JawaPos.com - Aturan yang mendorong warga membatasi penggunaan smartphone, konsol gim, dan perangkat digital lainnya hingga dua jam sehari mulai menunjukkan dampak di Kota Toyoake, Prefektur Aichi, Jepang.
Seperti dilansir Kyodo, Sabtu (15/8), sekitar 5 persen warga yang mengetahui aturan tersebut mengaku telah mengurangi waktu penggunaan perangkat digital.
Dalam survei mengenai dampak aturan yang diperkenalkan Toyoake pada Oktober tahun lalu, sebanyak 86 dari 1.670 responden yang mengetahui aturan tersebut, atau 5,1 persen, mengatakan durasi penggunaan mereka berkurang.
"Meski ini merupakan peraturan yang tidak mengikat, telah terjadi perubahan tertentu. Saya terkejut bahwa waktu penggunaan berkurang pada sekitar 5 persen responden," kata Wali Kota Toyoake Masafumi Kouki dalam konferensi pers mengenai hasil survei tersebut.
Ia mengatakan pemerintah kota perlu terus melakukan sosialisasi dalam jangka panjang.
Aturan tersebut merekomendasikan warga membatasi penggunaan smartphone, konsol gim, dan perangkat digital lainnya di luar keperluan pekerjaan dan sekolah hingga dua jam per hari.
Tidak ada sanksi bagi warga yang melanggar aturan tersebut. Kebijakan Toyoake diyakini menjadi peraturan pemerintah daerah pertama di Jepang yang secara khusus mengatur batas waktu penggunaan perangkat digital.
Kebijakan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran di Jepang dan berbagai negara mengenai dampak penggunaan gadget secara berlebihan, terutama terhadap tidur, kesehatan, dan interaksi keluarga anak-anak.
Australia dan Indonesia termasuk negara yang telah melarang anak-anak di bawah usia 16 tahun menggunakan sejumlah platform media sosial utama. Inggris dan Denmark juga mengumumkan rencana menerapkan batasan usia serupa.
Survei Toyoake melibatkan warga berusia 16 hingga 80 tahun dan memungkinkan responden memberikan lebih dari satu jawaban.
Selain mengurangi durasi penggunaan, 27,1 persen responden mengatakan mereka menjadi lebih memperhatikan screen time atau cara menggunakan perangkat digital.
Sebanyak 11,1 persen mengatakan mereka mulai membicarakan aturan penggunaan perangkat dengan anggota keluarga atau orang lain.
Survei juga menunjukkan 4,6 persen responden merasa komunikasi dengan anggota keluarga meningkat, sedangkan 3,8 persen mengatakan mereka mendapatkan waktu tidur lebih banyak.
Survei dilakukan pada Maret dan April dengan 1.907 jawaban yang dinyatakan valid. Sebanyak 87,6 persen responden mengetahui keberadaan aturan tersebut.
Pada musim semi sebelumnya, pemerintah Kota Toyoake juga telah merilis hasil survei terpisah mengenai penggunaan perangkat digital yang melibatkan siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, serta orang tua.