JawaPos.com - Iran mengumumkan telah menghentikan serangan balasan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat (AS), setelah Washington menghentikan sementara operasi militernya terhadap Teheran selama dua malam terakhir.
Langkah ini menjadi sinyal terbaru bahwa peluang jalur diplomasi kembali terbuka, masih ada, setelah perang yang telah berlangsung hampir lima bulan kembali pecah dalam setidaknya dua pekan terakhir.
Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, Menurutnya, keputusan Iran sepenuhnya didasarkan pada perubahan sikap militer AS yang menghentikan serangan udara ke wilayah Iran.
"Serangan-serangan itu terus berlangsung hingga dua malam lalu, tetapi selama dua malam terakhir Amerika telah menghentikan serangannya," kata Akraminia dikutip Senin (27/7).
Baca Juga: Gubernur BI Sementara Dijabat oleh Deputi Gubernur Senior Usai Perry Warjiyo Mundur
"Karena strategi kami pada dasarnya bersifat balasan, maka kami juga telah menghentikan operasi pembalasan kami," lanjutnya.
Keputusan Iran menghentikan serangan ini terutama berdampak pada kawasan Teluk, termasuk negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Sebelumnya, konflik tidak lagi terbatas di Selat Hormuz, tetapi meluas hingga mencakup serangan terhadap pangkalan militer AS, jalur pelayaran regional, serta negara-negara sekutu Washington di kawasan Teluk.
Penghentian serangan Iran terjadi setelah berbagai laporan menyebutkan pemerintahan Presiden Donald Trump juga menunda operasi militer lanjutan terhadap Teheran.
CNN, mengutip seorang pejabat Pentagon yang tidak disebutkan namanya, melaporkan bahwa operasi militer AS terhadap Iran saat ini ditangguhkan.
Sementara itu, The New York Times menyebut rencana eskalasi serangan ikut tertahan karena mulai menipisnya persediaan rudal pencegat Patriot dan sejumlah sistem pertahanan lainnya.
Laporan tersebut juga menyebut Gedung Putih mempertimbangkan risiko yang lebih besar jika perang terus diperluas, mulai dari potensi konflik regional yang semakin meluas, memburuknya hubungan dengan negara-negara Teluk, hingga dampaknya terhadap perekonomian global.
Menurut CNN, Wakil Presiden JD Vance dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine turut menyampaikan kekhawatiran mengenai risiko eskalasi dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat lalu.
Caine disebut mengatakan kepada Trump bahwa militer mampu menjalankan berbagai opsi yang tersedia, tetapi mengingatkan adanya konsekuensi besar apabila perang terus diperluas.
Baca Juga: Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Ditunjuk Jadi Pejabat Gubernur Sementara BI
Meski operasi militer dihentikan sementara, Presiden Donald Trump belum menutup kemungkinan melanjutkan serangan apabila proses diplomasi gagal.
"Kami sedang berbicara dengan mereka sekarang. Saya pikir mereka semakin serius," ujar Trump kepada wartawan.
Trump kembali menegaskan Iran hanya memiliki dua pilihan, yakni mencapai kesepakatan atau menghadapi serangan dengan intensitas yang jauh lebih besar.
Sebelumnya, Axios melaporkan Pentagon telah menyiapkan rencana serangan untuk malam ke-14 berturut-turut. Namun Trump memilih tidak memberikan persetujuan dan lebih mengutamakan upaya membuka kembali jalur perundingan.
Iran Peringatkan Perang Bisa Meluas Lagi
Di sisi lain, militer Iran menegaskan penghentian serangan bukan berarti ancaman telah berakhir. Teheran memperingatkan konflik dapat kembali meluas apabila AS memutuskan melanjutkan operasi militernya.
Peringatan itu muncul menjelang kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington pada Selasa mendatang, yang diperkirakan turut membahas perkembangan konflik Iran-AS.
Sementara itu, situasi di ibu kota Teheran mulai menunjukkan tanda-tanda normalisasi. Warga kembali menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kemacetan lalu lintas pagi, sementara toko dan restoran tetap beroperasi seperti biasa meski kota tersebut sedang dilanda gelombang panas.
Jeda serangan dari kedua belah pihak kini menjadi peluang terbesar dalam beberapa pekan terakhir bagi dimulainya kembali perundingan, meski ketegangan masih membayangi dan keputusan akhir tetap bergantung pada langkah Washington maupun Teheran.