JawaPos.com - Di tengah menipisnya persediaan rudal Amerika Serikat akibat perang dengan Iran, Teheran justru sebaliknya, memanfaatkan masa gencatan senjata untuk mempercepat produksi misil dan drone.
Kondisi ini memperlihatkan kontras yang tajam: saat Washington mulai menghadapi tekanan logistik amunisi, Iran menyatakan kapasitas militernya terus menguat sebagai persiapan jika perang kembali pecah.
Pemerintah Iran menegaskan seluruh proses negosiasi dengan Amerika Serikat tidak menghentikan upaya memperkuat kemampuan tempur. Bahkan, produksi senjata disebut meningkat selama masa gencatan senjata berlangsung.
Juru bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, mengatakan militer memanfaatkan setiap kesempatan selama gencatan senjata untuk mempercepat modernisasi persenjataan.
"Kami telah memanfaatkan secara maksimal setiap kesempatan selama nota kesepahaman dan setiap momen gencatan senjata," kata Akraminia kepada televisi pemerintah Iran.
Ia menjelaskan langkah tersebut mencakup pengoperasian peralatan yang sebelumnya belum digunakan, pengadaan perlengkapan baru, perbaikan sistem pertahanan yang rusak, hingga pengembangan sistem persenjataan baru.
Menurut Akraminia, Iran juga telah menggunakan drone generasi terbaru dalam operasi tempur. Spesifikasi pesawat nirawak tersebut akan diumumkan dalam waktu mendatang.
Produksi Drone Naik Tiga Kali Lipat
Pernyataan serupa sebelumnya disampaikan Menteri Pertahanan Iran sementara, Majid Ebn-e Reza. Ia mengungkapkan bahwa produksi rudal dan drone tidak pernah berhenti meski perang berlangsung.
Bahkan, produksi drone disebut telah meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan sebelum konflik, meski pemerintah Iran tidak merinci jumlah unit yang diproduksi.
"Produksi rudal dan drone tidak berhenti selama satu hari pun," ujar Majid Ebn-e Reza.
Ia juga menilai serangan yang menewaskan sejumlah komandan senior Iran tidak melemahkan kekuatan militernya.
"Meski para komandan tertinggi gugur sebagai syuhada, angkatan bersenjata tidak kehilangan kohesi dan justru menghadapi musuh dengan banyak kejutan melalui kecepatan, inisiatif, dan kemampuan taktis yang tinggi," katanya.
Klaim itu diperkuat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi mengatakan produksi rudal Iran terus meningkat selama gencatan senjata, sementara akurasi rudal ikut membaik berkat pengalaman yang diperoleh selama perang.
Meski demikian, IRGC tidak mengungkapkan jumlah persediaan rudal yang dimiliki maupun tingkat kerusakan fasilitas produksi senjata akibat serangan Amerika Serikat dan Israel.
Berbanding Terbalik dengan Kondisi Amerika Serikat
Peningkatan produksi senjata Iran terjadi ketika Amerika Serikat justru menghadapi penyusutan stok amunisi strategis.
Seperti diberitakan sebelumnya, laporan CNN menyebut militer AS telah menggunakan hampir 80 persen persediaan rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dan sekitar separuh stok rudal Patriot sejak konflik dengan Iran dimulai pada Februari lalu.
Media tersebut juga melaporkan Pentagon hanya menerima sekitar 20 rudal Patriot dan 15 rudal jelajah Tomahawk baru setiap bulan. Sejumlah analis memperkirakan diperlukan setidaknya tiga tahun untuk memulihkan stok rudal THAAD ke tingkat sebelum perang.
Kontras kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan sekutu Washington di kawasan Teluk yang selama ini mengandalkan sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat.
Iran Masih Punya Cadangan Besar
Laporan media Amerika Serikat pada Juni lalu memperkirakan Iran masih mempertahankan sekitar 70 persen stok rudal sebelum perang dan sekitar 40 persen persediaan drone. Angka itu dinilai cukup untuk mempertahankan operasi militer asimetris dalam waktu yang lebih lama apabila konflik kembali meningkat, termasuk di kawasan Selat Hormuz.
Di sisi lain, pertahanan udara Iran memang mengalami kerusakan akibat ribuan serangan udara yang dilakukan Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara sekutu. Namun militer Iran mengklaim masih mampu menembak jatuh rudal jelajah serta beberapa drone tempur dan pengintai milik AS.
Mantan komandan senior IRGC, Hossein Kanani Moghaddam, menegaskan serangan besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel tidak menghentikan pengembangan industri pertahanan Iran.
"Kami terus meningkatkan produksi dan kualitas dalam negeri. Rudal-rudal kami telah ditingkatkan dari sisi jangkauan maupun daya hancur hulu ledaknya," ujarnya kepada Al Jazeera.
Ia juga mengklaim Iran masih memiliki persediaan besar yang disimpan di jaringan pangkalan bawah tanah.
"Kami juga memiliki stok di kota-kota rudal dan drone bawah tanah. Bagian-bagian baru dari fasilitas itu secara bertahap mulai masuk ke garis operasi kami," katanya.
Baca Juga: Iran dan Oman Makin Dekat Capai Kesepakatan Buka Selat Hormuz, Akankah Perang Segera Mereda?
Menurut Kanani Moghaddam, salah satu alasan Presiden Donald Trump beberapa kali membatalkan rencana serangan skala besar terhadap Iran adalah karena kemampuan militer Teheran masih dinilai mampu memberikan serangan balasan yang signifikan. (*)