JawaPos.com - Kasus orang hilang di Pulau Jeju, Korea Selatan, menjadi sorotan setelah empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal dalam tiga hari.
Kasus tersebut semakin ramai setelah terungkap seorang polisi diduga memalsukan penanganan dua laporan orang hilang. Salah satunya adalah kasus Jang Miran, perempuan 37 tahun yang ditemukan meninggal setelah 104 hari dinyatakan hilang.
Berikut enam fakta penting di balik kasus orang hilang di Jeju yang kini menjadi perhatian publik.
1. Empat orang hilang ditemukan meninggal dalam tiga hari
Empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal di Jeju dalam rentang 22 hingga 24 Agustus 2026.
Yonhap melaporkan korban terdiri atas seorang pria berusia 60-an, Jang Miran, seorang pria yang diperkirakan berusia 70-an dan satu korban lain yang ditemukan di kawasan Aewol.
Namun, fakta ini tidak berarti keempat korban memiliki hubungan satu sama lain. Dua kasus pertama berkaitan dengan polisi berinisial A yang diduga melakukan penutupan laporan secara palsu.
Sementara dua korban lainnya merupakan kasus berbeda dan sejauh ini tidak ditemukan bukti yang menghubungkan mereka dengan A.
Penemuan empat jenazah dalam waktu berdekatan inilah yang kemudian membuat kasus orang hilang di Jeju menjadi perhatian luas.
2. Jang Miran hilang 104 hari, lalu ditemukan sekitar 400 meter dari tempat tinggalnya
Jang Miran, 37, dilaporkan hilang setelah meninggalkan tempat tinggalnya di wilayah Hallim pada 12 Mei 2026.
Laporan kehilangan baru dibuat pada 15 Mei. Polisi kemudian menemukan jenazah yang dipastikan sebagai Jang pada 24 Agustus, atau 104 hari setelah laporan kehilangan dibuat.
Yang membuat kasus ini semakin menyita perhatian adalah lokasi penemuan jenazah.
Menurut Yonhap, jasad Jang ditemukan di sebuah perkebunan palem yang berjarak sekitar 400 meter dari tempat tinggalnya.
Ayah Jang bahkan mempertanyakan keberadaan putrinya di lokasi tersebut. "Putri saya bilang perkebunan palem itu menakutkan dan tidak ingin pergi ke sana," katanya.
Keterangan tersebut disampaikan ayah Jang kepada Yonhap pada 27 Agustus. Ia mengatakan Jang selama ini justru menghindari kawasan tersebut.
3. Polisi A diduga memalsukan penanganan kasus Jang Miran
Kasus Jang kemudian membuka persoalan serius dalam penanganan laporan orang hilang oleh polisi.
Pada 15 Mei pukul 18.43, pacar Jang melaporkan perempuan tersebut hilang. Sekitar dua setengah jam kemudian, polisi A menyatakan Jang telah berhasil dihubungi dan tidak ingin keberadaannya diberitahukan kepada keluarga. (헤드라인제주)
Laporan tersebut kemudian ditutup dan pencarian dihentikan. Masalahnya, penyelidikan berikutnya tidak menemukan catatan komunikasi antara A dan Jang.
Jeju MBC melaporkan A tetap mengklaim dirinya sempat berbicara dengan Jang, tetapi hasil penyelidikan tidak mendukung klaim tersebut. Bahkan, polisi menemukan dugaan manipulasi data dalam sistem pengelolaan orang hilang.
JIBS melaporkan A memasukkan Jang sebagai korban kecelakaan lalu lintas, sehingga data tersebut terhapus dari daftar pengelolaan orang hilang.
A kemudian ditahan dan diperiksa atas dugaan kelalaian dalam menjalankan tugas serta pemalsuan dan penggunaan catatan elektronik resmi.
4. Polisi A juga diduga menutup kasus pria 60-an yang kemudian ditemukan meninggal
Kasus Jang ternyata bukan satu-satunya laporan orang hilang yang diduga ditutup A secara tidak benar.
Pada 2 Juli, keluarga seorang pria berusia 60-an melaporkan anggota keluarganya hilang setelah tidak diketahui keberadaannya sejak 28 Juni.
Menurut Headline Jeju, A menutup laporan tersebut pada malam yang sama dengan alasan pria tersebut disebut menolak bertemu polisi dan meminta nomor teleponnya tidak diberikan kepada keluarga.
Keluarga tidak berhenti mencari. Mereka kembali mendatangi polisi pada 27 Juli dan 6 Agustus karena korban tetap tidak dapat dihubungi. Namun, polisi tidak segera melakukan pencarian karena kasus sebelumnya telah dinyatakan selesai.
Pria tersebut akhirnya ditemukan meninggal pada 22 Agustus. Jeju MBC juga menemukan adanya kemiripan antara kasus tersebut dan kasus Jang. Seorang anggota keluarga korban mengatakan polisi menyampaikan bahwa korban akan menghubungi keluarga sendiri.
“Sama persis. ‘Jangan beri tahu keluarga, nanti dia akan menghubungi sendiri.’” Pernyataan tersebut disampaikan keluarga korban kepada Jeju MBC.
5. Polisi A menangani 298 laporan orang hilang
Kasus ini kemudian berkembang karena A ternyata tidak hanya menangani dua laporan tersebut.
Polisi menemukan A menangani dan menyelesaikan 298 laporan orang hilang selama bertugas. Seluruh kasus tersebut kini diperiksa untuk memastikan apakah ada laporan lain yang juga ditutup secara tidak semestinya. (YNA)
Namun, angka 298 tersebut tidak berarti seluruhnya merupakan kasus bermasalah.
Hingga perkembangan terbaru, dua kasus yang menjadi inti penyidikan terkait dugaan penutupan palsu adalah kasus Jang dan pria berusia 60-an. Polisi masih memeriksa 298 kasus lainnya.
Kepala Kepolisian Jeju juga menyatakan motif tindakan A masih dalam penyelidikan. Jeju MBC melaporkan polisi mengatakan tidak ada target kinerja ataupun tekanan pekerjaan yang membuat penutupan laporan orang hilang menjadi keuntungan bagi petugas.
Ironisnya, A sebelumnya pernah menerima penghargaan dari Kepala Kepolisian Nasional Korea setelah berjasa menemukan seorang lansia dengan demensia yang dilaporkan hilang.
Kasus tersebut kini juga berdampak pada jajaran pimpinan. Kepolisian Korea Selatan menempatkan empat pejabat dalam jajaran pimpinan Jeju Western Police Station dalam status menunggu penugasan sambil menjalani pemeriksaan terkait tanggung jawab komando dan pengawasan.
6. Muncul teori konspirasi, tetapi belum ada bukti keempat kasus saling berkaitan
Rangkaian penemuan empat jenazah dalam tiga hari membuat kasus Jeju berkembang di media sosial. Muncul berbagai spekulasi mengenai pembunuhan berantai, mafia, perdagangan organ hingga dugaan keterlibatan pihak asing.
Namun, belum ada bukti yang menunjukkan keempat kasus tersebut merupakan satu jaringan kriminal. Fakta yang telah dikonfirmasi justru menunjukkan dua kelompok kasus berbeda. Dua kasus berkaitan dengan dugaan penutupan palsu oleh A, sedangkan dua korban lainnya merupakan laporan orang hilang yang berbeda.
Karena itu, teori mengenai mafia, perdagangan organ atau pembunuhan berantai masih merupakan spekulasi dan belum dapat diperlakukan sebagai fakta.
Di sisi lain, kasus tersebut mendorong pemerintah Jeju memperkuat sistem penanganan orang hilang. Pemerintah Jeju pada 27 Agustus memutuskan memperpanjang masa penyimpanan rekaman CCTV publik dari sekitar 30 hari menjadi setidaknya 60 hari, sekaligus membangun sistem respons bersama yang melibatkan polisi, pemadam kebakaran, penjaga pantai dan kelompok masyarakat.
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di Jeju?
Sejauh ini, belum ada bukti bahwa empat orang yang ditemukan meninggal merupakan korban satu rangkaian kejahatan. Kasus yang sudah terbukti menjadi persoalan besar adalah dugaan penutupan palsu dua laporan orang hilang oleh polisi A, yang kemudian berujung pada ditemukannya kedua korban dalam kondisi meninggal.
Polisi kini memeriksa 298 laporan yang pernah ditangani A. Sementara penyebab kematian Jang masih diselidiki, meski hasil pemeriksaan forensik terbaru tidak menemukan patah tulang khusus yang mengarah pada dugaan kekerasan.