← Beranda
Balas Ancaman AS, Iran Ancam Serang Infrastruktur Utama Israel
Rian AlfiantoMinggu, 2 Agustus 2026 | 05.42 WIB
Ilustrasi bendera Iran, di tengah gencatan senjata antara AS dan Iran, di Teheran, Iran, 27 April 2026. (via Reuters)

JawaPos.com - Iran mengancam akan menyerang infrastruktur vital milik Israel jika Amerika Serikat terlibat dalam serangan baru terhadap fasilitas energi dan infrastruktur sipil Iran. Ancaman tersebut disampaikan di tengah laporan bahwa Washington dan Tel Aviv tengah mempertimbangkan operasi militer besar yang berpotensi memperluas perang di Timur Tengah.

Peringatan itu menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang telah meluas ke berbagai negara di kawasan. Iran menyatakan telah menyiapkan rencana balasan dengan membidik infrastruktur strategis yang terkait dengan kepentingan Israel dan Amerika Serikat apabila ancaman tersebut benar-benar diwujudkan.

Kepala Komando Militer Masa Perang Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, menuduh Amerika Serikat sengaja mendorong kawasan menuju perang yang lebih luas.

Baca Juga: Ryu Hye Young Gabung Kim So Hyun dan Song Kang, Masih Pertimbangkan Drama Romantis 'White Scandal'

"Amerika Serikat bergerak dengan kecepatan yang semakin tinggi untuk mengobarkan perang regional berskala penuh," kata Abdollahi dalam pernyataannya, Sabtu (1/8) dikutip via Al-Jazeera.

Ia juga memperingatkan negara-negara di Timur Tengah agar tidak membantu operasi militer Washington.

"Dengan ini ditegaskan secara eksplisit: negara-negara Muslim harus dengan penuh kewaspadaan mengawasi kejahatan Amerika dan mempertimbangkan kembali kerja sama serta keberpihakan mereka kepada AS. Jika tidak, negara mana pun yang menjadikan dirinya sebagai tameng pertahanan bagi Amerika yang agresif akan terbakar dalam kobaran perang," ujar Abdollahi.

Iran Siapkan Serangan Balasan ke Infrastruktur Strategis

Baca Juga: 2 Agustus 2026 Menjadi Awal yang Berbeda bagi 3 Zodiak, Luka Lama Mulai Pulih dan Harapan Kembali Tumbuh

Sementara itu, media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan skenario balasan jika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap fasilitas energi Iran.

Mengutip sumber yang tidak disebutkan identitasnya, laporan tersebut menyebut Iran akan menyerang "infrastruktur vital" yang berkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Ancaman itu muncul setelah sejumlah media AS melaporkan bahwa Washington dan Israel tengah membahas operasi militer yang menargetkan pembangkit listrik serta fasilitas petrokimia Iran. Presiden Donald Trump disebut belum memberikan persetujuan akhir atas operasi yang diperkirakan dapat berlangsung hingga dua pekan.

Israel Akui Ingin Serang Fasilitas Energi Iran

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz secara terbuka mengatakan negaranya ingin menyerang sektor energi Iran.

"Kami sangat ingin menyerang target-target energi Iran."

Namun, menurut Katz, Amerika Serikat belum memberikan persetujuan karena khawatir Iran akan membalas dengan menyerang negara-negara tetangga dan memicu krisis minyak global.

"Amerika Serikat saat ini belum menyetujuinya karena khawatir Iran akan menyerang negara-negara tetangga dan akan terjadi krisis minyak global," ujarnya dalam konferensi keamanan yang disiarkan Channel 14.

Baca Juga: 3 Zodiak yang Diselimuti Energi Sukacita Besok 2 Agustus, Awal Bulan Membuka Jalan Hidup yang Lebih Menjanjikan

Ia juga mengatakan Israel siap membuat Iran 'mundur 40 tahun'.

Konflik Meluas ke Infrastruktur Energi Kawasan

Sejak perang dimulai pada 28 Februari, serangan AS dan Israel disebut telah menghantam pangkalan militer, pejabat tinggi, hingga infrastruktur sipil Iran. Kerusakan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan dan semakin memperburuk kondisi ekonomi negara itu.

Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersama militer Iran meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah pangkalan militer AS dan Israel. Iran juga mengklaim telah menyerang fasilitas energi di Israel serta sejumlah negara lain di kawasan, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.

Dalam beberapa hari terakhir, serangan juga dilaporkan terjadi di Iran, Kuwait, Oman, Irak, dan Lebanon, memperlihatkan konflik yang semakin meluas dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan maupun pasokan energi dunia.

Di sisi lain, Iran menegaskan Selat Hormuz tetap menjadi aset strategis dalam menghadapi tekanan militer Amerika Serikat. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, memperingatkan bahwa konflik di jalur pelayaran tersebut akan berdampak besar terhadap pasar energi global.

"Ekonomi global, pasar energi Amerika Serikat, dan para pemilih di AS akan menanggung akibatnya," kata Zolghadr.

Meski ketegangan terus meningkat, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan belum mengajukan permintaan negosiasi kepada Washington. Namun, komunikasi melalui sejumlah mediator disebut masih berlangsung untuk membahas berbagai kemungkinan penyelesaian, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

EDITOR: Bintang Pradewo