JawaPos.com - Setelah puluhan tahun menggunakan berbagai metode pengendalian pasir untuk menahan laju gurunisasi, para ilmuwan Tiongkok kini mengembangkan pendekatan baru dengan memanfaatkan bambu. Tanaman yang dikenal sebagai salah satu tumbuhan dengan pertumbuhan tercepat di dunia itu dinilai memiliki potensi untuk memperkuat proyek ambisius Great Green Wall atau Program Hutan Pelindung Tiga Utara yang telah berjalan sejak dekade 1970-an.
Program tersebut bertujuan membendung perluasan gurun di wilayah utara, barat laut, dan timur laut Tiongkok yang menghadapi ancaman degradasi lahan akibat perubahan iklim, penggundulan hutan, serta aktivitas manusia. Selama beberapa dekade, pemerintah Tiongkok membangun jaringan hutan, semak, dan tanaman lain yang membentang ribuan kilometer, termasuk menggunakan pola kotak dari jerami untuk menstabilkan pasir.
Dilansir dari South China Morning Post, Selasa (28/7/2026), para peneliti dari Research Institute of Wood Industry di bawah Chinese Academy of Forestry di Beijing tengah mengembangkan pemanfaatan bambu sebagai alternatif pengendali pasir yang lebih tahan lama dan ramah lingkungan. Peneliti Yu Yanglun mengatakan metode lama memiliki sejumlah keterbatasan.
"Karena sifat alami material tersebut, periode efektif pengikatan pasir biasanya hanya dua hingga tiga tahun," tulis Yu dalam artikel yang dipublikasikan di media sosial pada 30 Juni.
Selain jerami, penghalang plastik juga pernah digunakan untuk menjaga kestabilan pasir. Namun, Yu memperingatkan bahwa material tersebut memiliki risiko ekologis karena membutuhkan waktu lama untuk terurai.
Sementara itu, penanaman pohon dan semak tertentu seperti Artemisia juga dikaitkan dengan meningkatnya masalah alergi serbuk sari di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut mendorong kebutuhan terhadap solusi pengendalian pasir yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Honda dan Nissan Kembangkan OS Bersama untuk Saingi Tesla dan Tiongkok
Dalam menghadapi tantangan itu, para peneliti mengusulkan penggunaan sumber daya bambu Tiongkok yang melimpah. Negara tersebut saat ini memiliki kawasan hutan bambu terbesar di dunia. Selain cepat tumbuh, bambu dikenal kuat, ringan, fleksibel, membutuhkan sumber daya relatif rendah, serta dapat digunakan sebagai bahan terbarukan untuk menggantikan plastik.
Yu menjelaskan bahwa timnya sedang mengembangkan berbagai aplikasi bambu untuk mengatasi gurunisasi, mulai dari penghalang pasir hingga wadah berbahan bambu dan serat kayu untuk membantu mengumpulkan air hujan. Penelitian tersebut menghasilkan pengembangan bambu yang diproses dan dianyam menjadi pola kotak serta penghalang vertikal untuk menahan pergerakan pasir.
Menurut laporan administrasi kehutanan dan padang rumput Tiongkok, penghalang pasir berbahan bambu memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan plastik.
"Dibandingkan penghalang pasir plastik, material ini dapat diperbarui, terurai secara alami, dan tahan terhadap penuaan akibat cahaya," demikian laporan tersebut.
Teknologi itu juga disebut memiliki masa pakai tiga hingga 10 tahun serta mampu mengurangi biaya keseluruhan lebih dari 20 persen.
Pengujian awal telah dilakukan di Provinsi Qinghai dan Daerah Otonomi Mongolia Dalam. Para peneliti menilai teknologi tersebut berpotensi menggantikan metode berbasis jerami maupun plastik, meski penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi iklim dan karakteristik pasir di setiap wilayah.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi terbaru Tiongkok untuk memperbarui Program Hutan Pelindung Tiga Utara. Pada 22 Juli, Beijing merilis rencana konservasi hutan dan padang rumput selama lima tahun yang mencakup proyek hingga 2030, termasuk inovasi material ramah lingkungan untuk memperkuat upaya melawan gurunisasi.
Selain penghalang bambu, para ilmuwan juga mengeksplorasi pendekatan lain, seperti budidaya jamur pangan untuk memperkaya tanah berpasir. Perkembangan ini menunjukkan perubahan arah dalam pengendalian gurun, dari sekadar menahan pasir menuju membangun sistem ekologis yang lebih berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi dan material alami.
Baca Juga: Trump Peringatkan Tiongkok dan Rusia soal Iran: Akan Sangat Buruk Jika Kirim Senjata