← Beranda
Arab Saudi Bikin Aliansi Pertahanan Baru dengan Pakistan dan Turki
Rian AlfiantoSabtu, 8 Agustus 2026 | 06.21 WIB
Arab Saudi Bentuk Aliansi Pertahanan dengan Pakistan dan Turki. (Arab News PK)

JawaPos.com - Arab Saudi, Pakistan, dan Turki resmi menandatangani pakta pertahanan bersama bertajuk Mecca Joint Defence Agreement. Pakta ini menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara itu akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Kesepakatan bersejarah ini lahir di tengah memanasnya konflik Timur Tengah dan meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan kawasan.

Perjanjian tersebut diumumkan melalui pernyataan bersama Kementerian Luar Negeri Pakistan dan media pemerintah Arab Saudi pada Jumat (7/8).

Pakta ini menjadi tonggak baru kerja sama militer tiga negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus menandai munculnya arsitektur keamanan baru di kawasan.

Baca Juga: Iran dan Proksi Diduga Siapkan Serangan ke Arab Saudi, Targetkan Fasilitas Energi hingga Bandara

Dalam pernyataan bersama itu ditegaskan bahwa kesepakatan tersebut mencerminkan komitmen ketiga negara untuk memperkuat keamanan kolektif.

"Ketiga negara memiliki komitmen bersama untuk semakin memperkuat keamanan kolektif mereka serta mempromosikan perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan maupun dunia, demi masa depan yang aman dan sejahtera," demikian isi pernyataan tersebut.

Lahir di Tengah Konflik Timur Tengah yang Memanas

Penandatanganan pakta dilakukan ketika ketegangan keamanan di Timur Tengah terus meningkat.

Arab Saudi dalam beberapa bulan terakhir berulang kali menjadi sasaran serangan Iran maupun kelompok-kelompok sekutu Teheran, termasuk Houthi di Yaman dan milisi Syiah di Irak.

Itu setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Baca Juga: Putra Mahkota Saudi Pangeran MBS Khawatirkan Rencana Serangan Besar-besaran AS ke Iran

Situasi tersebut dinilai mengancam ekspor minyak Arab Saudi sekaligus mengganggu berbagai proyek ambisius dalam program transformasi ekonomi Kerajaan.

Kondisi itu juga memunculkan pertanyaan mengenai seberapa efektif payung keamanan Amerika Serikat yang selama ini menjadi andalan Riyadh.

Di sisi lain, Pakistan dan Turki memang tidak mengalami serangan langsung dalam skala besar.

Namun, kedua negara memiliki kepentingan untuk meredam konflik regional yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan serta perekonomian mereka.

Negosiasi Hampir Setahun, Disahkan di Makkah

Mecca Joint Defence Agreement merupakan hasil negosiasi yang berlangsung hampir satu tahun.

Baca Juga: Trump dan Menhan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman Bertemu Bahas Konflik AS-Iran

Penandatanganannya di Kota Mekkah memberikan makna simbolis yang kuat karena dilakukan di tempat paling suci bagi umat Islam.

Kesepakatan ini sekaligus memperkuat hubungan pertahanan yang selama ini telah terjalin di antara ketiga negara. 

Pakistan diketahui telah puluhan tahun memberikan pelatihan dan bantuan teknis kepada militer Arab Saudi. 

Sementara Turki dan Pakistan aktif melakukan kerja sama pertahanan, mulai dari pertukaran kapal perang hingga pesawat latih.

Pada 2023, Arab Saudi juga menyepakati pembelian drone buatan Turki yang saat itu disebut Ankara sebagai kontrak ekspor pertahanan terbesar dalam sejarah negaranya.

Baca Juga: Penyelidikan Ungkap Pangeran Arab Saudi Tewas Akibat Kombinasi Obat-obatan Terlarang

Penandatanganan pakta berlangsung sehari setelah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bersama Panglima Angkatan Darat Jenderal Asim Munir tiba di Arab Saudi dan menunaikan ibadah umrah di Mekkah.

Di hari yang sama, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga melakukan kunjungan ke Arab Saudi untuk bertemu Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Terkait pakta pertahanan tersebut, pemerintah Arab Saudi menepis anggapan bahwa pakta tersebut ditujukan untuk membentuk blok militer baru atau mengancam negara lain.

Wakil Menteri Diplomasi Publik Arab Saudi, Rayed Krimly, menegaskan kesepakatan tersebut bersifat defensif.

"Perjanjian ini tidak menunjukkan niat untuk membangun poros militer atau blok sektarian/agama," tulis Krimly di platform X.

Baca Juga: Irak Kecam Serangan Gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi yang Menargetkan Pasukan Mobilisasi Resmi Negara

"Perjanjian ini tidak terkait ambisi nuklir ataupun perlombaan senjata, melainkan untuk membangun kemampuan pertahanan yang berkelanjutan dan mandiri," imbuh Rayed.

 

EDITOR: Bayu Putra