← Beranda
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Rian AlfiantoSelasa, 28 Juli 2026 | 00.24 WIB
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump. (Reuters)

 

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan menghadapi kebuntuan dalam perang melawan Iran setelah hampir lima bulan operasi militer gagal mencapai target utama.

Alih-alih mengakhiri program nuklir Iran dan mendorong pergantian rezim di Teheran, Trump kini disebut kesulitan menemukan strategi keluar yang tidak merusak citra politiknya.

Situasi tersebut menjadi tantangan terbesar bagi Trump sejak memulai operasi tempur besar pada 28 Februari. Berbagai tekanan, mulai dari perang yang tak kunjung usai, harga minyak yang melonjak, gangguan jalur pelayaran global hingga anjloknya dukungan publik, membuat ruang gerak Gedung Putih semakin sempit.

Di tengah kondisi itu, Trump bahkan dikabarkan membatalkan rencana melanjutkan serangan besar ke Iran setelah mendapat penilaian bahwa operasi militer lanjutan belum tentu mampu memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.

 

Target Besar Trump Belum Tercapai

Sejak awal konflik, Trump menetapkan dua sasaran ambisius, yakni menghentikan program nuklir Iran dan menggulingkan pemerintahan di Teheran. Ia juga beberapa kali menyatakan ingin menerapkan apa yang disebutnya sebagai 'model Venezuela', yaitu menciptakan pemerintahan baru yang lebih bersahabat dengan Amerika Serikat.

Namun lima bulan setelah perang dimulai, hampir seluruh target tersebut masih belum tercapai.

Trump sebelumnya dikenal percaya bahwa penggunaan kekuatan militer secara besar-besaran dapat menghasilkan kemenangan cepat. Bahkan ia pernah mengatakan kepada The New York Times bahwa satu-satunya batasan dalam mengambil keputusan militer adalah 'moralitas saya sendiri'.

 

Perang Picu Dampak Ekonomi Global

Kebuntuan di medan perang juga memunculkan konsekuensi ekonomi yang semakin besar.

Harga minyak dunia terus mengalami tekanan akibat terganggunya jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute ekspor minyak terpenting dunia. Aktivitas pengiriman yang sempat kembali normal kini kembali melambat, sementara ancaman juga muncul di jalur Laut Merah hingga Teluk Aden.

Trump beberapa kali mengancam akan merebut Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, maupun menyita cadangan uranium yang diperkaya milik Teheran. Meski demikian, ia juga mengakui bahwa tidak ada dukungan politik untuk mengirim pasukan darat ke Iran.

 

Frustrasi Trump Dinilai Semakin Terlihat

Sejumlah orang dekat Presiden AS menyebut keterbatasan tersebut membuat Trump semakin frustrasi.

Dalam beberapa pekan terakhir, ia beberapa kali membatalkan atau mengubah kebijakan penting secara mendadak. Salah satunya ketika Menteri Energi AS menandatangani kesepakatan bersejarah dengan Arab Saudi mengenai kerja sama energi nuklir sipil.

Kurang dari sehari kemudian, Trump justru menyatakan kesepakatan itu batal kecuali Arab Saudi bersedia bergabung dalam Abraham Accords dan mengakui Israel.

Mantan diplomat senior Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Aaron David Miller, menilai langkah tersebut justru merugikan Washington.

"Trump kembali menjauhkan Arab Saudi, menyenangkan Benjamin Netanyahu, dan memberi Iran bahan propaganda bahwa membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat adalah tindakan bodoh yang pada akhirnya akan dikhianati," kata Miller.

Tak lama berselang, Trump juga membatalkan kesepakatan pembangunan Jembatan Internasional Gordie Howe senilai USD 4,5 miliar yang menghubungkan Amerika Serikat dan Kanada.

Ia kemudian mengenakan tarif 50 persen terhadap sejumlah produk Kanada, sebuah langkah yang dinilai bertentangan dengan perjanjian perdagangan USMCA yang justru dinegosiasikannya saat masa jabatan pertama.

Akibat keputusan tersebut, pemerintah Kanada mencoret kehadiran pejabat Amerika dalam upacara peresmian jembatan tersebut.

 

Dukungan Publik Terus Menurun

Tekanan terhadap Trump juga datang dari dalam negeri.

Survei Washington Post-Ipsos menunjukkan hanya 29 persen warga Amerika yang menyetujui cara Trump menangani perang Iran. Angka itu memperlihatkan konflik tersebut semakin tidak populer di mata publik. Bahkan tokoh-tokoh Partai Republik mulai mendesak agar perang segera diakhiri.

"Kita harus segera mengakhirinya," ujar Ketua DPR AS Mike Johnson, yang mencerminkan pandangan banyak pendukung Trump.

Meski demikian, Trump hingga kini belum memiliki strategi yang jelas untuk keluar dari konflik tanpa kehilangan muka secara politik. Sebelumnya Trump sempat mengklaim berhasil mencapai terobosan diplomatik.

Pada 17 Juni, ia menandatangani kesepakatan gencatan senjata berisi 14 poin yang menurutnya akan membuka jalan menuju penyelesaian konflik. Trump saat itu meyakini para pemimpin Iran yang lebih "masuk akal" mulai mempertimbangkan kepentingan ekonomi negaranya.

"Saya percaya mereka sudah cukup merasakan dampaknya," kata Trump dalam wawancara dengan The New York Times pada 14 Juni.

Ia juga mengklaim Iran akhirnya bersedia berunding setelah dihadapkan pada ancaman serangan militer besar.

"Kami akan melancarkan serangan besar, lalu mereka berkata, 'Tolong jangan lakukan itu, kami akan membuat kesepakatan.' Dan kami membuat kesepakatan segera setelah itu," ujar Trump.

Namun, kesepakatan tersebut hanya bertahan sekitar dua pekan. Kelompok Garda Revolusi Iran (IRGC) kemudian tetap melanjutkan aksi militernya, termasuk terhadap kapal-kapal yang tidak mengikuti jalur pelayaran yang dikendalikan Iran di Selat Hormuz.

Kondisi itu menunjukkan adanya perbedaan kepentingan antara para perunding Iran dan unsur militer garis keras di negara tersebut. Di tengah kebuntuan perang, Trump kini disebut hanya memiliki tiga opsi utama.

Pilihan pertama adalah meningkatkan operasi militer terhadap Iran. Kedua, memperketat tekanan ekonomi melalui sanksi. Ketiga, menyatakan misi telah berhasil dan mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik.

Ketiga opsi tersebut telah dibahas dalam sejumlah pertemuan bersama Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine, Jared Kushner, serta utusan khusus Steve Witkoff.

Namun hingga kini belum ada pilihan yang dianggap benar-benar menguntungkan. Bahkan setelah sepanjang pekan memberi sinyal akan melancarkan kembali serangan besar terhadap Iran, Trump pada Jumat akhirnya mengurungkan rencana tersebut.

EDITOR: Estu Suryowati