← Beranda
Iran Berhasil Serang Fasilitas Rahasia CIA di Timur Tengah, AS Curigai Ada Dukungan dari Rusia
Rian AlfiantoJumat, 24 Juli 2026 | 01.33 WIB
Ilustrasi rudal Iran serang pangkalan militer AS di negara teluk. (AFP via Al-Jazeera)

JawaPos.com - Serangan drone Iran yang berhasil menghantam sejumlah fasilitas rahasia CIA di Timur Tengah memicu alarm di kalangan intelijen Amerika Serikat (AS). Para analis kini menyelidiki dugaan kuat bahwa Rusia ikut membantu operasi tersebut, mulai dari penyediaan data penargetan hingga peningkatan teknologi drone yang digunakan Teheran.

Empat sumber yang mengetahui penyelidikan mengatakan komunitas intelijen AS belum mengambil kesimpulan akhir. Namun, tingkat akurasi serangan yang dinilai sangat tinggi membuat dugaan keterlibatan Moskow semakin menguat.

Jika terbukti, hal itu akan menjadi eskalasi serius dalam kerja sama militer Rusia-Iran. Moskow diduga tidak lagi sekadar memasok teknologi persenjataan, tetapi juga membantu Iran menargetkan fasilitas intelijen paling sensitif milik Amerika.

Baca Juga: Kejagung Terbitkan Sprindik Baru Kasus TPPU, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Berstatus Saksi

CIA Selidiki Dugaan Rusia Beri Data Penargetan

Menurut sejumlah sumber, penyelidikan difokuskan pada kemungkinan Rusia memberikan data intelijen untuk membantu Iran menentukan lokasi fasilitas CIA yang menjadi sasaran.

Dikutip dari Reuters, salah satu memo internal badan intelijen Barat bahkan menyimpulkan bahwa Rusia kemungkinan besar berperan dalam penargetan sejumlah fasilitas CIA di kawasan Teluk. Dokumen tersebut diungkap seorang pejabat regional yang memiliki akses terhadap laporan tersebut.

Meski demikian, penyelidikan masih berlangsung dan para analis AS masih mengumpulkan bukti untuk memastikan sejauh mana keterlibatan Rusia dalam operasi tersebut.

Fasilitas CIA di Arab Saudi dan Irak Berhasil Dihantam

Setidaknya dua fasilitas CIA dilaporkan terkena serangan drone Iran pada Maret lalu.

Salah satunya adalah stasiun CIA yang berada di kompleks Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi. Fasilitas lain berada di Irak bagian timur. Beberapa sumber juga mengungkapkan adanya lokasi CIA lain yang ikut menjadi sasaran, tetapi menolak memberikan rincian demi alasan keamanan.

Salah seorang sumber memperkirakan jumlah fasilitas yang terkena serangan lebih dari satu tetapi tidak sampai selusin.

Drone Shahed Diduga Sudah Ditingkatkan Rusia

Dua pejabat Barat di kawasan Teluk mengatakan serangan ke Riyadh dilakukan menggunakan dua drone Shahed Iran yang telah dimodifikasi dengan bantuan teknologi Rusia.

Menurut mereka, drone pertama menghantam bagian luar gedung kedutaan dan menciptakan celah pada titik yang dinilai paling rentan. Drone kedua kemudian masuk melalui lubang tersebut sebelum meledak di dalam area sasaran.

Meski mampu menembus kompleks diplomatik AS, serangan itu tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.

Sumber lain menyebut Rusia juga membantu meningkatkan akurasi drone Shahed-136 dengan memasok sistem navigasi satelit Kometa-M, yang diklaim jauh lebih presisi dan lebih sulit diganggu dibanding sistem navigasi buatan Iran.

Kecurigaan terhadap keterlibatan Rusia semakin meningkat setelah Iran melancarkan serangan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania pada akhir pekan lalu yang menewaskan dua tentara Amerika.

Sejumlah analis meyakini hanya sedikit negara yang memiliki kemampuan teknis sekaligus kepentingan strategis untuk memperoleh informasi mengenai lokasi fasilitas rahasia CIA. Rusia dinilai menjadi kandidat paling mungkin.

Meski begitu, sebagian analis masih membuka kemungkinan bahwa Iran sebenarnya membidik kompleks Kedutaan Besar AS secara umum dan secara kebetulan mengenai stasiun CIA yang berada di dalamnya.

Gedung Putih mengarahkan permintaan komentar kepada CIA. Namun badan intelijen tersebut menolak memberikan tanggapan.

Sementara itu, Misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kementerian Pertahanan Rusia, dan pemerintah Arab Saudi juga belum merespons permintaan komentar terkait laporan tersebut.

Mantan Kepala Stasiun CIA Daniel Hoffman menilai dugaan bantuan Rusia bukan hal yang mengejutkan mengingat hubungan strategis Moskow dan Teheran semakin erat.

"Mereka memiliki kepentingan yang sama untuk mencoba mengurangi atau bahkan menghilangkan pengaruh Amerika Serikat di wilayah yang mereka anggap sebagai lingkup pengaruh masing-masing," kata Hoffman.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah