 30 tahun. Kondisi panas yang tidak biasa itu diduga mempercepat pencairan es dan memperburuk kestabilan kawasan gletser.
3. Garis Pembekuan Himalaya Terus Meningkat
Ambang batas pembekuan di kawasan Himalaya telah meningkat sekitar 100 meter per dekade sejak 1980-an. Peningkatan suhu membuat proses pencairan berlangsung pada ketinggian yang lebih tinggi dan dalam waktu yang lebih lama. Kondisi tersebut dapat melemahkan lereng pegunungan yang sebelumnya diperkuat oleh lapisan tanah beku atau permafrost.
4. Penyusutan Gletser Memperburuk Ketidakstabilan
Pemanasan yang berlangsung dalam jangka panjang menyebabkan penyusutan gletser secara signifikan di kawasan Himalaya. Berkurangnya massa es yang sebelumnya membantu menstabilkan wilayah sekitar lokasi keruntuhan membuat struktur pegunungan menjadi lebih rentan. Pencairan gletser juga meningkatkan jumlah air lelehan yang dapat memperbesar dampak ketika terjadi keruntuhan.
5. Keruntuhan Memicu Banjir dengan Dampak Besar
Pada 26 Agustus 2026, sebagian besar gletser dan batuan yang menggantung di Gunung Langtang Lirung runtuh dari ketinggian sekitar 1.400 meter. Material berupa es, salju, batu, dan sedimen diperkirakan mencapai 110 juta meter kubik dan memicu banjir bandang yang bergerak dengan kecepatan lebih dari 110 mil per jam atau sekitar 177 kilometer per jam.
Studi menyatakan bahwa perubahan iklim bukan satu-satunya penyebab keruntuhan, tetapi menjadi faktor yang memperburuk ketidakstabilan lingkungan pegunungan.