JawaPos.com - Keiko Fujimori resmi menjabat sebagai Presiden Peru setelah menjalani pelantikan pada Selasa (28/7). Politikus konservatif berusia 51 tahun itu menjadi perempuan pertama yang terpilih secara demokratis untuk memimpin Peru. Masa jabatannya akan berlangsung selama periode 2026 hingga 2031.
Tak lama setelah mengucapkan sumpah jabatan, Fujimori langsung mengumumkan serangkaian kebijakan yang berfokus pada keamanan nasional. Pemerintahannya memilih pendekatan yang lebih tegas untuk menghadapi meningkatnya ancaman kejahatan terorganisasi di berbagai wilayah Peru.
Salah satu langkah utama yang diumumkan adalah pemberian kewenangan kepada angkatan bersenjata untuk membantu menjaga keamanan dan ketertiban umum. Kebijakan tersebut akan diterapkan terutama di daerah-daerah yang selama ini menjadi pusat aktivitas kelompok kriminal.
Dalam pidato perdananya di Istana Parlemen di Lima, Fujimori menyatakan pemerintah akan mengambil langkah maksimal untuk menghadapi organisasi kriminal, jaringan perdagangan narkoba, hingga aktivitas penambangan ilegal yang berkembang di sejumlah wilayah Peru.
Baca Juga: Keiko Fujimori Resmi Jadi Presiden Perempuan Pertama yang Menang Pemilu di Peru
"Dalam kondisi darurat, angkatan bersenjata secara sementara memimpin operasi keamanan dan menjaga ketertiban umum melalui koordinasi dekat dengan pihak kepolisian," kata Fujimori dalam pidato perdananya sebagai presiden.
Ia menegaskan negara tidak akan membiarkan kelompok kriminal mengambil alih kewenangan pemerintah di berbagai daerah. Seluruh instrumen hukum yang dimiliki pemerintah akan dimanfaatkan untuk mengembalikan kontrol negara.
"Di mana pun kejahatan terorganisasi, perdagangan narkoba, dan penambangan ilegal merebut kuasa dari negara, kami akan memanfaatkan semua kewenangan yang diberikan kepada pemerintah oleh konstitusi," ucap dia.
Pemerintah Perkuat Kepolisian dan Tingkatkan Upah Minimum
Selain melibatkan militer dalam penanganan keamanan, Fujimori juga menyiapkan penguatan institusi kepolisian nasional. Langkah tersebut mencakup dukungan politik yang lebih besar, modernisasi perlengkapan, hingga perluasan kewenangan aparat kepolisian dalam menjalankan tugas.
Di bidang ekonomi, pemerintahan baru Peru juga mengumumkan kebijakan untuk membantu masyarakat menghadapi kenaikan biaya hidup. Salah satu keputusan yang diambil adalah menaikkan upah minimum nasional sebesar 15 persen.
Besaran upah minimum dinaikkan dari 1.130 soles atau sekitar Rp6,02 juta menjadi 1.300 soles atau sekitar Rp6,92 juta per bulan. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat di tengah perlambatan ekonomi.
Fujimori juga memastikan pemerintah tetap mempertahankan sistem ekonomi pasar bebas yang selama ini diterapkan Peru. Bersamaan dengan itu, pemerintah akan menjalankan reformasi menyeluruh di sektor keamanan publik.
Pelantikan Diwarnai Aksi Walk Out Oposisi
Prosesi pelantikan Presiden Peru berlangsung di tengah situasi politik yang masih terpolarisasi. Sejumlah anggota parlemen dari kubu oposisi memilih meninggalkan ruang sidang sebelum pidato presiden dimulai.
Legislator dari partai Juntos por el Peru dan Ahora Nacion melakukan aksi walk out sebagai bentuk protes. Mereka mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan pita duka sambil meneriakkan, "Keadilan untuk para korban!"
Para anggota oposisi juga membawa foto-foto korban yang tewas sepanjang periode 1990 hingga 2000 saat Alberto Fujimori, ayah Keiko Fujimori, menjabat sebagai Presiden Peru. Alberto Fujimori kemudian dipenjara setelah dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Di tengah aksi tersebut, Keiko Fujimori tetap berdiri di mimbar tanpa memberikan respons hingga seluruh legislator oposisi meninggalkan ruang sidang. Setelah situasi kembali kondusif, ia melanjutkan pidato kenegaraan pertamanya sebagai presiden.
Dihadiri Pemimpin Negara Sahabat
Meski pelantikan berlangsung di tengah ketegangan politik domestik, sejumlah kepala negara dan tamu kehormatan tetap menghadiri upacara tersebut. Kehadiran mereka menunjukkan perhatian terhadap transisi pemerintahan di Peru.
Beberapa tokoh yang hadir antara lain Raja Felipe IV dari Spanyol, Presiden Ekuador Daniel Noboa, Presiden Chile Jose Antonio Kast, Presiden Bolivia Rodrigo Paz, serta Presiden Argentina Javier Milei.
Di sela agenda pelantikan, Fujimori dan Milei juga menggelar pertemuan bilateral. Keduanya membahas peluang memperkuat hubungan kedua negara, khususnya di bidang ekonomi, keamanan, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), serta inovasi.
Kunjungan Milei ke Peru menjadi sorotan karena merupakan lawatan internasional setelah dirinya memicu ketegangan diplomatik dengan Brasil. Sebelumnya, ia menyampaikan pernyataan yang mengkritik Presiden Luiz Inacio Lula da Silva dalam sebuah acara politik di Sao Paulo untuk mendukung pencalonan Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro.
Pelantikan Keiko Fujimori sekaligus mempertegas tren menguatnya pemerintahan berhaluan kanan di kawasan Amerika Latin. Kondisi ekonomi yang belum stabil serta meningkatnya tingkat kejahatan menjadi faktor yang mendorong sebagian masyarakat di kawasan tersebut memberikan dukungan kepada pemimpin dengan pendekatan konservatif.