JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Angkatan Laut AS kini menguasai 100 persen Selat Hormuz setelah membersihkan jalur tersebut dari ranjau laut. Namun, klaim penguasaan Washington belum berarti lalu lintas minyak dunia melalui salah satu jalur energi terpenting itu kembali normal dan dampaknya masih akan dirasakan masyarakat secara luas.
Iran tetap menolak membuka Selat Hormuz selama Amerika Serikat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Teheran bahkan menjadikan pembukaan jalur tersebut sebagai bagian dari tuntutan politik dan ekonomi kepada Washington.
Jika kondisi ini berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan Amerika Serikat dan Iran. Pasokan minyak global, harga energi, biaya pengiriman, hingga perekonomian negara-negara yang bergantung pada impor minyak berpotensi ikut terdampak.
Baca Juga: Eks Menag Yaqut Qoumas Bantah Terima Keuntungan Rp 4,8 Miliar dari Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji
Trump menyampaikan klaim penguasaan tersebut saat berbicara kepada wartawan di Oval Office, Senin (10/8).
"Sekarang sudah buka," kata Trump dikutip dari CNBC.
Ia bahkan menegaskan bahwa Amerika Serikat saat ini merupakan satu-satunya pihak yang menguasai Selat Hormuz.
"Satu-satunya yang memiliki kendali atas Selat Hormuz saat ini," ujar Trump.
Namun, posisi Iran menunjukkan bahwa persoalan Selat Hormuz belum benar-benar selesai.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?
Baca Juga: Perkuat Literasi Program JKN, BPJS Kesehatan Jalin Sinergi dengan Keuskupan Agung Jakarta
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Laut Arab. Jalur sempit tersebut menjadi rute penting bagi kapal tanker yang mengangkut minyak dan produk energi dari negara-negara produsen di kawasan Teluk.
Sebelum perang, sekitar seperlima minyak dunia melewati Selat Hormuz.
Karena itu, gangguan berkepanjangan di kawasan tersebut dapat dengan cepat memengaruhi keseimbangan pasokan minyak global.
Persoalannya bukan semata apakah kapal masih bisa melewati selat secara teknis, tetapi apakah perusahaan pelayaran dan operator tanker bersedia mengambil risiko berlayar di tengah konflik dan ketegangan militer.
Saat ini, lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz masih jauh lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum konflik.
Lloyd Chan, analis valuta senior MUFG Bank di Singapura, mengatakan kondisi tersebut masih menjadi perhatian pasar energi.
Menurut dia, aktivitas tanker yang tetap rendah membuat harga minyak berada jauh di atas level sebelum konflik.
Baca Juga: Liverpool Resmi Pinjam Bek Uruguay Ronald Araujo dari Barcelona
Apa Dampaknya Jika Iran Tetap Menutup Selat Hormuz?
Dampak pertama dan paling cepat terasa adalah kenaikan harga minyak.
Pasar minyak langsung merespons meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran pada awal pekan.
Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September melonjak sekitar 5 persen pada Senin dan ditutup di kisaran USD 82,13 per barel. Harga minyak Brent juga naik sekitar 5 persen hingga mencapai sekitar USD 87,72 per barel.
Harga kemudian masih bergerak sedikit lebih tinggi dalam perdagangan Asia pada Selasa.
Jika lalu lintas kapal tanker tetap terganggu dalam waktu lama, pasar akan menghadapi kekhawatiran mengenai berkurangnya pasokan yang tersedia. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan tekanan kenaikan harga minyak.
Baca Juga: Bank Jakarta Siap Bangun Biodigester Komunal Sampah Organik di Dua Rusunawa di Jakarta Utara
Bagi konsumen, kenaikan harga minyak dapat merembet ke harga bahan bakar. Dalam jangka lebih panjang, biaya transportasi dan produksi berbagai barang juga berpotensi meningkat karena energi merupakan komponen penting dalam rantai pasok.
Selain itu, penutupan atau pembatasan pelayaran di Selat Hormuz juga dapat meningkatkan biaya bagi perusahaan pelayaran.
Kapal tanker yang menghadapi risiko ranjau, serangan, atau konfrontasi militer membutuhkan perlindungan dan asuransi lebih tinggi. Jika sebagian kapal memilih menghindari kawasan tersebut, waktu tempuh dan biaya pengiriman juga dapat meningkat.
Efek akhirnya dapat terasa pada harga energi dan barang yang bergantung pada transportasi laut.
Risiko lainnya, harga minyak yang bertahan tinggi dalam waktu lama dapat menjadi masalah bagi perekonomian dunia.
Negara pengimpor minyak akan menghadapi tagihan energi yang lebih besar. Bagi perusahaan, biaya operasional dapat meningkat. Sementara bagi konsumen, kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi.
Artinya, konflik di sekitar Selat Hormuz berpotensi berubah dari persoalan geopolitik menjadi persoalan ekonomi global apabila gangguan pasokan berlangsung berkepanjangan.