JawaPos.com - Pemerintah Inggris menegaskan seluruh angkatan bersenjatanya berada dalam kondisi siaga penuh untuk menghadapi segala bentuk ancaman menyusul peringatan yang dilontarkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran terkait penggunaan pangkalan militer Inggris oleh Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara pemerintah Inggris setelah IRGC pada Kamis (23/7) mengancam London atas laporan pengerahan pesawat pengebom Amerika Serikat yang beroperasi dari instalasi militer Inggris.
Langkah itu memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat di tengah situasi keamanan kawasan yang masih memanas.
"Angkatan bersenjata kami siap melindungi Inggris dari segala bentuk serangan, baik di dalam maupun luar negeri. Inggris mempertahankan tingkat kesiapan yang berkelanjutan untuk mempertahankan diri," kata juru bicara pemerintah Inggris dikutip dari IranWire.
Baca Juga: Kian Kompleks! PPATK Ungkap Modus Pencucian Uang Judol Pakai Deepfake dan e-KTP Aspal
Pemerintah Inggris menegaskan kesiapan tersebut bukan hanya sebatas pengerahan personel, tetapi juga didukung sistem pertahanan udara dan rudal yang terintegrasi.
Menurut keterangan yang dikutip Reuters, sistem pertahanan itu menggabungkan kemampuan Royal Navy, Angkatan Darat Inggris, dan Royal Air Force (RAF), serta didukung teknologi pertahanan canggih dan koordinasi erat dengan negara-negara anggota NATO.
"Postur pertahanan ini mencakup sistem pertahanan udara dan rudal berlapis yang menggabungkan kemampuan Royal Navy, Angkatan Darat Inggris, dan Royal Air Force dengan sistem canggih serta integrasi yang erat bersama sekutu NATO," ujar juru bicara tersebut.
Pernyataan London muncul setelah IRGC memperingatkan Inggris terkait dugaan penggunaan pangkalan militer Inggris sebagai lokasi operasi pesawat pengebom Amerika Serikat. Ancaman tersebut menambah daftar ketegangan yang melibatkan Iran dengan negara-negara Barat.
Sebelumnya, pada Maret lalu saat berlangsung perang selama 40 hari yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat, IRGC dilaporkan menargetkan pangkalan udara RAF Akrotiri milik Inggris di Siprus.
Pada periode yang sama, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan pemerintahnya telah menyetujui permintaan Amerika Serikat untuk menggunakan pangkalan militer Inggris dalam operasi yang disebut sebagai misi 'defensif'.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa Inggris terus meningkatkan kesiagaan militernya di tengah meningkatnya risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, terutama setelah munculnya ancaman langsung dari IRGC terhadap kepentingan dan fasilitas militer Inggris.