JawaPos.com — Sebuah bendera Nazi ditemukan di halaman rumah remaja berusia 14 tahun yang diduga melakukan penembakan massal di sebuah sekolah di Thailand, Jumat (7/8/2025).
Temuan tersebut muncul ketika polisi menyelidiki rangkaian peristiwa yang bermula dari rumah keluarga remaja itu di pinggiran Bangkok hingga berakhir dengan tewasnya delapan orang.
Dilansir dari Reuters, Sabtu (8/8/2025), polisi mengatakan remaja tersebut terlebih dahulu menembak mati kakek dan neneknya sekitar pukul 05.00 waktu setempat di rumah dua lantai mereka di Bang Bua Thong, kawasan yang berbatasan dengan persawahan dan berjarak sekitar 90 menit perjalanan dari pusat Bangkok.
Kedua lansia itu masing-masing tewas akibat satu tembakan di kepala. Polisi mengatakan senjata yang digunakan merupakan milik sang kakek dan menemukan indikasi bahwa remaja tersebut sempat mencari senjata itu di kamar kakeknya.
Bendera Nazi Berada di Halaman Rumah
Rumah tersebut menjadi salah satu lokasi penting dalam penyelidikan karena menjadi tempat awal rangkaian penembakan. Rumah itu dikelilingi pepohonan dan pagar beton, dengan kanal di bagian depan serta lahan kosong di belakang.
Di halaman rumah, polisi menemukan sebuah bendera Nazi berwarna merah dan putih. Namun, berdasarkan keterangan polisi kepada Reuters, bendera tersebut merupakan milik paman remaja tersebut.
Tidak ada keterangan dari polisi dalam laporan Reuters yang menyatakan bahwa bendera tersebut berkaitan dengan ideologi, motif, atau rencana penembakan. Karena itu, keberadaan bendera tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa remaja itu melakukan serangan karena alasan ideologis. Keberadaan orang tua remaja tersebut juga masih belum jelas.
Polisi Menemukan Pelaku di Lantai Empat
Ketika polisi tiba, remaja tersebut bergerak menuju bangunan lain, tetapi diduga mengubah arah setelah melihat petugas. Ia kemudian melarikan diri ke sebuah gedung empat lantai.
Petugas tanggap darurat Kiatikhun Verapongpradith, 47 tahun, mengatakan tim medis menemukan sejumlah siswa dengan luka di bagian punggung, dada, dan lengan. Polisi kemudian memasuki gedung menggunakan perisai setelah memastikan situasi dan jenis senjata yang digunakan pelaku.
Setelah siswa dan guru dievakuasi, polisi menyisir gedung lantai demi lantai. Remaja itu akhirnya ditemukan di lantai empat sekitar pukul 10.40 setelah menembak dirinya sendiri.
Ia masih hidup ketika ditemukan dan sempat mendapat CPR sebelum dibawa ke rumah sakit. Namun, remaja tersebut meninggal tidak lama kemudian.
Motif Penembakan Masih Belum Jelas
Motif serangan belum diketahui secara pasti. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan remaja tersebut mengalami tekanan akibat studinya dan menyebut serangan itu dilakukan secara sengaja serta telah direncanakan.
“Dia mengalami stres karena studinya,” kata Anutin kepada wartawan setelah mengunjungi sekolah.
Polisi juga mengatakan remaja tersebut mengikuti les tambahan pada akhir pekan. Ia disebut gemar bermain gim bertema menembak hingga tengah malam dan digambarkan sebagai anak yang pendiam, tidak terlalu mudah bergaul, tetapi cukup baik secara akademik.
Setelah festival Songkran pada April, remaja itu juga disebut pernah mengunggah foto senjata milik kakeknya dan menyatakan bahwa senjata tersebut memiliki izin.
Temuan Bendera Muncul di Tengah Sorotan Senjata Api
Penembakan tersebut menjadi penembakan massal paling mematikan di Thailand sejak 2022 dan kembali memicu sorotan terhadap kepemilikan serta aturan senjata api di negara tersebut. Reuters mencatat Thailand memiliki sekitar 15 senjata api untuk setiap 100 penduduk, menjadikannya salah satu negara dengan tingkat kepemilikan senjata tertinggi di Asia Tenggara.
Anutin mengatakan akan mengusulkan aturan baru untuk membatasi masyarakat membawa senjata api di tempat umum. Ia sebelumnya memperketat aturan senjata ketika menjabat sebagai menteri dalam negeri setelah penembakan massal sebelumnya.
“Sebisa mungkin, kita harus menciptakan suasana yang aman,” ujar Anutin.
Sementara itu, bendera Nazi yang ditemukan di halaman rumah menjadi salah satu detail yang muncul dalam pemeriksaan lokasi kejadian. Namun, hingga laporan Reuters tersebut diterbitkan, polisi belum mengaitkan bendera yang disebut milik paman remaja itu dengan motif penembakan yang menewaskan delapan orang dan melukai 23 lainnya.