← Beranda
AS Gempur Iran Lagi, Serang Fasilitas Militer hingga Pulau Strategis Qeshm Usai Dua Tentara Amerika Tewas
Rian AlfiantoSenin, 20 Juli 2026 | 02.56 WIB
Tentara Amerika tewas di Yordania (Foto/Newswires).

JawaPos.com - Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan serangan udara ke Iran pada Minggu (19/7) setelah dua personel militernya tewas dalam serangan balasan Iran di Yordania.

Washington menyatakan operasi terbaru itu bertujuan melemahkan kemampuan militer Teheran sekaligus menghukum Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang dituding berada di balik serangan terhadap pasukan AS.

Serangan tersebut menandai malam kedelapan berturut-turut operasi militer AS di Iran dan kembali meningkatkan eskalasi konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.

Militer AS melalui Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan serangan terbaru dirancang untuk mengurangi kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Dalam pernyataannya di media sosial, CENTCOM menyebut operasi itu juga merupakan respons atas serangan rudal balistik dan drone Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania pada Jumat lalu yang menewaskan dua personel militer Amerika.
Empat personel lainnya dilaporkan harus menjalani perawatan di rumah sakit.

"CENTCOM melancarkan serangan yang dirancang untuk semakin mengurangi kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz," tulis CENTCOM.

Militer AS kemudian menjelaskan sasaran operasi tersebut meliputi fasilitas pengawasan pesisir, sistem pertahanan udara, kemampuan maritim, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone milik Iran.

Iran Sebut Sejumlah Wilayah Diserang

Media Iran melaporkan sejumlah wilayah menjadi sasaran serangan AS, termasuk kawasan dekat Sirik di Provinsi Hormozgan, Pulau Qeshm yang berada di Selat Hormuz, serta lokasi di dekat Shadegan, Provinsi Khuzestan.

Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa akibat serangan terbaru tersebut.

Iran Balas Serang Pangkalan AS di Kuwait

Di sisi lain, Iran mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap dua fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait.

Kantor berita Tasnim melaporkan militer Iran menargetkan gudang amunisi AS di Kamp Al-Adiri serta radar Patriot dan radar udara di Pangkalan Ali Al Salem.

Dalam pernyataannya, militer Iran mengatakan serangan itu dilakukan 'sebagai respons atas agresi musuh yang terus berulang'.

Khamenei Ancam AS dengan 'Pelajaran Tak Terlupakan'

Sebelum gelombang serangan terbaru dimulai, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, kembali memperingatkan Amerika Serikat.

Ia menegaskan Washington akan menerima 'pelajaran yang tak akan pernah dilupakan' apabila terus melanjutkan serangan terhadap wilayah Iran.

Pernyataan tersebut memperlihatkan ketegangan kedua negara masih jauh dari mereda meski sebelumnya telah menandatangani kesepakatan sementara.

Infrastruktur Sipil Ikut Terdampak

Dalam beberapa hari terakhir, serangan AS dilaporkan tidak hanya menyasar instalasi militer, tetapi juga mengenai infrastruktur sipil.

Kantor berita pemerintah IRNA melaporkan fasilitas desalinasi Bonji hancur sehingga pasokan air bersih bagi sekitar 10.000 warga terputus. Selain itu, fasilitas desalinasi di Pulau Qeshm yang memiliki posisi strategis di Selat Hormuz juga mengalami kerusakan.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menuduh Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani kedua negara bulan lalu.

"Amerika Serikat tidak lagi menjalankan ketentuan dalam kesepakatan tersebut," katanya kepada televisi pemerintah Iran.

Dari pihak Iran, otoritas Iran menyatakan sedikitnya 50 orang tewas dan lebih dari 500 lainnya terluka akibat serangan AS dalam tiga pekan terakhir.

Kedutaan Besar Iran di India juga mengungkap identitas dua anak perempuan, Sogand Dardmand dan Fatemeh Zahra Akbari, yang termasuk di antara tujuh korban tewas akibat serangan AS di Bandar Khamir pada Kamis lalu.

Sementara itu, sejak perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, sebanyak 16 personel militer AS dilaporkan tewas dan lebih dari 430 lainnya mengalami luka-luka.

Melaporkan dari Teheran, jurnalis Al Jazeera Tohid Asadi mengatakan delapan malam berturut-turut serangan udara AS telah memicu kemarahan dan frustrasi di tengah masyarakat Iran.

"Orang-orang benar-benar tidak tahu apakah konfrontasi ini akan terus berlanjut, berapa lama akan berlangsung, dan apakah masih ada peluang penyelesaian diplomatik untuk mengakhiri seluruh kompleksitas ini serta menemukan solusi jangka panjang," ujarnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra