JawaPos.com — COVID-19 mungkin meninggalkan jejak di otak yang bertahan lebih lama dari gejala penyakitnya. Sebuah studi pencitraan otak menemukan adanya perubahan pada jaringan dan zat kimia otak, bukan hanya pada pasien yang mengalami long COVID, tetapi juga pada orang yang merasa telah pulih sepenuhnya.
Temuan ini menarik perhatian karena gangguan seperti brain fog, mudah lelah, dan masalah ingatan selama ini lebih sering dikaitkan dengan long COVID. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa orang yang tidak lagi merasakan gejala pun dapat memiliki karakteristik jaringan otak yang berbeda dibandingkan mereka yang tidak pernah terinfeksi COVID.
Para peneliti menggunakan beberapa metode pemindaian untuk melihat kondisi mielin, struktur mikroskopis jaringan, serta keseimbangan zat kimia di otak. Mielin merupakan lapisan yang melindungi serabut saraf dan membantu sinyal listrik bergerak cepat di antara berbagai bagian otak.
Dilansir dari PsyPost, Senin (17/8/2026), penelitian yang dilakukan tim Griffith University di Australia tersebut melibatkan 47 orang dewasa. Sebanyak 19 peserta mengalami long COVID, 12 telah pulih dari COVID-19, sementara 16 lainnya tidak pernah terinfeksi dan menjadi kelompok pembanding.
1. Perubahan otak ditemukan pada pasien long COVID dan yang sudah pulih
Pemindaian menunjukkan adanya perbedaan sinyal mielin pada kedua kelompok yang pernah terinfeksi COVID-19 dibandingkan kelompok yang tidak pernah terinfeksi.
Pada pasien long COVID, perubahan terlihat antara lain di precentral gyrus dan middle temporal gyrus, wilayah otak yang berkaitan dengan pengendalian gerakan dan memori.
Sementara itu, peserta yang telah pulih juga menunjukkan perubahan sinyal mielin di precentral gyrus dan posterior cingulate cortex. Artinya, hilangnya gejala tidak selalu berarti seluruh karakteristik jaringan otak telah kembali seperti kondisi kelompok yang tidak pernah terinfeksi.
2. Struktur mikroskopis jaringan otak ikut menunjukkan perbedaan
Para peneliti juga mengamati pergerakan molekul air di dalam jaringan otak menggunakan diffusion tensor imaging. Pada jaringan yang sehat, air bergerak dalam pola tertentu, sedangkan perubahan pola tersebut dapat mengindikasikan adanya perubahan pada struktur mikroskopis jaringan.
Pasien long COVID menunjukkan penurunan difusi air di sejumlah wilayah otak dibandingkan kelompok yang tidak pernah terinfeksi. Kelompok yang telah pulih juga menunjukkan penurunan difusi di bagian caudate, wilayah yang berperan dalam proses belajar dan memori.
3. Komposisi zat kimia otak juga berbeda
Pemindaian menggunakan magnetic resonance spectroscopy menemukan perbedaan neurokimia antara peserta dengan long COVID dan mereka yang telah pulih. Pasien long COVID memiliki kadar N-acetyl-aspartate yang lebih tinggi, zat yang berkaitan dengan metabolisme energi neuron.
Sebaliknya, peserta yang telah pulih memiliki kadar glutamin lebih tinggi. Zat tersebut merupakan asam amino yang digunakan sel otak untuk energi dan berkaitan dengan regulasi sistem imun.
4. Perubahan mielin berkaitan dengan tingkat keparahan gejala
Temuan yang cukup penting muncul ketika hasil pemindaian dibandingkan dengan kondisi pasien long COVID. Sinyal mielin yang lebih rendah di middle temporal gyrus berkaitan dengan gangguan fisik yang lebih berat.
Sementara itu, sinyal mielin yang lebih rendah di bagian midbrain berkorelasi dengan gangguan kognitif yang lebih buruk. Hubungan ini menunjukkan bahwa kondisi mielin mungkin memiliki kaitan dengan tingkat keparahan gejala long COVID, meskipun penelitian tersebut belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
5. Penelitian belum membuktikan perubahan tersebut bersifat permanen
Para peneliti menekankan bahwa hasil ini masih merupakan gambaran awal. Studi hanya melibatkan 47 peserta dan pemindaian dilakukan pada satu titik waktu, sehingga belum dapat diketahui apakah perubahan tersebut akan menetap, membaik, atau kembali normal dalam jangka panjang.
Para peneliti juga belum dapat memastikan apakah peningkatan sinyal mielin mencerminkan proses perbaikan jaringan atau justru peradangan yang masih berlangsung. Penelitian dengan jumlah peserta lebih besar dan pemantauan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun diperlukan untuk menjawab pertanyaan tersebut.
Studi ini menunjukkan bahwa infeksi COVID-19 mungkin meninggalkan perubahan biologis pada otak bahkan setelah seseorang merasa telah pulih. Namun, temuan tersebut belum berarti setiap penyintas COVID-19 mengalami kerusakan otak permanen.
Yang lebih penting, penelitian ini membuka petunjuk baru mengenai mengapa sebagian orang tetap mengalami gangguan fisik dan kognitif setelah infeksi, sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan dari COVID-19 mungkin tidak selalu terlihat dari hilangnya gejala saja.