JawaPos.com - Kapal induk nuklir USS Abraham Lincoln akhirnya tiba di Thailand setelah menghabiskan 286 hari di laut, termasuk menjalani operasi panjang di Timur Tengah. Kunjungan selama lima hari itu menjadi kesempatan bagi sekitar 5.000 personel untuk beristirahat setelah masa penugasan yang jauh lebih panjang dari pola normal.
USS Abraham Lincoln tiba di pelabuhan Laem Chabang, Thailand, pada Rabu (2/9) waktu setempat setelah hampir 10 bulan menjalani penugasan. Kapal induk bertenaga nuklir tersebut datang dengan kondisi yang mengenaskan bersama sejumlah kapal perang Amerika Serikat lainnya, untuk menjalani masa istirahat dan pemulihan awak.
Masa operasi Lincoln kali ini menjadi sorotan bukan hanya karena durasinya, tetapi juga karena munculnya laporan mengenai kondisi kehidupan para pelaut yang memburuk selama penugasan.
Menurut laporan yang beredar, awak kapal menghadapi kekurangan sejumlah kebutuhan kebersihan dasar, porsi makanan yang lebih kecil, serta gangguan pada sistem pengiriman surat. Keluhan lain mencakup munculnya jamur di kamar mandi, toilet rusak hingga tidak tersedianya air panas.
Kondisi tersebut muncul setelah Lincoln menjalani operasi intensif di kawasan Timur Tengah. Kapal itu dikerahkan sejak November lalu dan terlibat dalam blokade laut serta operasi tempur dalam perang dengan Iran.
Anggota parlemen dari Partai Demokrat Amerika Serikat bahkan menyebut Lincoln mencatat rekor modern untuk jumlah hari berturut-turut yang dihabiskan sebuah kapal induk AS di laut.
Sebagai informasi, lenempatan kapal induk Angkatan Laut AS umumnya berlangsung sekitar enam hingga sembilan bulan. Namun, durasi tersebut dapat diperpanjang ketika terjadi konflik atau situasi keamanan yang membutuhkan pengerahan kekuatan tambahan.
Dalam kasus Lincoln, masa penugasan mencapai 286 hari. Panjangnya masa operasi membuat kondisi awak menjadi perhatian. Selain persoalan fasilitas dan kebutuhan sehari-hari, muncul pula laporan mengenai sejumlah anggota awak yang mencoba melompat dari kapal.
Komando Pusat AS (US Central Command) mengatakan seorang personel yang jatuh ke laut pada awal Agustus berhasil segera diselamatkan. Sementara itu, Navy Times melaporkan bahwa keluarga sejumlah awak telah diberi tahu mengenai beberapa upaya serupa.
Meski demikian, informasi tersebut tidak serta-merta menjelaskan penyebab setiap insiden. Laporan mengenai kondisi awak menjadi bagian dari sorotan yang lebih luas terhadap dampak penugasan panjang di tengah operasi militer intensif.
Setelah berbulan-bulan berada di kawasan operasi, Lincoln kini mendapat waktu untuk beristirahat di Thailand. Pejabat Thailand mengatakan kunjungan tersebut akan berlangsung selama lima hari.
Kapal induk itu tiba dengan dek penerbangan yang dipenuhi helikopter dan pesawat tempur, termasuk jet tempur F-35 terbaru.
Kapal perusak berpeluru kendali USS Frank E Petersen Jr juga bersandar di Sri Racha, sementara kapal penjelajah berpeluru kendali USS Robert Smalls tiba di Map Tha Phut.
Kondisi fisik sejumlah kapal turut menarik perhatian. Kedua kapal yang bersandar di kawasan Laem Chabang dan Sri Racha terlihat memiliki bagian lambung yang dipenuhi karat, sementara cat di sepanjang garis air tampak belang dan mengalami perubahan warna.
Pada sore harinya, bus-bus yang membawa pelaut dan marinir mulai tiba di sejumlah hotel di Pattaya. Banyak dari mereka mengenakan pakaian sipil, tersenyum dan melambaikan tangan ketika tiba.
Pattaya sendiri bukan lokasi yang asing bagi personel Angkatan Laut AS. Kawasan timur Thailand telah lama menjadi tempat persinggahan kapal perang Amerika, dengan hubungan militer kedua negara yang memiliki sejarah panjang sejak era Perang Vietnam.
Baca Juga: Donald Trump Bantah Kondisi Kapal Induk USS Abraham Lincoln Memburuk, Wartawan CNN Kena Semprot
Kunjungan Lincoln juga memperlihatkan eratnya hubungan pertahanan Washington dan Bangkok.
Thailand merupakan satu-satunya mitra perjanjian Amerika Serikat di daratan Asia Tenggara. Kedua negara telah menjadi sekutu melalui perjanjian sejak 1954, sebelum Thailand ditetapkan sebagai major non-NATO ally AS pada 2003.
Kerja sama militer keduanya terus berlangsung melalui latihan bersama dan berbagai kegiatan pertahanan.