JawaPos.com - Iran mendesak Amerika Serikat mengakui kekalahannya dalam konflik di Timur Tengah sebagai syarat untuk mengakhiri kebuntuan.
Tehran juga menegaskan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali Iran dan tidak akan dibuka berdasarkan tekanan Washington.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi secara terbuka meminta Presiden AS Donald Trump menerima kenyataan bahwa Amerika telah mengalami kekalahan strategis dan berat.
"Selat itu akan ditutup dan dibuka hanya di bawah komando Iran, dan selama Anda tidak menerima kenyataan kekalahan dan berhenti terlibat dalam fantasi, Iran akan terus menegakkan blokade," tulis Gharibabadi di X.
Baca Juga: Iran Siap Hadapi Perang Panjang dengan AS, 75 Persen Rudal dan Drone Masih Utuh
"Sekali dan untuk selamanya, terimalah kenyataan: Sampai saat ini, Anda telah mengalami kekalahan strategis dan berat; Selat Hormuz adalah milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran," lanjutnya.
Pernyataan itu disampaikan setelah Trump mengklaim Amerika Serikat akan segera menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS setelah perang dengan Iran berakhir.
Gharibabadi menempatkan pengakuan atas kekalahan Amerika sebagai bagian penting dari pesan Tehran kepada Washington. Iran menilai tekanan militer dan politik AS belum berhasil mengubah posisi Iran terkait Selat Hormuz.
Baca Juga: Trump Ingin Kuasai Selat Hormuz, Iran Tegaskan Tetap di Bawah Kendali
Penegasan serupa disampaikan Kepala Kehakiman Iran Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i. Media pemerintah Iran mengutip pernyataannya yang menyebut Trump sebagai 'pecundang sepenuhnya yang sudah matang di arena politik dan pertempuran militer yang sulit'.
Ia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Iran.
"Apa yang tidak dapat dicapai oleh kapal induk bernilai miliaran dolar tidak akan tercapai dengan beberapa tweet dan pidato," katanya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Tehran tidak menganggap ancaman kapal induk maupun pernyataan Trump cukup untuk memaksanya membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Sebelumnya diberitakan, di tengah tuntutan Iran agar AS mengakui kekalahan, Trump justru mengeluarkan pernyataan yang berlawanan.
Dalam sebuah kampanye politik di New York pada Sabtu, Trump mengatakan Amerika Serikat akan mengambil alih Selat Hormuz setelah mengalahkan Iran.
Baca Juga: Trump Akan Jadikan Selat Hormuz Wilayah AS, Iran Tegaskan Masih di Bawah Kendalinya
Trump juga mengatakan warga Amerika harus bersedia membayar harga bensin yang lebih tinggi selama konflik berlangsung. Menurutnya, membayar harga BBM sedikit lebih mahal layak dilakukan untuk memastikan 'a very evil country' tidak memiliki senjata nuklir.
Dua pernyataan yang bertolak belakang itu menunjukkan belum adanya titik temu antara Washington dan Tehran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Tehran tidak akan melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat sampai Washington memenuhi sejumlah persyaratan.
Iran menuntut AS membayar reparasi perang sebagai salah satu syarat untuk mengakhiri permusuhan dan membuka kembali Selat Hormuz. Pemerintah Iran memperkirakan kerugian akibat konflik mencapai USD 270 miliar.
Tehran juga menuntut Amerika Serikat mengakhiri blokade laut, mencabut sanksi ekonomi, menarik pasukannya dari kawasan, serta membebaskan aset Iran yang dibekukan.Rubrik/Kanal: Internasional