JawaPos.com - Laksamana Brad Cooper, komandan Komando Pusat Amerika Serikat atau US Central Command (USCENTCOM) yang mengawasi operasi perang dengan Iran, mengunjungi kapal induk USS Abraham Lincoln pada Sabtu ketika kapal perang tersebut bersiap mengakhiri penugasan selama sembilan bulan.
Kunjungan itu berlangsung di tengah sorotan terhadap kondisi kru yang disebut menghadapi kekurangan pasokan, masalah saluran air hingga tekanan kesehatan mental setelah berbulan-bulan tidak mendapat kesempatan singgah di pelabuhan.
Dalam keterangan resminya, disebut kalau kunjungan Cooper dilakukan di penghujung tur regional selama 10 hari yang membawanya ke Bahrain, Irak, Israel, Yordania, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
USS Abraham Lincoln menjadi salah satu unsur utama dalam operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran sekaligus mendukung blokade yang diperintahkan Presiden Donald Trump terhadap pelabuhan Iran.
Baca Juga: Wali Nanggroe Ajak Masyarakat Aceh Rawat Perdamaian Lewat Perjanjian Helsinki
Kapal induk tersebut telah menghabiskan lebih dari 200 hari di zona tempur dan meluncurkan lebih dari 10.000 sortie selama penugasannya, menurut Penjabat Menteri Angkatan Laut AS Hung Cao.
Cooper menggambarkan pengerahan USS Abraham Lincoln sebagai salah satu penugasan paling intensif secara operasional dan paling menentukan dalam era modern.
Kru USS Abraham Lincoln Disorot
Di balik tingginya tempo operasi kapal induk tersebut, kondisi para awak menjadi perhatian. Laporan mengenai USS Abraham Lincoln menyebut kru menghadapi memburuknya kondisi kehidupan, keterbatasan pasokan, persoalan plumbing atau saluran air, serta masalah kesehatan mental setelah berbulan-bulan tanpa kunjungan ke pelabuhan.
Senator Partai Demokrat di Senat AS pada Sabtu meminta Menteri Pertahanan Pete Hegseth memberikan penjelasan mengenai kondisi di kapal. Mereka memperingatkan bahwa situasi tersebut berpotensi memburuk hingga mengancam keselamatan dan kesejahteraan para awak.
Tekanan terhadap kondisi kru juga muncul setelah seorang pejabat AS mengonfirmasi bahwa seseorang jatuh ke laut dari kapal pada awal Agustus. Orang tersebut, menurut pejabat itu, berhasil segera diselamatkan.
Persoalan ini menjadi semakin sensitif karena USS Abraham Lincoln masih berada dalam rangkaian operasi dengan tempo tinggi setelah berbulan-bulan berada di kawasan konflik.
Sebelumnya, Hegseth membantah laporan mengenai kondisi di atas USS Abraham Lincoln. Ia menyebut pemberitaan mengenai situasi kapal telah disajikan secara keliru.
Cao juga memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi mental para awak. Ia mengatakan hanya terdapat sejumlah kecil kasus kesehatan mental dan tidak ada korban jiwa akibat persoalan tersebut.
Menurut Cao, pola makan awak juga disesuaikan ketika pasokan ulang tidak tersedia. Namun, ia menegaskan tidak ada makanan yang sampai terlewatkan.
Baca Juga: 5.000 orang Mengungsi Akibat Gempa M 7,7 NTT: Butuh Bantuan Tenda Hingga Beras
Keterangan tersebut muncul ketika perhatian publik dan politik AS meningkat terhadap dampak penugasan panjang kapal induk yang telah berada di kawasan operasi selama berbulan-bulan.
Presiden Donald Trump sebelumnya juga mengecilkan lamanya penugasan USS Abraham Lincoln. Pada Jumat, Trump mengatakan pengerahan tersebut belum mendekati cukup lama.
Pernyataan Trump sekaligus mengindikasikan bahwa USS Abraham Lincoln akan digantikan kapal induk lain untuk menjaga keberlanjutan operasi AS di kawasan.
Langkah tersebut menjadi penting karena Washington berencana mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran selama diperlukan. Kapal-kapal AS akan dirotasi untuk menjaga operasi tetap berlangsung.
Hegseth bahkan mengatakan pekan ini bahwa operasi tersebut dapat berlanjut tanpa batas waktu yang ditentukan.
Jika blokade berlangsung lebih lama, tekanan terhadap personel Angkatan Laut AS berpotensi ikut meningkat.
Para awak kapal yang sudah menjalani tempo operasi tinggi harus kembali mempertahankan kesiapan dalam kondisi penugasan yang panjang.