JawaPos.com - Kemasan makanan dan minuman yang mampu menjaga produk bertahan hingga berbulan-bulan, bahkan sampai sekitar 12 bulan, tanpa tambahan bahan pengawet kerap menimbulkan pertanyaan. Bagaimana produk itu bisa tetap aman dan memiliki masa simpan yang panjang?
Jawabannya bukan semata-mata terletak pada kemasannya. Teknologi pengolahan UHT (Ultra High Temperature) dan pengemasan aseptik menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga kualitas produk, sekaligus memperpanjang masa simpannya tanpa harus mengandalkan bahan pengawet.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang Tetra Pak (salah satu produknya Hydro Coco yang banyak dikenal di Tanah Air) dalam mengembangkan teknologi untuk industri makanan dan minuman. Perusahaan ini telah menghadirkan berbagai inovasi kemasan sejak berdiri pada 1951 silam.
Marketing Director for Malaysia, Singapore, Philippines & Indonesia Tetra Pak, John Jose, mengatakan bahwa inovasi menjadi salah satu fokus utama perusahaan selama puluhan tahun.
Baca Juga: Profil Desta: Perjalanan Karier, Kehidupan Pribadi, hingga Berpisah dengan Vincent Rompies di Vindes
Menurut dia, perjalanan inovasi Tetra Pak dimulai dari kemasan-kemasan yang kini menjadi bagian penting dalam perkembangan industri pangan global.
Salah satu inovasi awal yang diperkenalkan adalah Tetra Classic Aseptic, kemasan dengan bentuk khas menyerupai segitiga atau tetrahedron. Kemasan tersebut menjadi salah satu fondasi awal perkembangan teknologi pengemasan aseptik.
Perkembangan kemudian berlanjut pada 1969 ketika Tetra Pak memperkenalkan Tetra Brik Aseptic. Kemasan berbentuk persegi panjang ini hingga kini menjadi salah satu produk paling dikenal dan banyak digunakan dalam portofolio Tetra Pak.
“Inovasi adalah sesuatu yang kami bangga dan fokuskan. Selama 75 tahun, kami memiliki banyak inovasi,” ujar John Jose dalam diskusi bersama wartawan dari sejumlah negara di Thailand.
Teknologi aseptik sendiri menjadi salah satu alasan mengapa sejumlah produk makanan dan minuman dapat memiliki masa simpan panjang. Prinsipnya adalah mengombinasikan proses pengolahan produk dengan pengemasan dalam kondisi steril.
Dengan sistem tersebut, produk yang telah melalui proses pengolahan dapat dikemas secara aseptik sehingga risiko kontaminasi mikroorganisme setelah proses produksi dapat diminimalkan. Inilah yang membuat sejumlah produk dapat disimpan dalam waktu lama pada suhu ruang.
John menjelaskan, inovasi Tetra Pak terus berkembang mengikuti kebutuhan industri. Pada 1997, perusahaan memperkenalkan Tetra Prisma Aseptic yang menjadi salah satu tonggak penting, khususnya untuk kategori minuman siap konsumsi.
Kemasan tersebut dikenal dengan bentuk yang berbeda dari kemasan kotak konvensional dan dirancang untuk memberikan pengalaman konsumsi yang lebih praktis.
Inovasi berikutnya juga membawa Tetra Pak masuk lebih jauh ke kategori makanan. Salah satunya melalui pengembangan solusi kemasan yang memungkinkan berbagai jenis produk pangan, termasuk produk berbasis sayuran dan daging, dikemas untuk memperpanjang masa simpan sesuai kebutuhan produk.
Menurut John, makna inovasi tidak berhenti pada menciptakan bentuk kemasan baru. Tujuan yang lebih besar adalah melindungi makanan, menjaga keamanan pangan, dan membantu memastikan produk dapat tersedia bagi konsumen di berbagai wilayah.
“Ketika kami berbicara tentang melindungi makanan, itu bukan hanya tentang melindungi produk itu sendiri,” kata John.
Industri makanan dan minuman saat ini juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Produsen tidak hanya dituntut menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga harus menjaga efisiensi produksi dan menekan biaya.
Di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi global, kebutuhan terhadap sistem produksi yang efisien menjadi semakin penting.
"Pada saat yang sama, konsumen juga semakin memperhatikan kualitas, keamanan pangan, keberlanjutan, hingga dampak lingkungan dari produk yang mereka konsumsi," tuturnya.
Kondisi tersebut membuat inovasi teknologi pangan tidak lagi sekadar menjadi nilai tambah, melainkan bagian dari strategi bisnis industri makanan dan minuman.
Tetra Pak melihat peluang besar dari perkembangan tersebut, termasuk pada produk-produk berbasis kelapa.
Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara memiliki posisi strategis dalam industri kelapa global. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi kelapa dunia, bersama sejumlah negara lain seperti India.
"Bagi industri pangan, kelapa memiliki nilai ekonomi yang luas karena hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan," katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, produk air kelapa dan produk kuliner berbasis kelapa terus menunjukkan pertumbuhan di pasar internasional. Permintaan terbesar datang dari sejumlah pasar besar seperti Amerika Serikat, China, dan Brasil.
"Negara-negara seperti Inggris dan Australia juga menjadi pasar yang menarik bagi produk berbasis kelapa," ungkapnya.
Fenomena ini membuka peluang baru bagi negara-negara produsen kelapa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Namun, negara penghasil kelapa tidak selalu menjadi pasar terbesar untuk produk air kelapa dalam kemasan.
Baca Juga: Meski Hengkang dari Vindes Corp, Persahabatan Desta dan Vincent Tak Retak
"Di negara produsen, masyarakat memiliki akses lebih mudah terhadap kelapa segar sehingga konsumsi langsung masih sangat besar. Sebaliknya, di negara-negara yang tidak memiliki produksi kelapa melimpah, produk dalam kemasan menjadi solusi untuk memenuhi permintaan konsumen. Di sinilah teknologi pengolahan dan pengemasan memainkan peran penting," paparnya.
"Produk yang berasal dari daerah penghasil kelapa dapat diproses dan dikemas untuk menjangkau konsumen di negara lain tanpa harus kehilangan aspek keamanan dan kualitas yang dibutuhkan pasar," imbuhnya.