JawaPos.com - Iran membawa serangan Amerika Serikat ke Dewan Keamanan PBB dan mendesak penghentian serangan terhadap wilayahnya. Teheran juga memperingatkan bahwa pasukannya siap merespons jika Washington kembali melancarkan serangan.
Desakan tersebut disampaikan Iran melalui surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Senin (31/8). Surat itu dikirim Gholamhossein Darzi, wakil tetap sekaligus duta besar Iran untuk PBB, menurut kantor berita Iran, IRNA.
Langkah diplomatik tersebut dilakukan setelah Iran pasukan AS menyerang Pulau Larak di Teluk sehari sebelumnya. Teheran menyatakan serangan itu menyebabkan tentara dan warga sipil tewas maupun terluka serta menimbulkan kerusakan pada sejumlah properti publik dan swasta.
Baca Juga: Aismoli Usulkan Insentif Fiskal Infrastruktur Motor Listrik di Luar Jawa
Darzi menyebut serangan tersebut sebagai "pelanggaran yang jelas terhadap kedaulatan dan integritas teritorial" Iran.
Bagi Teheran, persoalan ini bukan sekadar bentrokan militer. Iran berusaha membawa tuduhan terhadap Washington ke forum internasional sekaligus menekan Dewan Keamanan PBB agar mengambil tindakan.
Iran Desak AS Hentikan Serangan
Dalam surat tersebut, Darzi meminta Dewan Keamanan PBB menuntut Amerika Serikat menghentikan serangannya terhadap Iran.
Iran juga meminta surat itu diedarkan sebagai dokumen resmi PBB. Dengan demikian, tuduhan Teheran terhadap Washington dapat tercatat secara formal dalam forum utama PBB yang menangani persoalan perdamaian dan keamanan internasional.
Darzi turut menuduh perang terhadap Iran telah melibatkan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Ia menyatakan Amerika Serikat bertanggung jawab atas tindakan tersebut, termasuk pihak-pihak yang memerintahkan ataupun melaksanakan serangan, sebagaimana dilaporkan IRNA.
Tuduhan itu menjadi bagian penting dari upaya Iran membangun tekanan diplomatik terhadap Washington di tengah konflik yang semakin berisiko meluas.
Teheran Beri Sinyal Respons Militer
Di saat yang sama, Iran tidak hanya mengandalkan jalur diplomatik.
Darzi mengatakan Iran telah menunjukkan sikap menahan diri sepanjang perang berlangsung. Namun, ia memperingatkan bahwa kesabaran tersebut bukan berarti Teheran tidak akan memberikan respons.
Menurut Darzi, pasukan Iran “would not hesitate” untuk merespons serangan lebih lanjut.
Pernyataan tersebut memberi sinyal bahwa serangan berikutnya terhadap wilayah Iran dapat memicu tindakan militer balasan. Jika ancaman tersebut direalisasikan, ketegangan antara Iran dan AS berpotensi memasuki tahap yang lebih berbahaya.
Darzi juga mempertahankan posisi Iran terkait serangan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di Yordania.
Ia menyebut serangan Iran tersebut sebagai tindakan bela diri.
Pernyataan itu menunjukkan bagaimana Teheran membingkai aksi militernya sebagai respons terhadap serangan AS. Narasi tersebut sekaligus menjadi dasar Iran untuk mempertahankan tindakan militernya di tengah tekanan internasional.
Jika kedua pihak terus menggunakan serangan militer sebagai respons atas tindakan lawan, risiko terjadinya rangkaian serangan balasan akan semakin besar.