JawaPos.com - Gelombang panas ekstrem melanda Korea Selatan beberapa hari belakangan dan kondisinya dilaporkan semakin memburuk.
Untuk pertama kalinya, Seoul bersiap menghadapi status 'peringatan gelombang panas parah' setelah suhu udara di negara itu mencetak rekor tertinggi dalam 122 tahun terakhir.
Kondisi cuaca ekstrem tersebut telah menewaskan sedikitnya 16 orang dan menyebabkan lebih dari 2.000 warga mengalami gangguan kesehatan akibat panas.
Ibu kota Seoul yang dihuni lebih dari 9 juta penduduk diperkirakan mencapai suhu 38 derajat Celsius pada Selasa pekan lalu, disusul tiga hari berikutnya dengan suhu sekitar 37 derajat Celsius berturut-turut.
Baca Juga: Drama Korea Terbaru Lee Jun Hyuk “The Ordinary Jackpot” Bakal Tayang September 2026
Otoritas setempat pun mengerahkan berbagai langkah darurat untuk melindungi masyarakat dari dampak cuaca panas yang semakin berbahaya.
Sebelumnya, Kota Yangsan di wilayah tenggara Korea Selatan mencatat suhu 42,5 derajat Celsius pada Minggu (2/8).
Angka tersebut menjadi suhu tertinggi yang pernah tercatat sejak pengamatan cuaca dimulai 122 tahun lalu.
Dilansir via Guardian, berdasarkan data Korea Disease Control and Prevention Agency (KDCA) menunjukkan, sejak Mei lalu sedikitnya 16 orang meninggal dunia akibat kondisi yang berkaitan dengan gelombang panas.
Sementara lebih dari 2.000 orang harus menjalani perawatan medis karena penyakit terkait suhu ekstrem.
Baca Juga: Resep Gil Gamja Crispy, Camilan Kentang Korea yang Renyah dan Cocok untuk Ide Jualan
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta seluruh kementerian dan pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang kini semakin sering terjadi.
"Kita perlu melakukan upaya untuk merombak secara mendasar sistem penanganan krisis nasional, karena cuaca ekstrem seperti ini kini mulai menjadi hal yang normal," kata Lee Jae Myung dalam rapat kabinet.
Ia juga menginstruksikan para pejabat untuk memastikan kebutuhan listrik tetap terpenuhi di tengah lonjakan penggunaan pendingin ruangan. Serta mengambil langkah-langkah guna melindungi aktivitas masyarakat sehari-hari.
Kerahkan Truk Penyiram Jalan hingga Pemeriksaan Warga Rentan
Pemerintah Kota Seoul telah menggelar rapat darurat dan meluncurkan sejumlah program untuk mengurangi risiko kesehatan akibat suhu tinggi.
Ini menjadi pertama kalinya ibu kota Korea Selatan menerapkan status peringatan gelombang panas parah berdasarkan sistem baru yang diberlakukan tahun ini.
Baca Juga: Resep Goguma Cheese Toast, Roti Panggang Ubi Ungu Lumer ala Korea yang Viral
Sebanyak 63.000 warga yang tergolong rentan, termasuk lansia, penyandang disabilitas, dan penderita penyakit kronis, mendapat pemantauan langsung oleh tenaga kesehatan.
Di sisi lain, sekitar 200 truk dikerahkan untuk menyiram hampir 2.000 kilometer ruas jalan hingga enam kali sehari.
Langkah tersebut dilakukan untuk menurunkan suhu permukaan jalan dan mengurangi efek panas perkotaan.
Sejumlah kawasan pejalan kaki juga dilengkapi fasilitas penyemprot kabut air (mist spray) yang dimanfaatkan warga untuk mendinginkan tubuh saat beraktivitas.
Drone hingga Kamera Termal Diterjunkan
Upaya mitigasi juga dilakukan di Provinsi Gyeongsang Utara. Pemerintah daerah menerbangkan drone yang dilengkapi pengeras suara untuk menyampaikan peringatan keselamatan kepada masyarakat.
Baca Juga: Resep Jumeokbap Isi Ayam, Nasi Kepal Korea yang Praktis untuk Bekal
Drone tersebut juga membawa kamera termal guna memantau area yang dipadati wisatawan selama musim liburan musim panas.
Pada Senin (3/8), suhu tertinggi di Korea Selatan kembali menembus 41,2 derajat Celsius di Goryeong.
Sejumlah kota lain juga mencatat suhu di atas 41 derajat Celsius, sementara Distrik Guro di Seoul mencapai 39 derajat Celsius.
Pekerja Lapangan Paling Terdampak
Gelombang panas ekstrem paling berat dirasakan para pekerja yang harus beraktivitas di luar ruangan.
Seorang pekerja konstruksi di Seoul yang diidentifikasi sebagai Kim mengatakan kondisi kerja menjadi sangat berat meski perusahaan memberikan waktu istirahat setiap jam.
Baca Juga: Rekomedasi 7 Drama Korea Bertema Second Chance Romance yang Wajib Masuk Daftar Tonton
"Kami beristirahat 10 menit setiap jam, tetapi bahkan tidak ada kipas angin di sini, jadi yang bisa kami lakukan hanyalah duduk di tempat teduh.
Saya berkeringat begitu banyak hingga pakaian saya membuat kulit lecet di bagian yang bergesekan," ujarnya kepada The Korea Times.
Keluhan serupa disampaikan Lee, pria berusia 55 tahun yang bekerja mengumpulkan troli belanja di area parkir sebuah supermarket di Gwangmyeong.
"Kurangnya ventilasi membuat rasanya seperti berada di dalam sauna."
Kondisi tersebut juga memicu kekhawatiran terhadap keselamatan para kurir pengantar makanan yang harus bekerja di bawah terik matahari.
Mengapa Gelombang Panas Korea Selatan Semakin Parah?
Badan Meteorologi Korea (Korea Meteorological Administration/KMA) menjelaskan, gelombang panas dipicu oleh bertumpuknya sistem tekanan tinggi di atas Semenanjung Korea, yang dipadukan dengan sinar matahari langsung di bawah langit cerah.
Baca Juga: Hong Myung-bo Dicecar Parlemen Korea Selatan Usai Gagal Total di Piala Dunia 2026
Di wilayah Gyeongsang Selatan, suhu semakin tinggi akibat fenomena foehn, yaitu kondisi ketika angin yang melewati pegunungan berubah menjadi lebih panas dan kering saat turun di sisi lain.
Selain itu, pergerakan Topan Dolphin juga diperkirakan memengaruhi kondisi cuaca. Jika topan bergerak menuju pesisir timur Tiongkok, kelembapan udara di Korea dapat meningkat sehingga memperburuk gelombang panas dan malam tropis.
Sebaliknya, jika lintasannya mendekati selatan Semenanjung Korea, topan berpotensi membawa angin, awan, dan hujan yang dapat meredakan suhu untuk sementara.
Para ilmuwan mengingatkan bahwa gelombang panas ekstrem seperti yang terjadi di Korea Selatan diperkirakan akan semakin sering dan semakin intens akibat perubahan iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia.
Baca Juga: RIO NiziU Hiatus Sementara Jelang Comeback Korea, JYP Prioritaskan Pemulihan