JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada pembukaan perdagangan Selasa (2/9) pagi.
Hal itu seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran saling melancarkan serangan.
Melansir Investing, pada pukul 08:05 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik atau 1,30 poin atau 1,39 persen ke level 96,51 dollar per barel, atau naik jika dibandingkan dengan perdagangan Senin (1/9) pagi sebesar 91,11 dollar per barel.
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 1,61 poin atau 1,84 persen ke level 91,82 dollar per barel.
Baca Juga: Trump Ancam Balas Iran 'Dengan Keras', Harga Minyak Mentah Dunia Makin Panas!
Naik jika dibandingkan dengan perdagangan Rabu pagi sebelumnya sebesar 86,64 dollar per barel.
Melansir Reuters, Amerika Serikat mengatakan telah melancarkan serangkaian serangan udara terhadap sejumlah target di Iran pada malam sebelumnya.
Serangan tersebut kemudian dibalas Iran dan menjadi eskalasi paling serius dalam konflik kedua negara dalam beberapa pekan terakhir.
Komando Pusat AS (U.S. Central Command), mengatakan serangan dilakukan setelah adanya upaya serangan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap kapal komersial di Selat Hormuz, serta terhadap personel militer AS yang ditempatkan di kawasan tersebut.
IRGC mengatakan serangan AS akan semakin membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah WTI Berpotensi Naik ke USD 90 per Barel, Ini Pemicunya
Jalur perairan strategis tersebut sebelumnya dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global sebelum konflik berlangsung.
Iran juga disebut telah secara efektif menutup jalur tersebut bagi pelayaran komersial.
IRGC turut mengatakan telah menargetkan pangkalan militer AS di Yordania menggunakan rudal balistik.
Iran mengklaim serangan rudal balistik tersebut menewaskan sejumlah besar pasukan AS.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan serangan pesawat nirawak dalam skala besar terhadap pangkalan AS di Bahrain sebagai respons atas serangan AS.
Baca Juga: Iran Pulihkan 40 Persen Kapasitas Produksi di Ladang Minyak dan Gas yang Rusak Diserang AS-Israel
Militer Yordania mengatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 10 dari 13 rudal balistik yang memasuki wilayah udaranya.
Dua pejabat AS mengatakan sejauh ini tidak ada laporan mengenai korban dari pihak AS akibat serangan tersebut.
Secara terpisah, Kuwait mengatakan angkatan bersenjatanya merespons aktivitas pesawat nirawak yang dianggap mengancam.
Pertukaran serangan terbaru tersebut terjadi setelah eskalasi konflik pada akhir pekan, yang menjadi peningkatan ketegangan pertama sejak Juli.
Kondisi itu juga terjadi setelah serangan terhadap dua kapal tanker yang meninggalkan Selat Hormuz pada Senin (31/8).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melemah Pagi Ini, Harapan Kesepakatan AS-Iran Meredup
Hal ini semakin mengganggu pasokan minyak dan memaksa para pedagang mencari pengiriman minyak mentah alternatif.
Di Amerika Serikat, produsen minyak terbesar di dunia, persediaan minyak mentah turun 2,6 juta barel pada pekan yang berakhir 28 Agustus.
Sementara itu, persediaan produk sulingan yang mencakup solar dan minyak pemanas turun 265.000 barel.
Data tersebut disampaikan oleh sumber-sumber pasar yang mengutip data dari American Petroleum Institute (API).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melemah, Pasar Cermati Potensi Pembukaan Selat Hormuz