JawaPos.com — Pagi yang semula tenang di sebuah rumah di pinggiran Bangkok berubah menjadi awal dari penembakan massal paling mematikan di Thailand sejak 2022.
Seorang remaja berusia 14 tahun diduga menembak mati kakek dan neneknya di rumah sebelum berangkat ke sekolah menggunakan kendaraan antar-jemput sambil membawa senjata dan puluhan peluru.
Beberapa jam kemudian, lima staf sekolah tewas dan 23 orang lainnya terluka sebelum remaja tersebut mengakhiri hidupnya dengan menembak dirinya sendiri.
Dilansir dari Reuters, Sabtu (8/8/2025), polisi mengatakan dua lansia tersebut masing-masing tewas akibat satu tembakan di kepala sekitar pukul 05.00 waktu setempat pada Jumat (7/8).
Keduanya tinggal bersama sang cucu di rumah dua lantai di Bang Bua Thong, Thailand, kawasan yang berbatasan dengan persawahan dan berjarak sekitar 90 menit perjalanan dari pusat Bangkok.
Senjata Milik Kakek Digunakan dalam Penembakan
Kepala Kepolisian Bang Bua Thong, Kolonel Polisi Thadsakorn Konthong, mengatakan senjata yang digunakan remaja tersebut merupakan milik kakeknya. Polisi juga menemukan indikasi bahwa senjata itu sebelumnya dicari di kamar sang kakek.
“Senjata api dan pelurunya adalah milik kakeknya,” kata Thadsakorn kepada Reuters.
Rumah tersebut berada di lingkungan yang relatif sepi, dikelilingi pepohonan dan pagar beton. Di bagian depan terdapat kanal, sedangkan lahan kosong berada di belakang rumah. Di halaman juga terlihat bendera Nazi berwarna merah dan putih yang menurut polisi merupakan milik paman remaja tersebut. Keberadaan orang tua remaja itu belum diketahui.
Setelah menembak kakek dan neneknya, remaja tersebut menaiki kendaraan antar-jemput menuju sekolah. Ia membawa senjata serta puluhan peluru. Sekolahnya, Debsirin Nonthaburi School, berjarak sekitar 18 kilometer dari rumah atau sekitar 45 menit perjalanan. Berdasarkan data otoritas distrik, sekolah tersebut pada tahun sebelumnya memiliki sekitar 3.100 siswa dan 147 guru.
Menembak Guru Sebelum Menyerang Siswa
Kelas pertama dimulai pukul 08.30, disusul kelas berikutnya pada pukul 09.20. Polisi memperkirakan sekitar 30 menit setelah kelas kedua dimulai, remaja tersebut mengeluarkan senjata dan kembali menembak.
Pukul 09.57, kantor Kepolisian Plai Bang menerima laporan mengenai penembakan di sekolah. Seorang siswa berusia 18 tahun awalnya mengira suara tembakan sebagai kembang api.
Namun, setelah seorang guru memerintahkannya untuk keluar, para siswa mulai berusaha menyelamatkan diri. Sebagian berlari tanpa alas kaki sambil membawa kertas dan telepon seluler, sementara lainnya bersembunyi di bawah meja dan menangis ketika suara tembakan terdengar.
Menurut keterangan polisi, serangan awal diduga menargetkan guru di lantai enam gedung tempat remaja tersebut belajar. Tiga guru tewas, termasuk seorang guru bahasa Thailand yang ditembak di bagian mata.
Pelaku kemudian bergerak menyusuri koridor dan menembaki siswa. Saat menuruni tangga, ia bertemu wakil kepala sekolah dan sekretaris kepala sekolah yang sedang naik untuk memeriksa keadaan. Keduanya ditembak hingga tewas.
“Dia kemudian berjalan menuruni tangga dan bertemu wakil direktur sekolah serta sekretaris direktur yang sedang naik untuk memeriksa situasi,” kata Mayor Jenderal Polisi Dejrapee Kongdee, komandan Kepolisian Provinsi Nonthaburi, kepada Reuters.
Polisi Menyisir Gedung hingga Menemukan Pelaku
Remaja tersebut kemudian bergerak menuju gedung lain, tetapi diduga mengubah arah setelah melihat polisi tiba. Ia melarikan diri ke sebuah bangunan empat lantai.
Petugas tanggap darurat Kiatikhun Verapongpradith, 47 tahun, mengatakan situasi di sekolah sangat kacau ketika timnya mulai menangani siswa yang mengalami luka di bagian punggung, dada, dan lengan.
“Kami sedang mengevaluasi jenis senjata yang dia miliki,” ujar Kiatikhun. Karena belum mengetahui persenjataan pelaku, tim medis tidak dapat langsung masuk. Polisi kemudian bergerak dengan membawa perisai.
Setelah siswa dan guru dievakuasi, polisi menyisir gedung tersebut lantai demi lantai. Remaja itu akhirnya ditemukan di lantai empat sekitar pukul 10.40. Ia telah menembak dirinya sendiri, tetapi masih hidup ketika ditemukan. Polisi melakukan CPR sebelum membawanya ke rumah sakit, namun ia meninggal tidak lama kemudian.
Polisi mengatakan sedikitnya 26 peluru telah digunakan dalam serangan tersebut. Sebanyak 34 butir peluru lainnya ditemukan masih berada dalam penguasaannya.
Motif Belum Jelas, PM Sebut Remaja Mengalami Stres Belajar
Motif penembakan masih belum diketahui secara pasti. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, setelah mengunjungi sekolah, mengatakan remaja tersebut mengalami tekanan akibat kegiatan akademiknya dan menilai serangan itu dilakukan dengan sengaja serta telah direncanakan.
“Dia mengalami stres karena studinya,” kata Anutin kepada wartawan.
Anutin juga mengatakan bahwa setelah festival Songkran pada April, yang menandai Tahun Baru tradisional Thailand, remaja tersebut pernah mengunggah foto senjata milik kakeknya dan menyebut bahwa senjata itu memiliki izin.
Menurut Dejrapee, remaja tersebut mengikuti kegiatan belajar tambahan pada akhir pekan selain bersekolah sepanjang pekan. Ia juga disebut gemar memainkan gim bertema menembak hingga tengah malam setelah menyelesaikan aktivitasnya. Polisi menggambarkannya sebagai anak yang pendiam, tidak terlalu mudah bergaul, tetapi memiliki kemampuan akademik yang cukup baik.
Penembakan Kembali Soroti Kepemilikan Senjata Thailand
Insiden tersebut kembali memicu perhatian terhadap aturan senjata api Thailand, yang merupakan salah satu negara dengan tingkat kepemilikan senjata tertinggi di Asia Tenggara. Reuters menyebut terdapat sekitar 15 senjata api untuk setiap 100 penduduk di Thailand.
Anutin mengatakan pemerintah akan mengusulkan aturan baru yang membatasi masyarakat membawa senjata api di tempat umum. Ia sebelumnya juga memperketat aturan senjata ketika menjabat sebagai menteri dalam negeri setelah terjadinya penembakan massal sebelumnya.
“Sebisa mungkin, kita harus menciptakan suasana yang aman,” kata Anutin.
Dengan total delapan orang tewas dan 23 lainnya terluka, penembakan di Debsirin Nonthaburi School menjadi penembakan massal paling mematikan di Thailand sejak 2022.
Namun, rangkaian peristiwa tersebut juga menunjukkan bagaimana satu senjata yang berada di rumah dapat berpindah dari lingkungan domestik ke sekolah dalam hitungan jam, sementara motif yang mendorong seorang remaja melakukan serangan masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.