JawaPos.com — Ruang angkasa kini secara terbuka menjadi medan persaingan militer. Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya mengonfirmasi telah menempatkan senjata di orbit Bumi, sementara Tiongkok dan Rusia terus mengembangkan kemampuan untuk mengganggu atau menyerang satelit dalam konflik masa depan.
Pengakuan Washington menunjukkan bahwa orbit Bumi telah menjadi bagian penting dari persaingan kekuatan militer, mengingat satelit menopang komunikasi, navigasi, dan pengawasan.
Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink mengatakan senjata yang disebut “on-orbit space control weapons” diperlukan untuk melindungi pasukan AS dari tindakan musuh. Namun, dia tidak menjelaskan jenis senjata, kemampuan, maupun kapan sistem itu ditempatkan di orbit. Meink menyatakan AS harus siap menghadapi “ancaman yang terus berkembang” di ruang angkasa.
Dilansir dari BBC, Rabu (16/9/2026), Meink menyampaikan pengakuan itu saat konferensi Air, Space and Cyber di Maryland, Senin. Pernyataan tersebut menjadi pengakuan publik pertama Washington bahwa kemampuan ofensif berbasis ruang angkasa telah ditempatkan di orbit.
Sebelumnya, para pejabat militer AS telah menyerukan penguatan kemampuan antariksa dengan alasan Tiongkok dan Rusia mengembangkan teknologi untuk menyerang atau mengganggu satelit AS dalam konflik di masa depan.
Ruang lingkup kemampuan itu masih belum jelas. Juru bicara US Space Force menjelaskan, “kendali ruang angkasa mencakup misi yang diperlukan untuk menandingi dan mengendalikan domain antariksa, dengan menggunakan sarana kinetik dan nonkinetik untuk memengaruhi kemampuan lawan melalui gangguan, degradasi, bahkan penghancuran jika diperlukan.” Menurutnya, “kemampuan ini dapat digunakan untuk tujuan ofensif dan defensif atas arahan komando tempur.”
Karena Washington tidak mengungkap bentuk senjatanya, para ahli hanya dapat memperkirakan. Pakar penggunaan militer ruang angkasa dari Royal United Services Institute, Bleddyn Bowen, mengatakan informasi publik mengenai teknologi itu “sangat sedikit” dan bisa mencakup “berbagai macam sistem senjata”. Kepada BBC Radio 4, dia menegaskan dirinya “benar-benar hanya menebak” ketika memperkirakan sistem tersebut.
Bowen menduga salah satu kemungkinan adalah “platform peperangan elektronik atau pengacauan radio”. Sistem itu dapat mengganggu komunikasi satelit tanpa menghancurkannya secara fisik. Kemungkinan lain ialah “kendaraan penghancur kinetik”, yakni wahana yang melepaskan proyektil untuk menabrak dan menghancurkan satelit. Namun, opsi ini lebih kecil kemungkinannya karena serangan fisik dapat menghasilkan banyak puing antariksa.
Pengumuman AS langsung mendapat respons dari Tiongkok. Beijing memperingatkan risiko perlombaan senjata di ruang angkasa. Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, seperti dikutip AFP dan dilansir BBC, mengatakan, “Kami mendesak pihak AS menghentikan perluasan kemampuan militernya dan persiapan perang di luar angkasa.” Respons itu menunjukkan potensi tekanan strategis antara dua kekuatan besar di orbit.
Langkah tersebut juga berkaitan dengan rencana pertahanan pemerintahan Presiden Donald Trump. Kemampuan berbasis ruang angkasa dan rudal pencegat disebut sebagai bagian penting sistem Golden Dome untuk melindungi AS dari rudal. Tahun lalu, Trump menerbitkan perintah eksekutif yang menegaskan peran Space Force bukan hanya mempertahankan aset AS, tetapi juga sebagai kekuatan yang dapat melakukan serangan.
Space Force dibentuk pada 2019 sebagai cabang baru militer AS untuk melindungi aset di ruang angkasa, termasuk ratusan satelit komunikasi dan pengawasan. Kekhawatiran Washington terhadap ancaman di orbit juga berkaitan dengan perkembangan kemampuan Rusia.
Pada 2024, AS menyatakan Rusia telah meluncurkan satelit yang diduga mampu menyerang satelit lain, sementara pada awal Februari tahun ini terungkap dua satelit Rusia kemungkinan mencegat komunikasi sedikitnya 12 satelit Eropa sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Rusia tidak memberikan komentar publik terkait dugaan satelit penyerang tersebut.
Secara hukum, Perjanjian Antariksa Luar Angkasa 1967 melarang senjata pemusnah massal ditempatkan di orbit, tetapi tidak melarang senjata konvensional. Karena itu, AS, Rusia, dan Tiongkok tetap mengembangkan kemampuan mengganggu atau menargetkan satelit yang penting bagi komunikasi militer, pengawasan, dan navigasi.
Space Force menyebut Tiongkok mengembangkan kemampuan antariksa dan antariksa tandingan sebagai bagian modernisasi militer, sementara Rusia memandang ruang angkasa sebagai domain peperangan.