← Beranda
4 Orang Hilang Ditemukan Meninggal di Pulau Jeju Termasuk Jang Miran, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Dhimas GinanjarKamis, 27 Agustus 2026 | 22.16 WIB
Jang Miran, 37, yang sempat dilaporkan hilang di Pulau Jeju. Belakangan, dia diketahui telah meninggal dunia. (Keluarga Jang Miran)

JawaPos.com - Pulau Jeju, salah satu destinasi favorit wisatawan di Korea Selatan, tengah menjadi sorotan setelah empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal dalam tiga hari.

Dua di antaranya merupakan kasus yang diduga ditutup secara palsu oleh polisi berinisial A. Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi skandal kepolisian dan memicu berbagai spekulasi tentang keamanan Pulau Jeju.

Namun, sejauh penyelidikan hingga Kamis, 27 Agustus 2026, belum ada bukti bahwa keempat kasus tersebut merupakan satu rangkaian tindak kriminal. JawaPos.com menyusun berdasarkan perkembangan penyelidikan dan pemberitaan media Korea hingga Kamis, 27 Agustus 2026.

Berawal dari Kasus Jang Miran

Kasus yang paling menyita perhatian adalah hilangnya Jang Miran, perempuan berusia 37 tahun yang tinggal di wilayah Hallim, Jeju.

Dilansir dari Yonhap News Agency (YNA), Jang terakhir diketahui meninggalkan tempat tinggalnya pada malam 12 Mei 2026. Pacarnya kemudian melaporkan kehilangan tersebut kepada polisi pada 15 Mei pukul 18.43.

Sekitar dua setengah jam setelah laporan diterima, polisi berinisial A yang bertugas saat itu menyatakan Jang sudah berhasil dihubungi. Kepada pelapor, A disebut mengatakan Jang tidak ingin keberadaannya diberitahukan kepada keluarga.

A kemudian memasukkan Jang ke sistem sebagai korban kecelakaan lalu lintas sehingga datanya terhapus dari daftar pengelolaan orang hilang.

Masalahnya, penyelidikan berikutnya menemukan tidak ada catatan komunikasi antara A dan Jang. Bahkan, laporan Jeju MBC menegaskan bahwa polisi menemukan A memasukkan nomor telepon palsu dalam penanganan kasus orang hilang lainnya.

Polisi kemudian menduga A melakukan pembiaran tugas, pemalsuan serta penggunaan catatan elektronik resmi dan mengganggu pelaksanaan tugas melalui informasi palsu. 

A kemudian ditahan dan dijerat atas dugaan kelalaian dalam menjalankan tugas, pemalsuan serta penggunaan catatan elektronik resmi, dan mengganggu pelaksanaan tugas dengan informasi palsu.

Yang membuat kasus ini semakin mengejutkan, jenazah Jang akhirnya ditemukan pada 24 Agustus, atau 104 hari setelah dilaporkan hilang.

Lokasinya berada di area perkebunan palem di sekitar tempat tinggalnya. JIBS dan sejumlah media lokal melaporkan lokasi penemuan berada sekitar 400 meter dari tempat Jang tinggal.

Polisi menilai kemungkinan Jang menjadi korban kejahatan relatif rendah. Dari hasil pemeriksaan forensik, tidak ditemukan patah tulang khas yang mengarah pada kekerasan, meski polisi masih membuka semua kemungkinan.

Keluarga Jang juga masih mempertanyakan bagaimana dia bisa berada di lokasi tersebut.

Ayah Jang mengatakan perkebunan palem tempat jenazah ditemukan merupakan tempat yang justru dihindari putrinya karena dianggap menakutkan.

Polisi A juga menangani kasus pria 60-an

Kasus Jang ternyata bukan satu-satunya laporan orang hilang yang ditangani oleh polisi berinisial A.

Pada 2 Juli, keluarga seorang pria berusia 60-an melaporkan kehilangan anggota keluarganya. Polisi A kemudian diduga menutup kasus tersebut setelah menyatakan korban dalam keadaan baik dan tidak ingin dihubungi keluarga.

Padahal, keluarga korban kemudian dua kali kembali mendatangi polisi untuk meminta bantuan karena korban tetap tidak diketahui keberadaannya.

Headline Jeju melaporkan, A kemudian menutup laporan tersebut pada malam yang sama dengan alasan pria tersebut disebut tidak ingin bertemu polisi dan meminta nomor teleponnya tidak diberikan kepada keluarga.

Keluarga kembali mendatangi polisi pada 27 Juli dan 6 Agustus karena pria tersebut tetap tidak dapat dihubungi. Namun, polisi tidak segera melakukan pencarian karena laporan sebelumnya telah dinyatakan selesai.

Setelah kasus Jang mencuat, polisi kembali memeriksa kasus tersebut. Pria berusia 60-an itu akhirnya ditemukan meninggal pada 22 Agustus.

Seorang anggota keluarga korban mengatakan kepada Jeju MBC bahwa keterangan yang diterima keluarganya hampir sama dengan kasus Jang. “Keluarga jangan diberi tahu, nanti dia akan menghubungi sendiri.”

Keterangan tersebut disampaikan anggota keluarga korban kepada Jeju MBC saat mengingat kembali informasi yang diberikan polisi.

Empat jenazah ditemukan dalam tiga hari

Di tengah terungkapnya dua kasus yang ditangani A, Jeju juga digemparkan dengan penemuan dua jenazah lain.

YNA melaporkan bahwa pada 23 Agustus, seorang pria yang diperkirakan berusia 70-an ditemukan meninggal di perairan sekitar Jocheon. Polisi kemudian mengetahui bahwa pria tersebut baru dilaporkan hilang sehari sebelumnya.

Korean JoongAng Daily menambahkan, pada 24 Agustus, seorang lagi yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal di wilayah Aewol. Korea JoongAng Daily melaporkan jenazah tersebut ditemukan polisi sekitar pukul 09.35 saat melakukan pencarian.

Dengan demikian, sejak 22 hingga 24 Agustus terdapat empat orang yang dilaporkan hilang dan kemudian ditemukan meninggal di Jeju. Tetapi ada perbedaan penting.

Dua kasus, yakni Jang Miran dan pria 60-an, terkait dengan penanganan Polisi A yang kini menjadi objek penyidikan. Sementara dua korban lainnya merupakan kasus berbeda dan sejauh ini tidak menunjukkan hubungan dengan A.

Mengapa Polisi A menjadi pusat perhatian kasus Jeju?

Penyelidikan terhadap A kini berkembang jauh lebih besar dari dua kasus tersebut. A tercatat menangani dan menyelesaikan 298 laporan orang hilang selama bertugas.

Polisi kini memeriksa seluruh kasus tersebut untuk memastikan apakah ada laporan lain yang ditutup secara tidak semestinya. Namun, hingga 26 Agustus, polisi mengatakan belum menemukan kasus tambahan yang terbukti ditutup secara palsu selain dua kasus yang telah terungkap.

Headline Jeju melaporkan bahwa Polisi juga menemukan dugaan bahwa A menghapus data korban dari sistem profiling orang hilang. Sistem tersebut digunakan kepolisian untuk mengelola informasi orang hilang, termasuk laporan, informasi penemuan, alasan penghentian pencarian dan tindakan yang telah dilakukan petugas.

Yang masih menjadi pertanyaan besar adalah mengapa A melakukan hal tersebut. Kepala Kepolisian Jeju Ko Pyeong-gi mengaku sulit memahami motif A. Menurutnya, penutupan kasus orang hilang bukan target kinerja maupun sesuatu yang menjadi dasar pemberian penghargaan. "Sulit sekali untuk dipahami," kata Ko.

Ko mengatakan penyidik kini fokus mengungkap motif tindakan A. Ironisnya, pada 26 Juni atau sekitar 40 hari setelah menutup laporan kehilangan Jang, A justru menerima penghargaan Kepala Kepolisian Nasional Korea karena berjasa menemukan seorang lansia dengan demensia yang hilang.

Apa yang sebenarnya terjadi pada Jang?

Bagian ini masih menjadi salah satu pertanyaan terbesar.

Polisi mengatakan sejauh ini tidak menemukan tanda yang kuat bahwa Jang menjadi korban tindak kriminal. Namun, penyebab kematian belum dapat disimpulkan hanya dari temuan awal.

Jeju MBC melaporkan A masih mengklaim dirinya sempat berbicara langsung dengan Jang ketika laporan kehilangan pertama diterima. Namun, hasil penyelidikan tidak menemukan rekaman komunikasi tersebut.

Polisi memperkirakan Jang meninggal pada dini hari 13 Mei, sekitar sehari setelah ia meninggalkan tempat tinggalnya dan dua hari sebelum laporan kehilangan dibuat.

Artinya, klaim A bahwa dirinya sempat berbicara dengan Jang setelah laporan diterima menjadi salah satu persoalan utama dalam penyidikan.

Di sisi lain, keluarga masih mempertanyakan alasan Jang berada di perkebunan palem tersebut. Pertanyaan mengenai bagaimana dan kapan Jang meninggal masih menjadi bagian dari penyelidikan.

Mengapa kasus ini memicu teori konspirasi?

Penemuan empat jenazah dalam tiga hari membuat kasus Jeju berkembang cepat di media sosial.

Muncul berbagai dugaan mulai dari pembunuhan berantai, mafia, perdagangan organ hingga keterlibatan orang asing.

Namun, belum ada bukti yang menghubungkan keempat korban dalam satu jaringan kriminal.

Justru fakta yang sudah terkonfirmasi menunjukkan dua kelompok kasus yang berbeda: dua kasus berkaitan dengan dugaan kesalahan Polisi A, sedangkan dua lainnya merupakan laporan orang hilang berbeda.

Karena itu, narasi tentang mafia atau perdagangan organ masih berada pada level spekulasi dan tidak dapat diperlakukan sebagai fakta.

Pemerintah Jeju pun mengingatkan agar rangkaian kasus tersebut tidak langsung disimpulkan sebagai bukti bahwa pulau itu menjadi lebih berbahaya.

Polisi dan Pemerintah Jeju mulai berbenah

Kasus ini akhirnya mendorong pemerintah Jeju melakukan perubahan pada sistem keamanan dan penanganan orang hilang.

Pada 27 Agustus, pemerintah Jeju mengumumkan rencana memperpanjang masa penyimpanan rekaman CCTV publik dari sekitar 30 hari menjadi sedikitnya 60 hari.

Pemerintah juga akan membentuk sistem koordinasi yang melibatkan polisi, pemadam kebakaran, penjaga pantai, pemerintah daerah dan kelompok masyarakat untuk menangani kasus orang hilang.

Rencananya, setiap laporan dapat ditindaklanjuti dengan pengerahan sumber daya seperti drone, anjing pelacak, kapal dan personel pencarian sesuai kebutuhan.

Gubernur Jeju Wi Seong-gon mengatakan penambahan masa penyimpanan CCTV selama 30 hari diperkirakan membutuhkan biaya lebih dari 8 miliar won. "Kami memperkirakan penambahan sekitar 30 hari membutuhkan lebih dari 8 miliar won," jelasnya.

Pemerintah Jeju mengatakan pembahasan dengan pemerintah pusat akan dilakukan agar kebijakan tersebut dapat mulai diterapkan tahun depan.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di Jeju?

Untuk saat ini, fakta yang paling kuat bukanlah adanya mafia atau jaringan pembunuhan misterius.

Yang terungkap adalah kasus serius seorang polisi yang diduga menutup sedikitnya dua laporan orang hilang secara tidak benar, sementara dua korban tersebut kemudian ditemukan meninggal.

Kasus itu kebetulan mencuat bersamaan dengan penemuan dua jenazah lain dalam rentang tiga hari. Situasi tersebut membuat publik menghubungkan seluruh kasus dan memunculkan berbagai teori yang belum terbukti.

Polisi kini memeriksa 298 kasus yang pernah ditangani A untuk memastikan tidak ada korban lain yang terdampak.

Sementara itu, kematian Jang Miran dan keadaan yang mengitarinya masih menyisakan sejumlah pertanyaan yang belum terjawab.

Bagi Jeju, persoalan terbesar saat ini bukan hanya bagaimana mengungkap apa yang terjadi pada para korban, tetapi juga mengembalikan kepercayaan publik terhadap sistem pencarian orang hilang.

EDITOR: Dhimas Ginanjar