← Beranda
Houthi Serang Dua Fasilitas Minyak Saudi, Efek Konflik AS-Iran Makin Meluas
Rian AlfiantoMinggu, 26 Juli 2026 | 20.48 WIB
Ilustrasi milisi bersenjata di Yaman, Houthi, yang didukung Iran. (Al-Jazeera)

JawaPos.com - Konflik Timur Tengah memasuki babak yang lebih berbahaya, setelah kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone ke dua fasilitas minyak strategis Arab Saudi di pesisir Laut Merah.

Serangan ini memperluas dampak perang antara Amerika Serikat dan Iran sekaligus meningkatkan ancaman terhadap pasokan energi global.

Target serangan adalah fasilitas milik perusahaan minyak nasional Saudi Aramco di Kota Jizan dan Yanbu.

Hingga Minggu (26/7) waktu setempat, pemerintah Arab Saudi belum memberikan keterangan resmi mengenai tingkat kerusakan yang ditimbulkan, meski kepulan asap tebal dilaporkan terlihat dari kawasan kilang Jizan usai serangan.

Baca Juga: Perang AS-Iran Ancam Perlindungan Paus Bungkuk, Populasi yang Baru Pulih Rentan Lagi

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree menyatakan serangan tersebut merupakan balasan atas operasi udara Arab Saudi terhadap wilayah yang dikuasai Houthi di Kota Hodeidah.

Di Yanbu, yang menjadi pelabuhan ekspor minyak utama Arab Saudi di pantai barat, dua rudal balistik berhasil dicegat menggunakan sistem pertahanan udara Patriot yang dioperasikan militer Yunani berdasarkan kerja sama pertahanan dengan Riyadh.

Konflik Meluas dari Iran ke Arab Saudi

Serangan Houthi terjadi ketika perang antara Amerika Serikat dan Iran mulai merembet ke berbagai kawasan Timur Tengah.

Konflik yang semula dipicu serangan udara Washington bersama Israel terhadap Iran kini memunculkan kembali sejumlah konflik lama yang sebelumnya sempat mereda.

Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi sendiri sebenarnya sempat menurun setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada 2022, Mengakhiri fase paling intens dari perang saudara Yaman yang berlangsung sejak 2015.

Baca Juga: Houthi Serang Arab Saudi dengan Rudal, Konflik Timur Tengah Meluas di Tengah Ancaman Perang Iran-AS

Namun situasi kembali memburuk bulan ini setelah serangan terhadap Bandara Sanaa yang bertujuan menggagalkan pendaratan pesawat Iran. Insiden tersebut memicu Houthi meluncurkan rudal balistik ke wilayah Saudi.

Pekan lalu, Houthi juga mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Riyadh kemudian merespons dengan menggempur Kota Hodeidah, sebelum akhirnya dibalas melalui serangan ke fasilitas minyak Aramco.

Ancaman Baru bagi Jalur Perdagangan Dunia

Eskalasi terbaru ini memunculkan kekhawatiran bahwa Houthi dapat memperluas operasinya hingga menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran penting yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Jika Selat Bab al-Mandeb dan Selat Hormuz sama-sama terganggu, rantai pasok energi dan perdagangan internasional diperkirakan akan mengalami tekanan besar.

Kondisi tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak, mengganggu distribusi berbagai komoditas penting, hingga memperburuk krisis pangan di sejumlah negara yang bergantung pada impor.

Baca Juga: Respons Ancaman Iran, Militer Inggris Siaga Penuh Hadapi Segala Serangan

Sebelumnya, serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz telah menghambat ekspor minyak dan bahan baku pupuk sehingga memicu kenaikan harga energi global.

Serangan Udara AS ke Iran Mendadak Berhenti

Di tengah meningkatnya konflik di kawasan, situasi di Iran justru relatif tenang untuk malam kedua berturut-turut. Tidak ada laporan mengenai serangan udara baru dari Amerika Serikat hingga Minggu pagi.

Sebelumnya, Iran mengalami 13 gelombang serangan udara AS secara berturut-turut sejak 11 Juli setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyerang kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Meski serangan udara berhenti sejak Jumat, sejumlah indikasi menunjukkan komunikasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung melalui mediator.

Seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah AS masih mengedepankan jalur diplomasi.

Baca Juga: IRGC Ancam Serang Pangkalan Militer Inggris jika Dipakai AS Gempur Iran, Sebut London Dalang Konflik Timur Tengah

"Dia selalu jelas bahwa preferensinya adalah diplomasi, tetapi dia telah menunjukkan kepada Iran apa yang akan terjadi jika mereka gagal untuk datang ke meja dengan cara yang serius," kata pejabat tersebut dikutip dari Al-Jazeera.

Trump juga mengkonfirmasi komunikasi dengan Teheran masih berlangsung.
"Mereka sedang berbicara dengan kami sekarang; mereka ingin membuat kesepakatan. Saya tidak berpikir mereka siap untuk ... tapi saya bersedia mendengarkan," ucap Trump.

Iran Akui Masih Bertukar Pesan dengan AS

Laporan Al Jazeera dari Teheran menyebut pemerintah Iran membenarkan adanya pertukaran pesan dengan Amerika Serikat melalui pihak ketiga.

Koresponden Al Jazeera Resul Serdar mengatakan para mediator telah menyampaikan sejumlah usulan kepada Teheran.

"Ada proposal yang disampaikan oleh para mediator, dan Teheran masih meninjaunya," kata Serdar.

Baca Juga: Trump Tawarkan Gencatan Senjata, Iran Menolak Mentah-mentah dan Siap Perluas Perang jika Teheran Diserang

Namun, menurut dia, pembicaraan belum menghasilkan perkembangan berarti.

Diketahui, perang antara Amerika Serikat dan Iran kini tidak hanya memengaruhi kawasan Teluk dan Laut Merah, tetapi juga mulai bersinggungan dengan konflik Rusia-Ukraina.

Iran menuduh Ukraina berada di balik serangan terhadap kapal Iran di Laut Kaspia yang menewaskan seorang pelaut dan melukai satu lainnya.

Pemerintah Iran mengecam insiden tersebut sebagai tindakan 'hostile and criminal' serta memanggil kuasa usaha Ukraina di Teheran.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengklaim pasukannya berhasil menghantam kapal-kapal yang digunakan untuk pengiriman logistik militer yang melibatkan Iran di Laut Kaspia.

Baca Juga: Masih Bertahan Meski Dibombardir, Trump Akui Iran Tangguh dan Cerdas, tapi Tolak Dibilang Lebih Kuat dari Amerika

Dengan konflik yang kini melibatkan semakin banyak aktor dan kawasan strategis, risiko gangguan terhadap perdagangan global, pasokan energi, serta stabilitas ekonomi dunia diperkirakan akan terus meningkat meski peluang diplomasi antara Washington dan Teheran masih terbuka.

EDITOR: Bayu Putra