← Beranda
AS Serang Kapal Tanker Minyak di Selat Hormuz, Ketegangan dengan Iran Terancam Meluas Jadi Perang Terbuka
Mellyna Putri DiniarKamis, 16 Juli 2026 | 21.27 WIB
Kapal perang AS dikerahkan kembali dalam blokade laut terhadap Iran di Selat Hormuz, di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara (The Guardian)

 

JawaPos.com - Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan terhadap sebuah kapal tanker minyak komersial berbendera Curaçao di Selat Hormuz saat konflik dengan Iran memasuki hari kelima eskalasi. Kapal tanker yang tidak membawa muatan tersebut dinonaktifkan setelah disebut mengabaikan sejumlah peringatan dari militer AS. 

Serangan itu terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa rangkaian aksi balasan antara Washington dan Teheran dapat berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih luas.

Melansir The Guardian, Kamis (16/7/2026), militer AS menembakkan rudal Hellfire ke bagian cerobong asap kapal tanker tersebut saat kapal komersial itu berupaya menuju Pulau Kharg, salah satu pusat ekspor minyak utama Iran. Washington menyatakan tindakan tersebut merupakan bagian dari penerapan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk menghambat aktivitas yang dinilai mengancam keamanan pelayaran internasional di kawasan strategis tersebut.

Baca Juga: Iran Batalkan Kesepakatan Damai Usai Serangan AS, Teheran Sebut Konflik Jadi Perang Eksistensial

Serangan terhadap kapal tanker itu berlangsung bersamaan dengan gelombang operasi militer AS di wilayah Iran. Pada Rabu malam, Washington menargetkan fasilitas pertahanan pesisir dan lokasi peluncuran rudal Iran. Beberapa jam sebelumnya, serangan lain diarahkan ke tempat penyimpanan serta peluncuran rudal jelajah di Pulau Greater Tunb, wilayah yang berada di sekitar Selat Hormuz.

Selain kawasan pesisir, serangan juga dilaporkan menyasar wilayah utara Iran. Media pemerintah Iran melaporkan adanya serangan terhadap Teheran, sementara sistem pertahanan udara terdengar aktif di ibu kota tersebut pada Kamis dini hari. Sejumlah lokasi lain yang disebut terdampak berada di Ahvaz, Bandar Abbas sebagai kota pelabuhan utama di Selat Hormuz, serta wilayah sekitar Sirik dan Pulau Qeshm di Iran selatan.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke Bahrain dan Kuwait. Hingga kini belum ada laporan langsung mengenai jumlah korban maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut. Namun, pejabat Iran menyebut rangkaian serangan AS dalam beberapa hari terakhir telah menewaskan lebih dari 35 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.

Eskalasi terbaru ini terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata antara kedua pihak tampak runtuh. Situasi tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya perang berskala penuh, terutama karena Selat Hormuz menjadi jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global. Sebelum konflik berlangsung, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab itu menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak serta gas dunia.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengatakan operasi terbaru bertujuan menghancurkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk mengancam kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, AS menyebut selat tersebut sebagai "jalur perairan internasional yang sangat penting bagi perdagangan global."

Ketegangan semakin meningkat setelah Iran menyatakan akan menutup Selat Hormuz pada Sabtu lalu. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kemudian mengancam akan menghentikan seluruh ekspor energi dari kawasan Timur Tengah dengan menyatakan bahwa "ekspor energi regional harus dibagikan oleh semua pihak atau tidak diberikan kepada siapa pun."

Dampak ketegangan itu mulai terlihat pada pasar energi global. Harga minyak mentah Brent, patokan internasional, diperdagangkan di atas 85 dolar AS per barel pada Rabu, meningkat lebih dari 15 persen dibandingkan sebelum perang. Dengan kurs Rp18.090 per dolar AS, harga tersebut setara lebih dari Rp1,5 juta per barel, meski masih berada di bawah level tertinggi hampir 120 dolar AS per barel saat konflik mencapai puncaknya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump kembali menyatakan Iran akan segera mengalami kekalahan. Dalam pernyataannya di Pennsylvania, Trump mengatakan Iran sangat ingin mencapai kesepakatan. Ia sebelumnya juga menyebut negosiator AS telah berkomunikasi dengan pihak Iran dan memperingatkan agar Teheran segera membuat kesepakatan.

Trump bahkan membuka kemungkinan memperluas serangan untuk memaksa pembukaan kembali Selat Hormuz, termasuk ancaman menyerang fasilitas bawah tanah yang dikenal sebagai "Pickaxe Mountain", lokasi yang dikaitkan dengan program nuklir Iran yang masih menjadi kontroversi.

Padahal, beberapa pekan sebelumnya AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman (MOU) yang bertujuan mengakhiri perang dan memulai kembali pembicaraan terkait program nuklir Iran. Namun, negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut hanya dapat berjalan apabila seluruh klausulnya diterapkan.

"Jika Iran tidak memperoleh manfaat apa pun dari nota kesepahaman tersebut, kami tidak memiliki alasan untuk mematuhinya," ujar Ghalibaf. Ia juga menyatakan keamanan Iran bergantung pada pengaturan negaranya sendiri di Selat Hormuz dan menggambarkan situasi saat ini sebagai "perang penting dan eksistensial melawan Amerika."

Di tengah meningkatnya konflik, Trump juga menyebut adanya tanda positif dari hubungan kedua negara. Ia mengatakan Iran telah membebaskan seorang warga negara AS yang sebelumnya ditahan secara tidak sah sejak akhir 2024. Pengacara hak asasi manusia Jared Genser mengidentifikasi warga tersebut sebagai Dena Karari dan mengatakan perempuan itu kini dalam perjalanan kembali ke Amerika Serikat.

Baca Juga: Iran Aktifkan Sistem Pertahanan Udara usai Ledakan Guncang di Sejumlah Wilayah Teheran

EDITOR: Candra Mega Sari