JawaPos.com - Penjara di Jepang mulai menggunakan mindfulness, termasuk yoga dan meditasi, sebagai bagian dari upaya membantu narapidana mengelola pikiran dan emosi mereka. Metode tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan mengendalikan diri sekaligus membantu mencegah narapidana kembali melakukan tindak pidana.
Dilansir dari Kyodo, Selasa (15/9), penerapan mindfulness semakin meluas di lembaga pemasyarakatan dan fasilitas pembinaan anak di Jepang. Praktik yang menggunakan teknik seperti meditasi dan yoga untuk menenangkan pikiran tersebut dinilai berpotensi memainkan peran lebih besar setelah Jepang mengubah sistem pemidanaannya pada 2025 dengan menekankan rehabilitasi.
"Buka napas melalui hidung, lalu hembuskan. Tarik napas lagi, kemudian keluarkan perlahan," demikian instruksi yang diberikan dalam sesi meditasi di Penjara Medis Okazaki, Jepang tengah.
Tiga narapidana mengikuti instruksi tersebut dalam sebuah sesi meditasi yang merupakan bagian dari uji coba mindfulness di fasilitas tersebut. Penjara Medis Okazaki di Prefektur Aichi menampung narapidana dengan disabilitas fisik maupun mental.
Program yang berlangsung selama dua bulan itu menjadi uji coba pertama penggunaan mindfulness di penjara medis Jepang. Dalam sesi yoga dan meditasi selama sekitar 40 menit pada Desember tahun lalu, Takuro Tanimoto, profesor madya di Bukkyo University di Kyoto, membimbing para narapidana melakukan berbagai latihan untuk membantu mereka menyadari pikiran dan emosi masing-masing.
"Ada ruang yang cukup besar untuk penggunaan mindfulness secara lebih luas," kata Tanimoto yang memimpin program tersebut.
Salah seorang narapidana laki-laki berusia 40-an mengatakan teknik pernapasan yang dipelajarinya membantunya menghadapi situasi sulit tanpa selalu bergantung pada petugas penjara.
"Sebelumnya, setiap kali merasa gelisah, saya akan berbicara dengan petugas penjara yang bertanggung jawab. Sejak mempelajari teknik pernapasan ini, saya bisa menenangkan diri dan melewati saat-saat sulit sendiri," ujarnya kepada wartawan setelah sesi tersebut.
Menurut Tanimoto, mindfulness membantu seseorang mengambil jarak dari pikiran dan emosinya sehingga dapat melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Latihan seperti yoga dan meditasi juga dapat membantu meningkatkan konsentrasi serta mengurangi stres.
Mulai Diterapkan Sejak 2011
Mindfulness berakar dari ajaran Buddha, tetapi mulai menyebar luas, terutama di Amerika Serikat, sejak 1970-an setelah diadaptasi menjadi praktik kesehatan mental tanpa unsur keagamaan. Di Jepang, metode tersebut juga telah digunakan dalam pelatihan perusahaan dan layanan kesehatan.
Dalam sistem pemasyarakatan Jepang, mindfulness pertama kali diperkenalkan pada 2011 di sebuah sekolah pembinaan anak perempuan di Fukuoka. Sejak itu, penerapannya meluas ke berbagai fasilitas pembinaan anak serta lembaga pemasyarakatan dewasa, termasuk Penjara Maebashi di Prefektur Gunma dan Penjara Gifu.
Tanimoto sebelumnya bekerja sebagai spesialis di Kementerian Kehakiman Jepang pada berbagai fasilitas pemasyarakatan dengan menerapkan keahliannya di bidang psikologi. Selama sekitar lima tahun terakhir, ia terutama mengajarkan mindfulness di sekolah-sekolah pembinaan anak.
Ia mengatakan banyak narapidana menghadapi berbagai persoalan, termasuk trauma masa lalu yang dapat menimbulkan perasaan tidak berdaya. Mereka juga dapat mengalami ketidakpercayaan terhadap masyarakat serta emosi impulsif yang membuat pengendalian diri menjadi sulit.
"Dengan mengambil langkah mundur dan melihat emosi tersebut secara objektif, mereka dapat menjadi tidak terlalu terpengaruh oleh luka yang pernah mereka alami," kata Tanimoto.
Kekurangan Tenaga Ahli Jadi Tantangan
Meski demikian, penerapan mindfulness di penjara Jepang masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah terbatasnya tenaga yang memiliki pengetahuan khusus untuk mengajarkan metode tersebut.
"Kami tidak memiliki cukup orang dengan pengetahuan khusus. Karena data mengenai kecenderungan kriminal dan faktor lainnya sulit dikelola, penelitian juga belum cukup dilakukan," ujar Tanimoto.
Menurutnya, pelatihan bagi petugas penjara menjadi langkah penting agar mindfulness dapat diterapkan secara lebih luas.
"Langkah pertama agar mindfulness dapat menyebar lebih luas adalah melatih petugas penjara yang dapat mengajarkannya," katanya.
Perubahan sistem pemidanaan Jepang pada 2025 turut membuka ruang bagi pendekatan semacam ini. Hukuman penjara dengan dan tanpa kerja wajib yang sebelumnya dibedakan telah dihapus dan digantikan dengan satu jenis hukuman pemenjaraan yang memberikan penekanan lebih besar pada rehabilitasi.