← Beranda
Shenzhen Mampu Bangun Robot dalam 30 Menit, Ekosistem Industri Tiongkok Pacu Dominasi Robotika
Mellyna Putri DiniarKamis, 13 Agustus 2026 | 03.47 WIB
Pajangan robot humanoid untuk pertandingan di basis manufaktur cerdas EngineAI, Robot Valley, Shenzhen, Guangdong, Tiongkok / Foto: (Global Times)

JawaPos.com — Sebuah robot humanoid dapat dikirim dari pusat penelitian ke lokasi penerapan di Shenzhen hanya dalam waktu sekitar 30 menit. Namun, angka tersebut bukan sekadar soal kecepatan pengiriman. 

Di baliknya terdapat ekosistem industri yang mempertemukan produsen robot, pemasok komponen, pusat penelitian, lini manufaktur, hingga pengguna dalam jarak berdekatan, sehingga perubahan desain dapat segera diuji dan dikembangkan kembali.

Gambaran itu terlihat ketika pengemudi Cao Jing membawa robot humanoid dari pusat penelitian dan pengembangan sebuah perusahaan robotika menuju panti jompo di Shenzhen. 

Sejak Maret dan April, dia menerima empat atau lima pesanan pengiriman robot per hari pada periode sibuk, mulai dari prototipe penelitian, robot rumah tangga untuk pengujian, robot kompetisi hingga robot yang digunakan dalam pertandingan.

Dilansir dari Global Times, Rabu (12/8/2026), kawasan tersebut berada dalam “lingkaran 30 menit” Robot Valley, yang membentang sekitar 10 kilometer di sepanjang Liuxian Road dan mencakup sekitar 28 kilometer persegi. Dalam kawasan itu terdapat lebih dari 200 perusahaan sepanjang rantai industri robotika, termasuk lebih dari 25 produsen robot humanoid, 32 perusahaan berstatus little giant dan 15 perusahaan tercatat di bursa.

Bagi pengembang, kedekatan tersebut memangkas waktu antara penelitian dan pengujian. Li Hao, insinyur algoritma kendali gerak EngineAI, mengatakan, “Dalam pertarungan robot, kami harus selalu siap menghadapi pengujian dunia nyata berintensitas tinggi.” Robot harus mempertahankan kestabilan saat bergerak, berbelok, memukul, menerima benturan, dan mengubah pusat gravitasi, sehingga pengujian berulang menjadi bagian penting pengembangan.

Karena itu, Li dapat mengubah algoritma pada pagi hari, berkendara sekitar 25 menit menuju basis manufaktur Honghualing untuk menguji robot secara langsung, lalu kembali ke pusat penelitian pada sore hari untuk melakukan penyempurnaan. “Ini seperti mengajari bayi. Kami melatih robot agar semakin kuat sekaligus semakin cerdas, hari demi hari,” ujarnya.

Kecepatan tersebut juga ditopang kemampuan Shenzhen membuat prototipe dalam jumlah kecil tanpa harus melalui rantai pasok yang panjang. Pang Jianxin, wakil presiden UBTECH, mengatakan, “Kawasan ini memiliki keunggulan yang jelas dalam pembuatan prototipe dan iterasi produk secara cepat, yang memimpin dunia.” Menurutnya, pemasok di Shenzhen dan kawasan Delta Sungai Mutiara bersedia membantu perusahaan rintisan memilih material, menentukan proses produksi, membuat sampel, dan segera menguji hasilnya.

Dampaknya terlihat dalam perbandingan dengan pasar luar negeri. Liu Shaoshan, direktur bidang kecerdasan berwujud (embodied intelligence) di Shenzhen Institute of Artificial Intelligence and Robotics for Society, mengatakan proses dari gagasan menjadi produk fisik, pembuatan sampel, produksi skala kecil hingga produksi massal di Amerika Serikat dapat berlangsung lima hingga 10 kali lebih lama. 

“Robotika adalah industri yang kecepatannya hampir menentukan segalanya, karena separuhnya adalah manufaktur dan separuh lainnya adalah penelitian dan pengembangan,” katanya.

Rantai industri Shenzhen juga mencakup sensor taktil, LiDAR, motor servo, modul sendi, lengan robot dan tangan robotik, sementara industri otomotif, energi baru dan elektronik menyediakan berbagai skenario penerapan. Keunggulan tersebut mencerminkan perubahan besar industri robotika Tiongkok selama satu dekade terakhir. 

Data Beijing CCID Publishing & Media Co yang dikutip Global Times menunjukkan Tiongkok menyumbang 84,7 persen pengiriman robot humanoid global pada 2025. Strategi itu juga memperoleh dukungan kebijakan melalui Rencana Lima Tahun ke-15 periode 2026–2030, yang memasukkan kecerdasan buatan berwujud sebagai salah satu industri masa depan.

Dengan demikian, kekuatan Shenzhen terletak pada kemampuan menghubungkan penelitian, pemasok, manufaktur, pengujian dan penerapan dalam satu kawasan. Yao Qiyuan, salah satu pendiri EngineAI, melihat kemungkinan bahwa perkembangan tersebut pada akhirnya dapat mengubah posisi manusia dalam proses produksi robot. “Mungkin suatu hari nanti, robot akan mampu memproduksi robot di sini, di basis manufaktur kami. Itu bisa menjadi ‘momen DeepSeek’ yang menentukan.”

EDITOR: Setyo Adi Nugroho