← Beranda
Iran Pastikan Selat Hormuz Tak Akan Dibuka Sampai AS Bayar Kompensasi Perang
Rian AlfiantoSelasa, 11 Agustus 2026 | 01.51 WIB
Peta Selat Hormuz yang diterbitkan oleh Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di wilayah yang dikuasai oleh Angkatan Bersenjata Iran, 4 Mei 2026 (Screenshot/X/@IranIntl_En)

JawaPos.com - Iran mengungkapkan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran di Selat Hormuz hampir tercapai. Namun, pembukaan kembali jalur strategis tersebut belum otomatis terjadi karena Teheran menetapkan sejumlah syarat, termasuk kompensasi dari Amerika Serikat.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Oman telah mendekati kesepakatan. Pernyataan itu disampaikan pada Sabtu, ketika ketegangan di salah satu jalur pelayaran minyak paling penting dunia tersebut masih tinggi.

Menurut Araghchi, kesepakatan dengan Oman merupakan salah satu bagian dari upaya mengatur kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Namun, Iran masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan lain sebelum transit kapal dapat kembali berjalan seperti sebelumnya.

Baca Juga: Jeff Bezos Dikabarkan Segera Beli Saham Liverpool, Kesepakatan dengan FSG Bisa Terjadi Pekan Ini

Dilansir dari NHK, salah satu tuntutan utama Teheran adalah kompensasi dari Amerika Serikat atas apa yang disebut Iran sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman sebelumnya.

Dengan demikian, persoalan Selat Hormuz bukan hanya menyangkut pengaturan teknis jalur pelayaran. Pembukaannya juga terkait langsung dengan tuntutan Iran terhadap Amerika Serikat dalam negosiasi yang lebih luas.

Perkembangan tersebut muncul di tengah laporan bahwa perundingan antara Iran dan Amerika Serikat mengalami kebuntuan dalam beberapa hari terakhir.

The Wall Street Journal, mengutip seorang mediator yang terlibat dalam pembicaraan, melaporkan bahwa Iran menuntut keringanan finansial, sementara Amerika Serikat menginginkan lalu lintas kapal tidak lagi terhambat di Selat Hormuz.

Menurut laporan tersebut, Iran juga meminta keringanan sanksi agar dapat kembali menjual minyak serta mengakhiri blokade Amerika Serikat.

Tuntutan itu memperlihatkan bahwa pembukaan Selat Hormuz menjadi bagian dari tawar-menawar yang lebih besar. Bagi Iran, pemulihan akses ekonomi dan perdagangan menjadi salah satu kepentingan utama dalam pembicaraan.

Sementara bagi Amerika Serikat, kelancaran pelayaran menjadi prioritas karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global.

Washington sendiri menyatakan ingin melihat volume minyak dan gas yang keluar dari kawasan Teluk kembali ke tingkat sebelum konflik.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyampaikan posisi tersebut dalam wawancara dengan FOX News pada Sabtu lalu.

Vance mengatakan Iran sebelumnya telah menyampaikan kepada Amerika Serikat bahwa arus minyak dan gas akan kembali seperti sebelum konflik. Namun, Washington belum sepenuhnya mempercayai janji tersebut.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Amerika Serikat masih menunggu bukti konkret sebelum mempercayai komitmen Iran mengenai kelancaran pengiriman energi melalui kawasan Teluk.

Dengan kata lain, meski terdapat pembicaraan mengenai pembukaan jalur pelayaran, Washington masih melihat tindakan Iran di lapangan sebagai faktor penentu.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah