JawaPos.com - Krisis makanan dan kerusakan fasilitas dasar di USS Abraham Lincoln dilaporkan semakin memperburuk kondisi mental para awak kapal. Setelah sekitar 250 hari terus berada di laut, para pelaut disebut menghadapi keterbatasan makanan, toilet rusak, kamar mandi berjamur, hingga layanan laundry yang tidak berfungsi selama berminggu-minggu.
Persoalan tersebut muncul ketika kesehatan mental kru sudah berada di bawah tekanan akibat penugasan yang terus diperpanjang. Sejumlah pelaut sebelumnya dilaporkan mengalami tekanan emosional berat, bahkan ada yang disebut mencoba melompat dari kapal.
USS Abraham Lincoln seharusnya mengakhiri penugasannya pada Mei. Namun, kapal itu masih berada di laut tanpa tanggal kepulangan yang diumumkan secara terbuka.
Baca Juga: Terpaksa Pasang Box Trap di Agam, BKSDA Sumbar Jamin Kelestarian Harimau Sumatera
Makanan Makin Terbatas, Kebutuhan Dasar Ikut Langka
Keluhan awak kepada keluarga menunjukkan persoalan di kapal tidak hanya menyangkut lamanya masa penugasan.
Menurut laporan The Independent, sejumlah pelaut mengaku hanya mendapatkan sekitar setengah cangkir nasi dan dua tortilla dalam satu kali makan. Persediaan kebutuhan sehari-hari seperti sabun dan pasta gigi juga disebut telah habis.
Keluarga awak turut mengeluhkan fasilitas toilet yang rusak, kamar mandi berjamur, serta layanan laundry yang tidak tersedia selama berminggu-minggu.
Kondisi tersebut menjadi persoalan serius karena USS Abraham Lincoln telah berada di laut selama sekitar 250 hari berturut-turut. Dalam penugasan panjang, kapal perang biasanya singgah di pelabuhan untuk mengisi kembali persediaan, melakukan pemeliharaan, dan memberi kesempatan awak beristirahat.
Namun, kapal tersebut terus menjalankan misi setelah penugasannya diperpanjang tanpa batas waktu yang diumumkan.
Keterbatasan makanan dan rusaknya fasilitas dasar terjadi ketika kondisi psikologis sejumlah awak sudah dilaporkan mengkhawatirkan.
Salah satu pasangan awak, Annabelle Loma, mengatakan kepada Military Times bahwa suaminya pernah mencoba melompat dari kapal dan kini berada dalam status medical hold. Masa penugasannya, kata Loma, telah beberapa kali diperpanjang.
Dalam insiden lain, seorang pelaut disebut berhasil mencegah rekannya melompat ke laut setelah melihatnya bersiap meninggalkan dek.
Angkatan Laut AS belum mengungkapkan jumlah pasti pelaut yang dilaporkan mencoba melompat dari kapal atau melakukan tindakan menyakiti diri selama penugasan USS Abraham Lincoln.
Kondisi tersebut membuat persoalan makanan, sanitasi, dan waktu istirahat tidak bisa dilihat sekadar sebagai masalah kenyamanan. Bagi awak yang telah berbulan-bulan berada di laut, tekanan fisik dan lingkungan yang buruk dapat menjadi tambahan beban psikologis.
Sementara itu, Bonnie York, yang anak tirinya berada di USS Abraham Lincoln, mengatakan kondisi moral awak kapal sudah mengkhawatirkan.
"Moralnya tidak baik. Dokter atau terapis kapal mengatakan bahwa mereka perlu segera tiba di pelabuhan atau orang-orang akan mulai... kehilangan akal sehat mereka," kata York kepada The Independent.
Pernyataan tersebut menunjukkan bagaimana kondisi fisik kapal dan tekanan mental awak mulai saling berkaitan. Ketika kebutuhan dasar sulit dipenuhi dan masa penugasan terus diperpanjang, tekanan psikologis dapat semakin berat.
Angkatan Laut AS sendiri mengakui adanya sejumlah persoalan logistik dan perpipaan di kapal serta menyatakan perbaikan sedang dilakukan. Para awak juga disebut memiliki akses ke konselor, pendeta militer, tenaga medis, dan layanan kesehatan mental.
Angkatan Laut sebelumnya juga menyatakan bahwa 'psychological readiness' setiap pelaut terus dipantau.
Namun, keluarga masih mempertanyakan apakah dukungan tersebut cukup untuk menghadapi tekanan yang muncul setelah ratusan hari menjalani penugasan di laut.
Krisis di USS Abraham Lincoln juga mengingatkan pada persoalan yang sebelumnya muncul di kapal perang AS lainnya.
USS Tripoli dan USS Gerald Ford pernah dilaporkan mengalami masalah saluran pembuangan dan kekurangan makanan. Angkatan Laut AS saat itu membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai informasi palsu.
USS Gerald Ford juga sempat menjadi sorotan setelah muncul spekulasi bahwa kebakaran di kapal pada Mei mungkin berkaitan dengan awak yang kelelahan. Angkatan Laut AS kemudian membuka penyelidikan atas insiden tersebut.
Rangkaian persoalan itu menunjukkan bahwa bagi awak kapal perang yang menjalani operasi berkepanjangan, makanan, air bersih, toilet, kebersihan, dan kesempatan beristirahat bukan sekadar fasilitas pendukung.