JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan masih membuka peluang terakhir bagi Iran untuk mencapai kesepakatan diplomatik sebelum Washington mengambil tindakan militer yang lebih keras.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara terkait penguasaan dan keamanan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Trump menegaskan opsi militer terhadap Iran masih berada di atas meja. Namun, menurutnya, pemerintahan AS tetap memilih memberikan kesempatan terakhir kepada Teheran untuk menghindari eskalasi konflik yang lebih luas.
Baca Juga: Eks Pimpinan PPATK Sebut Penelusuran LHKPN Febrie Adriansyah Bisa Ungkap Temuan Emas 74 Kg
"Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum tindakan militer yang menargetkan kepemimpinan mereka. Sangat sulit melakukan apa yang telah kami rencanakan, yang masih tetap direncanakan," kata Trump kepada wartawan, dikutip via ANTARA.
Ia menambahkan bahwa keputusan untuk melancarkan operasi militer bukanlah langkah yang mudah.
"Kita lihat saja apa yang akan terjadi, tetapi itu adalah hal yang sangat, sangat berat untuk dilakukan. Saya sangat bangga karena saya akan memberi banyak pihak sebuah kesempatan," lanjutnya.
Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas
Pernyataan Trump muncul setelah hubungan Washington dan Teheran kembali memburuk meski sebelumnya kedua negara sempat menyepakati nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari.
Pada 18 Juni, kedua pihak menandatangani kesepakatan tersebut sebagai upaya meredakan ketegangan. Namun situasi berubah drastis ketika pada 8 Juli Trump menyatakan gencatan senjata sudah tidak lagi berlaku.
Sejak saat itu, Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi militer tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Iran Balas Serang dan Tutup Selat Hormuz
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi terus meningkat ketika pada 12 Juli Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga Amerika Serikat menghentikan campur tangannya di kawasan.
Sebagai respons, sehari kemudian Trump menyatakan Amerika Serikat akan bertindak sebagai "penjaga" Selat Hormuz. Pemerintah AS juga kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Langkah saling balas antara kedua negara tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran dunia terhadap potensi konflik yang lebih besar di Timur Tengah, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi minyak dan gas global.