← Beranda
Tiongkok Balas Serangan Dagang AS, Drone hingga Robot Kena Pembatasan
Rian AlfiantoJumat, 7 Agustus 2026 | 17.31 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada KTT Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik, di Busan, Korea Selatan, pada Oktober 2025 (Evelyn Hockstein/Reuters)

JawaPos.com - Ketegangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Menjelang rencana pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump bulan depan, Beijing meluncurkan serangkaian langkah balasan terhadap Washington, mulai dari menjatuhkan sanksi kepada perusahaan-perusahaan AS hingga memperketat ekspor drone dan teknologi terkait.

Langkah tersebut diambil setelah pemerintah AS dalam beberapa pekan terakhir mengeluarkan sejumlah kebijakan yang menyasar perusahaan dan industri Tiongkok. Aksi saling balas ini menandai babak baru persaingan dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia, terutama di sektor perdagangan dan teknologi.

Kementerian Perdagangan Tiongkok pada Rabu (5/8) mengumumkan tujuh perusahaan Amerika masuk dalam daftar tindakan balasan. Enam perusahaan dikenai sanksi sebagai respons atas keputusan Washington yang melarang impor dari 43 perusahaan Tiongkok karena diduga terkait pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis Uyghur dan kelompok minoritas lainnya.

Baca Juga: Liverpool Ikut Perburuan Djed Spence, Tottenham Siap Lepas dengan Banderol Fantastis

Satu perusahaan Amerika lainnya juga dimasukkan ke daftar sanksi menyusul keputusan Federal Communications Commission (FCC) yang melarang impor robot humanoid, robot berkaki empat, serta konverter daya baru yang sebagian besar diproduksi di Tiongkok.

Dengan masuknya perusahaan-perusahaan tersebut ke dalam daftar tindakan balasan, seluruh entitas maupun individu di Tiongkok dilarang melakukan kerja sama bisnis atau aktivitas komersial dengan perusahaan yang dikenai sanksi.

Drone Jadi Sasaran Baru

Selain memasukkan perusahaan AS ke daftar sanksi, Beijing juga memperketat kontrol ekspor drone beserta komponen dan teknologi pendukungnya ke Amerika Serikat.

Baca Juga: Manchester United dan Arsenal Berebut Kaua Elias, Siapa Sebenarnya Striker Muda Shakhtar Donetsk

Kebijakan ini mempertegas posisi Tiongkok dalam menjaga industri teknologi strategisnya. Sebagai produsen drone terbesar di dunia, Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir terus memperketat pengawasan ekspor produk yang dinilai memiliki kepentingan strategis dan berkaitan dengan keamanan nasional.

Mengutip CNN, pemerintah Tiongkok juga mengumumkan penyelidikan keamanan nasional terhadap peralatan kantor impor yang menggunakan perangkat lunak asing. Selain itu, Beijing menghentikan sebagian kerja sama inspeksi pelacakan pabrik dengan Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok menegaskan pemerintahnya tidak memiliki pilihan selain mengambil langkah balasan.

"China tidak punya pilihan selain mengambil tindakan balasan yang diperlukan," kata juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok.

Beijing juga meminta Washington segera mencabut berbagai kebijakan yang membatasi perusahaan-perusahaan Tiongkok.

"China mendesak Amerika Serikat segera mencabut langkah-langkah terkait, menghentikan tindakan yang keliru, dan bekerja sama menjaga hubungan China-AS yang konstruktif dan stabil," ujarnya.

Baca Juga: RI-Korea Bangun Pusat Pengendalian Karhutla, Perkuat Antisipasi Kebakaran Hutan

Pemerintah Tiongkok memperingatkan akan mengambil langkah tambahan apabila AS kembali mengeluarkan kebijakan baru yang dinilai merugikan kepentingannya.

"Jika Amerika Serikat tetap bersikeras memperkenalkan langkah-langkah pembatasan baru terhadap China, China akan mengambil tindakan balasan lebih lanjut."

Diketahui, hubungan Washington dan Beijing semakin memanas setelah pemerintahan Donald Trump menjatuhkan berbagai pembatasan baru terhadap Tiongkok. Selain melarang impor robot dan konverter daya, AS juga menjatuhkan sanksi kepada operator pelayaran Tiongkok yang dituduh mengangkut bahan bakar Iran.

Washington turut memasukkan sejumlah institusi Tiongkok, termasuk dua universitas sipil ternama, ke dalam daftar hitam Pentagon. Di saat yang sama, AS mengenakan tarif impor sebesar 10 hingga 12,5 persen terhadap puluhan negara, termasuk Tiongkok, dengan alasan gagal menghentikan ekspor produk yang diduga berasal dari kerja paksa.

Baca Juga: Investasi Jakarta Tembus Rp 173,6 Triliun, Jaksel Jadi Lokasi Favorit Investor

Pemerintahan Trump juga disebut membuka peluang menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan kecerdasan buatan (AI) asal Tiongkok, sehingga memperluas persaingan kedua negara ke sektor teknologi canggih.

Meski tensi meningkat, komunikasi diplomatik tetap berlangsung. Pekan lalu, pejabat ekonomi AS dan Tiongkok menggelar pembicaraan dagang melalui konferensi video.

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Tiongkok juga mengunjungi Amerika Serikat sebagai bagian dari persiapan pertemuan Xi Jinping dan Donald Trump yang diperkirakan berlangsung bulan depan.

Pertemuan tersebut dinilai menjadi kesempatan penting untuk meredakan ketegangan yang terus meningkat di tengah perang dagang, pembatasan teknologi, dan persaingan geopolitik kedua negara.

EDITOR: Bintang Pradewo