← Beranda
JD Vance Bongkar Borok Zionis Israel, Sebut Ada Upaya Dorong AS Terus Berperang dengan Iran
Rian AlfiantoKamis, 16 Juli 2026 | 20.15 WIB
Wakil Presiden AS JD Vance bersama delegasi tingkat tinggi Iran di pertemuan di Swiss. (ABC News).

 

JawaPos.com - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengungkap tudingan serius terhadap sejumlah pejabat Israel. Ia menilai ada pihak di dalam pemerintahan Israel yang berupaya memengaruhi opini publik Amerika Serikat agar konflik dengan Iran terus berlanjut tanpa batas waktu.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang memicu aksi saling serang di kawasan Timur Tengah serta memperburuk situasi keamanan di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi dunia.

Dalam wawancara di podcast bersama Joe Rogan pada Rabu (15/7), Vance mengatakan pemerintah AS meyakini ada kelompok tertentu di Israel yang berusaha mendorong Washington tetap terlibat dalam perang melawan Iran.

Baca Juga: AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Gempur Fasilitas Militer dan Blokade Pelabuhan

"Ada segelintir orang di sistem (pemerintahan Israel) yang kami yakini tanpa sedikit pun keraguan sedang memanipulasi dan berusaha mengubah opini publik Amerika agar perang [dengan Iran] terus berlanjut tanpa batas waktu," kata Vance dikutip dari ANTARA.

Meski melontarkan kritik tersebut, Vance menegaskan Presiden Donald Trump tetap akan mengambil tindakan militer terhadap Iran berdasarkan kepentingan nasional Amerika Serikat, bukan karena tekanan dari Israel.

Menurutnya, Trump memiliki keyakinan bahwa Iran tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir sehingga operasi militer terhadap Teheran tetap dijalankan.

Baca Juga: Wapres AS Vance: Pejabat Israel Berupaya Perpanjang Konflik dengan Iran

Di sisi lain, laporan Al-Monitor yang mengutip sumber keamanan Israel menyebut pemerintah Israel mulai khawatir pemerintahan Trump mengubah prioritas strateginya.

Washington disebut lebih fokus menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz dibanding melanjutkan upaya menghancurkan program nuklir Iran.
Perubahan fokus tersebut terjadi di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat sejak awal Juli.

Militer Amerika Serikat telah beberapa kali melancarkan serangan terhadap Iran sejak 8 Juli. Pusat Komando Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi itu merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara Timur Tengah, sehingga memperluas ketegangan di kawasan.

Sebelumnya, akhir pekan lalu, pemerintah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga intervensi militer AS di kawasan berakhir. Langkah tersebut diambil setelah gelombang serangan balasan antara kedua negara semakin intensif.

Beberapa hari sebelumnya, tepatnya pada 13 Juli, Presiden Donald Trump juga menyatakan Amerika Serikat akan bertindak sebagai "penjaga" Selat Hormuz sekaligus melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Baca Juga: Teheran Sebut Serangan Terbaru AS ke Iran Tewaskan 30 Warga Sipil

Pernyataan saling berseberangan dari Washington, Teheran, dan Tel Aviv menunjukkan konflik belum mengarah pada penyelesaian.

Sebaliknya, situasi di Timur Tengah masih berpotensi memanas, terutama jika ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut mengingat jalur tersebut merupakan salah satu rute perdagangan minyak paling strategis di dunia.

EDITOR: Banu Adikara