← Beranda
Erdogan: Netanyahu Ingin Hapus Palestina dari Agenda Dunia
Rian AlfiantoJumat, 14 Agustus 2026 | 06.28 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Reuters)

JawaPos.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memberikan bocoran kalau pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berusaha menghapus isu Palestina dari perhatian dunia dengan memanfaatkan kekacauan dan konflik baru di Timur Tengah.

Informasi tersebut disampaikan Erdogan dalam konferensi pers bersama Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Ankara, Rabu (12/8). Ia menegaskan Turki akan tetap mendukung pembentukan negara Palestina meski Israel disebut berupaya menggeser isu tersebut dari agenda internasional.

"Tujuan pemerintahan Netanyahu adalah untuk mengeluarkan Palestina dari agenda bersama umat manusia dengan mengambil keuntungan dari kekacauan dan konflik baru di wilayah tersebut," kata Erdogan dikutip via Free Malaysia Today.

Baca Juga: Simak, Jadwal Waktu Shalat Bagi Wilayah Tasikmalaya Besok Jumat, 14 Agustus 2026

Erdogan menilai strategi tersebut pada akhirnya tidak akan berhasil. Menurutnya, tekanan terhadap perjuangan Palestina justru tidak akan menghilangkan dukungan publik terhadap isu tersebut.

"Tidak peduli apa yang mereka lakukan, mereka tidak akan berhasil. Perjuangan Palestina akan terus tumbuh di hati masyarakat saat mereka mencoba menghancurkannya," ujarnya.

Pernyataan terbaru Erdogan mempertegas sikap keras Turki terhadap kebijakan Israel. Erdogan selama ini dikenal sebagai salah satu pemimpin yang paling vokal mendukung Palestina.

Ia berulang kali mengecam pemerintahan Netanyahu dan menuduh Perdana Menteri Israel tersebut melakukan genosida di Gaza. Erdogan juga menuding Israel menjalankan kebijakan ekspansionis di Tepi Barat, Lebanon, Suriah dan wilayah lainnya.

Dalam pertemuan dengan Abbas, isu Palestina dibahas bersamaan dengan perkembangan konflik dan ketegangan yang berlangsung di Timur Tengah.

Abbas tiba di Ankara pada Sehari sebelumnya bersama penasihat diplomatiknya, Majdi Khalidi, Kepala Intelijen Palestina Majed Faraj, serta pejabat senior Palestina Ziad Abu Amr.

Sehari kemudian, ia bertemu Erdogan untuk membahas perkembangan kawasan. Abbas menyebut pembicaraan tersebut sebagai pertemuan yang 'penting dan bermanfaat'.

Pertemuan Erdogan dan Abbas juga menyoroti rencana pemilihan umum Palestina. Bulan lalu, Abbas yang berusia 90 tahun mengumumkan pemilihan legislatif Palestina akan digelar pada 28 November, kemudian dilanjutkan pemilihan presiden pada awal tahun depan.

Jika terlaksana, pemilu legislatif tersebut akan menjadi pemungutan suara pertama dalam dua dekade.

Erdogan menyambut rencana tersebut dengan harapan pemilu dapat membantu memperbaiki hubungan politik internal Palestina, terutama di tengah rivalitas panjang antara gerakan Fatah yang dipimpin Abbas dan Hamas yang menguasai Gaza.

"Saya berharap keputusan untuk mengadakan pemilihan legislatif dan presiden di Palestina setelah sekian lama akan membawa keberuntungan.. (dan) akan memajukan proses rekonsiliasi," kata Erdogan.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Ankara tidak hanya menempatkan isu Palestina dalam konteks konflik dengan Israel, tetapi juga melihat rekonsiliasi politik internal sebagai bagian penting dari masa depan Palestina.

Dalam kesempatan yang sama, Abbas menyampaikan pandangannya mengenai pakta pertahanan yang disepakati Turki, Arab Saudi dan Pakistan pada 7 Agustus.

Ia menyebut kesepakatan tersebut sebagai sesuatu yang 'yang sangat penting' dan berharap kerja sama itu dapat memperkuat keamanan serta stabilitas di kawasan.

Bagi Palestina, dukungan negara-negara kawasan menjadi semakin penting ketika Timur Tengah menghadapi ketegangan yang meluas.

Sementara itu, pernyataan Erdogan memperlihatkan bahwa Turki berupaya mempertahankan isu Palestina sebagai agenda utama dalam diplomasi regional.

Ankara juga menegaskan komitmennya terhadap pembentukan negara Palestina, meski dinamika konflik Timur Tengah terus berubah.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah