JawaPos.com - Krisis kesehatan mental dilaporkan semakin memburuk di tengah awak USS Abraham Lincoln setelah kapal induk Amerika Serikat itu menjalani lebih dari 250 hari penugasan tanpa kembali ke pelabuhan selama lebih dari 200 hari.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran serius, mulai dari dugaan percobaan bunuh diri hingga ketegangan antara keluarga awak kapal dan pimpinan Angkatan Laut AS.
Kondisi di kapal yang membawa sekitar 5.000 pelaut dan Marinir itu kini menjadi perhatian anggota Kongres. Mereka menyoroti bukan hanya tekanan psikologis akibat penugasan panjang, tetapi juga persoalan kebutuhan dasar seperti makanan, air, sanitasi, hingga jam kerja yang sangat berat.
Baca Juga: Geger Macan Kumbang Masuk Permukiman Warga di Batang, Kondisinya Terluka
Laporan mengenai kondisi tersebut muncul ketika USS Abraham Lincoln masih menjalankan misi di kawasan Timur Tengah, setelah sebelumnya dikerahkan untuk bertugas di Laut China Selatan.
Kapal itu kemudian dialihkan menuju Timur Tengah menjelang serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.
Melansir Times of Israel, Senator AS Richard Blumenthal meminta Departemen Pertahanan memberikan penjelasan mengenai kondisi yang dihadapi para awak USS Abraham Lincoln.
Dalam surat kepada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Blumenthal menyoroti lamanya masa penugasan kapal tersebut. USS Abraham Lincoln disebut telah berada dalam penugasan selama lebih dari 250 hari dan tidak singgah ke daratan selama lebih dari 200 hari, yang disebut sebagai rekor untuk jumlah hari berturut-turut di laut.
Blumenthal juga mengungkap adanya laporan mengenai berbagai persoalan di kapal, termasuk kekurangan kebutuhan dasar, dugaan kontaminasi air, masalah saluran pembuangan, memburuknya kesehatan mental awak, serta persoalan keselamatan di geladak.
Kondisi tersebut menjadi semakin serius karena sejumlah awak kapal dilaporkan mengalami masalah kesehatan mental berat. Bahkan, muncul laporan mengenai upaya bunuh diri dan ancaman untuk melompat dari kapal.
Senator Ruben Gallego, yang juga pernah bertugas aktif di militer, menggambarkan kondisi tersebut sebagai tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.
"Kisah-kisah anggota kru yang mengancam untuk melompat dari kapal adalah lonceng alarm yang menakutkan tentang betapa buruknya situasinya: hujan yang berjamur, air panas sporadis, makanan dan sabun yang dijatah, toilet yang rusak, dan shift 12 hingga 16 jam yang melelahkan tanpa hari libur," kata Gallego.
Menurut Gallego, persoalan tersebut terjadi bersamaan dengan kondisi fisik kapal yang disebut semakin sulit ditanggung, mulai dari kamar mandi berjamur, pasokan air panas yang tidak menentu, makanan dan sabun yang dijatah, toilet rusak, hingga jam kerja 12 sampai 16 jam tanpa hari libur.
Tekanan yang dialami awak kapal juga mulai merembet ke hubungan antara keluarga mereka dan jajaran pimpinan Angkatan Laut AS.
Dalam dua pertemuan terbaru, sejumlah anggota keluarga awak USS Abraham Lincoln dilaporkan terlibat perselisihan dengan pimpinan Angkatan Laut terkait kondisi kehidupan di kapal.
Mereka mempertanyakan kekurangan makanan dan kondisi kerja yang berat, sekaligus mendesak kepastian kapan anggota keluarga mereka dapat kembali ke rumah.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan di USS Abraham Lincoln bukan sekadar masalah logistik. Lamanya kapal berada di laut, tekanan operasi militer dan jauhnya awak dari keluarga berpotensi memperburuk beban psikologis personel.
Meski demikian, laporan yang tersedia menyebut adanya benturan antara keluarga awak dan pimpinan Angkatan Laut, bukan memastikan terjadinya kerusuhan massal di dalam kapal.
Karena itu, persoalan tersebut lebih tepat dipahami sebagai eskalasi ketegangan di tengah krisis kondisi awak.
Gallego meminta dilakukan kunjungan pengawasan resmi oleh delegasi bipartisan Senat ke USS Abraham Lincoln untuk menyelidiki laporan mengenai kondisi yang mengkhawatirkan tersebut.
Dalam unggahannya di X, Gallego menilai masalah yang dihadapi para personel sudah berada pada tingkat yang membutuhkan pemeriksaan langsung.
"Cara [Presiden AS Donald Trump] memperlakukan anggota militer kami saat ia melancarkan perang ilegal ini tidak hanya menjijikkan, tetapi juga berbahaya," tulisnya.
Permintaan tersebut memperlihatkan bahwa kondisi internal USS Abraham Lincoln mulai menjadi persoalan politik dan pengawasan militer di Amerika Serikat.