JawaPos.com - Iran dilaporkan kembali melancarkan serangan rudal balistik ke sebuah pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Arab Saudi pada Sabtu.
Langkah ini menjadi serangan langsung pertama Teheran ke wilayah Arab Saudi dalam hampir empat bulan, menandai kembali meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah setelah sempat mereda.
Laporan Axios, mengutip seorang pejabat AS, menyebut rudal balistik Iran diarahkan ke pangkalan militer AS yang berada di Arab Saudi.
Hingga kini belum ada informasi resmi mengenai lokasi pangkalan yang menjadi sasaran maupun dampak dari serangan tersebut.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak 4 Persen Imbas Ketegangan AS-Iran yang Memanas di Kawasan Teluk
Insiden ini menjadi serangan pertama Iran ke Arab Saudi sejak fase awal konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel beberapa bulan lalu. Kala itu, Iran juga melancarkan serangan ke target di Arab Saudi sebelum ketegangan sempat mereda melalui upaya diplomasi.
Konflik di Selat Hormuz Kembali Memanas
Serangan rudal terbaru terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.
Menurut laporan Axios, dalam beberapa pekan terakhir AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan militer setelah gencatan senjata yang dimediasi Pakistan runtuh.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas dan menyeret lebih banyak negara di kawasan Teluk.
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran maupun Arab Saudi terkait laporan serangan tersebut.
Baca Juga: AS Perluas Serangan ke Infrastruktur Iran, Teheran Balas Hantam Sekutu Washington di Timur Tengah
Sebelumnya diberitakan, di tengah memanasnya situasi, Tiongkok dan Pakistan kembali menyerukan agar penyelesaian konflik dilakukan melalui jalur diplomasi.
Seruan itu disampaikan dalam pertemuan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi dengan Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar di Shanghai, Kamis.
Kedua negara menyatakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi di Iran dan mendesak seluruh pihak segera menghentikan aksi permusuhan, memulihkan komunikasi, serta kembali ke meja perundingan untuk mencapai kesepakatan damai yang menyeluruh.
Mereka juga meminta komunitas internasional terus memberikan dukungan terhadap berbagai upaya penyelesaian konflik secara damai.
Wang Yi, yang juga anggota Biro Politik Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok, menilai nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tahap pertama antara AS dan Iran merupakan hasil diplomasi yang tidak mudah dicapai.
"Nota kesepahaman tahap pertama yang dicapai antara Amerika Serikat dan Iran tidak diraih dengan mudah. Itu merupakan hasil negosiasi bilateral dan juga berkat upaya bersama komunitas internasional, dengan Pakistan memainkan peran koordinasi dan mediasi yang sangat penting," kata Wang Yi.
Menurut dia, seluruh pihak harus menghormati komitmen yang telah disepakati.
"Semua pihak harus menghormati komitmen mereka dan mematuhi ketentuan dalam MoU. Tiongkok akan, seperti biasa, mendukung upaya mediasi Pakistan dan terus memainkan peran konstruktif dalam membantu meredakan situasi dengan caranya sendiri," ujarnya.
Sementara itu, Mohammad Ishaq Dar mengatakan Pakistan akan tetap melanjutkan berbagai upaya diplomatik meski situasi semakin sulit.
"Pakistan akan terus melangkah menghadapi berbagai tantangan dan tetap aktif mendorong pembicaraan damai," kata Dar.
Baca Juga: Iran Gempur Pangkalan AS di Timur Tengah, Qatar hingga Yordania Siaga
Seruan Tiongkok dan Pakistan tersebut muncul ketika konflik di Timur Tengah kembali menunjukkan tanda-tanda eskalasi.
Kedua negara berharap seluruh pihak menahan diri dan mengedepankan dialog agar ketegangan tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas.