← Beranda
Taiwan Kecam Latihan Laut Tiongkok-Indonesia, TNI AL Sebut Bukan untuk Tempur
Dhimas GinanjarKamis, 13 Agustus 2026 | 18.07 WIB
KRI I Gusti Ngurah Rai (GNR-332) singgah di Dermaga Samla Satuan Kapal Patroli Lantamal VIII Bitung setelah Latma Rimpac Tahun 2022. (ANTARA/HO-Dispen Lantamal VIII)

JawaPos.com - Taiwan mengecam latihan angkatan laut Tiongkok dan Indonesia di perairan sebelah timur Taiwan. Namun, TNI Angkatan Laut (AL) menegaskan latihan tersebut tidak berorientasi tempur dan merupakan bagian dari kerja sama serta hubungan baik antarnegara.

Seperti dilansir Kyodo, Kamis (13/8), Kementerian Luar Negeri Taiwan menyebut latihan tersebut sebagai tindakan "sewenang-wenang dan tidak bertanggung jawab" yang berpotensi meningkatkan ketegangan di kawasan.

Kementerian tersebut menuduh Beijing melakukan tindakan sepihak yang provokatif dan dapat menciptakan ketidakstabilan serta ancaman bagi kawasan.

Militer Tiongkok kemudian mengonfirmasi bahwa latihan bersama dengan Indonesia memang berlangsung di dekat Taiwan pada Rabu.

Dalam latihan tersebut, kapal fregat angkatan laut Tiongkok dan Indonesia melakukan latihan komunikasi serta pengisian ulang logistik di laut. Menurut Kementerian Pertahanan Tiongkok, kegiatan itu bertujuan meningkatkan kemampuan operasi bersama dan memperdalam kerja sama praktis kedua negara.

TNI AL sebelumnya menyatakan fregat KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dijadwalkan melakukan passing exercise dengan sejumlah negara dalam perjalanan pulang dari Vladivostok, Rusia. TNI AL menegaskan latihan tersebut "tidak berorientasi tempur."

Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Tunggul mengatakan latihan semacam itu merupakan bagian dari hubungan baik antarnegara dan bentuk kerja sama yang saling menguntungkan dalam diplomasi Indonesia.

Sementara itu, Asisten Deputi Kepala Staf Umum Taiwan untuk intelijen, Wu Tien-jen, mengatakan di parlemen bahwa kapal perang Indonesia yang disebut Beijing ikut dalam latihan tersebut sebenarnya menjalankan kegiatan dengan sejumlah negara lain dan tidak secara khusus menuju latihan bersama angkatan laut Tiongkok.

Menurut Wu, latihan tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap Taiwan dari sisi militer. Namun, ia menilai kegiatan itu tetap memiliki "signifikansi geopolitik."

Taiwan semakin meningkatkan perhatian terhadap aktivitas maritim Tiongkok di sekitar wilayahnya. Beijing mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan dalam beberapa waktu terakhir meningkatkan operasi maritim di perairan sebelah timur pulau tersebut.

Peningkatan aktivitas itu antara lain terjadi setelah Jepang dan Filipina pada Mei sepakat memulai pembicaraan mengenai delimitasi maritim. Beijing menilai langkah tersebut berpotensi melanggar kedaulatan teritorialnya.

Taiwan juga menjadi rumah bagi lebih dari 300.000 pekerja migran asal Indonesia. Banyak di antara mereka bekerja di sektor manufaktur, perawatan, serta sebagai pekerja rumah tangga.

Ketegangan di Selat Taiwan meningkat sejak Presiden Taiwan Lai Ching-te menjabat pada 2024. Beijing menyebut Lai sebagai "separatis".

Tiongkok dan Taiwan telah diperintah secara terpisah sejak 1949 setelah berakhirnya perang saudara di Tiongkok. Taiwan mempertahankan pemerintahan demokratisnya, sementara Beijing dipimpin Partai Komunis Tiongkok.

EDITOR: Dhimas Ginanjar